Mengolah Kesukaran di Pesta Tubuh dan Darah Kristus

0
100 views
Ilustrasi (Ist)

KETIKA energi terkuras setelah bekerja selama setengah hari, saya ingin sekali beristirahat. Dan bila perlu dapat menikmati tidur siang yang nyenyak. Namun, dentuman musik yang berasal dari beberapa rumah di sekitar biara telah membuyarkan keinginan tersebut.

Telinga saya terlalu sensitif terhadap keributan.

Ketika keinginan saya dibunuh oleh keadaan yang sulit saya atasi, saya merasa menjadi kurban dari kesenangan para tetangga. Tentu saja mereka membunyikan musik bukan untuk membunuh keinginan saya. Melainkan –sama seperti saya– mereka sedang memaksimalkan kesenangan dan keinginan mereka sendiri.

Kebebasan yang juga terbatas

Walaupun secara etis, kesenangan seseorang tidak boleh diletakkan di dalam penderitaan orang lain. Atau, tidak boleh menyebabkan penderitaan pada orang lain.

Tetapi pada saat ini, saya berada pada kondisi terbatasnya kapasitas dan tidak adanya kewajiban moral untuk melakukan sesuatu yang saya sendiri tidak mampu lakukan. Yakni, untuk pergi menegur tetangga saya dan meminta mereka untuk mengecilkan volume musik.

Juga, walaupun kesenangan dan keinginan tidak dapat dikalkulasi, barangkali keinginan  tetangga saya jauh lebih penting untuk dipenuhi. Karena, tidak setiap hari mereka membunyikan musik semelengking itu.

Sebaliknya, saya masih dapat memenuhi kesenangan dan keinginan saya pada sore yang lain.

Solider

Alasan yang mengharuskan saya untuk bersolider dengan mereka, dan dengan itu saya harus menyesuaikan diri ialah karena sesungguhnya mereka sedang membahagikan putera-puteri kesayangan mereka yang akan menerima komuni kudus.  

Akhirnya, daripada membuat kalkulasi moral dan etika terhadap fakta sosial dari hidup bertetangga, dan bergulat tentang sesuatu yang mustahil diatasi, lebih baik saya bangun. Lalu menikmati setiap lagu dan musik yang dibunyikan dari tenda pesta, sambil membaca buku.

Apa yang terjadi?

Sore ini saya berhasil menuntaskan karya penting Umberto Eco: The Name of The Rose.

Demikianlah contoh seni mengolah kesukaran. Kita dipaksa untuk menghadapinya dengan tegar dan dengan konsekuensi harus menanggung risiko, atau untuk menghindari, menjauhi, menolak, dan mengutukinya.

Pilihan kita akan menentukan martabat kemanusiaan kita.

Pesta Tubuh dan Darah Kristus

Pesta Tubuh dan Darah Kristus yang kita rayakan hari ini tidak pernah dapat dilihat sebagai sesuatu yang terpisah dari keadaan atau kondisi eksistensial seperti yang saya alami sore kemarin.

Bila kita membawa diri kita yang terbeban, dan membawa juga upaya kita yang maksimal untuk menghadapi kesukaran, kita sungguh dijiwai oleh Tubuh dan Darah Kristus yang bersemayam di dalam diri kita.

Sayangnya banyak orang menjadikan Ekaristi sebagai suatu cara untuk menghindari diri yang terbeban dan menjauhi rasa sakit. Bagi Kristus, rasa sakit adalah kenyataan yang dihadapi, dan Ia menghadapinya dalam penderitaan-Nya.

Ia meminta kita merayakan Ekaristi, “Lakukanlah ini untuk mengenang Aku”. Untuk mengenang sekaligus menghadirkan kembali Dia sebagai pribadi yang menjalani penderitaan menuju kemuliaan.

Selamat merayakan pesta sambut baru bagi putera-puteri Kristus di Keuskupan Maumere.

Selamat membunyikan musik, memaksimalkan kesenangan dan keinginan yang langkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here