Meninggalkan Kenyamanan demi Cinta

0
389 views
Ilustrasi: Anak desa naiki punggung kerbau dan bermain seruling. (Flickr)

Kamis, 12 Mei 2022

  • Kis. 13:13-25.
  • Mzm. 89:2-3,21-22,25,27.
  • Yoh. 13:16-20.

CINTA hanya dapat dipahami jika aktif, tidak menunggu apalagi menuntut untuk diri sendiri.

Semasih orang mau melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain atau orang yang dicintai, seberat apa pun kondisi kehidupan kita akan bisa dijalani.

Cinta mentok ketika orang menjadi dingin, apatis dan tidak mau tahu dengan kondisi dan situasi orang lain.

Tuhan telah menunjukkan kepad para murid-Nya, cinta itu bukanlah menjaga, meningkatkan, atau mempertahankan harga diri atau status. Melainkan rela melakukan pekerjaan yang teramat hina yang hanya budak boleh melakukannya yakni mencuci kaki.

Maka para murid-Nya pun selaku hamba dan utusan, harus rela melakukan hal yang sama. Murid yang melakukannya adalah murid yang berbahagia.

“Mbak, tidak syok ikut mas pindah dari kota besar untuk tinggal di kampung yang sepi ini,” kata seorang adik kepada kakak iparnya.

“Di kota segalanya ada, dan semuanya serba rapi dan bersih, sedangkan di kampung ini, kondisinya jauh berbeda,” lanjutnya.

“Ketika saya memilih abangmu, saya menyadari bahwa kondisi seperti ini kemungkinan besar akan saya terjadi. Maka ini tidak mengagetkanku dan ini menjadi bagian dari pengurbananku dalam mencintai abangmu,” jawab kakaknya.

“Jika saya menuntut abangmu tetap di kota hanya demi memenuhi kemauan dan kenyamananku, maka akulah orang yang egois,” lanjutnya.

“Tetapi Mbak, apakah tidak sayang meninggalkan pekerjaan yang di kota,” sahut adiknya.

“Itu sudah kami bicarakan dengan abangmu, saya baru melepas pekerjaan setelah abangmu menyakinkanku soal masa depan dan peluang yang bisa diraih di tempat ini,” jawab kakaknya.

“Cinta itu perlu pengorbanan dan kita hanya dapat berkurban, jika kita rendah hati menghargai cita-cita dan ide serta perjuangan pasangan kita demi mengutamakan kepentingan bersama,” ujarnya.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dengar demikian,

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.

Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”

Di tengah situasi yang mengundang kita untuk melayani tanpa kenal henti, kita diingatkan bahwa pelayanan hanya bisa berlangsung baik jika kita melakukannya dengan rendah hati.

Kebahagian kita, sebagai seorang pribadi akan terasa dalam jika kita bisa menimba semangat pelayanan dari Tuhan Yesus yakni pelayanan yang penuh rendah hati.

Bersama Bunda Maria, marilah kita berdoa kepada Kristus, agar Ia menganugerahkan kepada kita kesanggupan untuk melayani sampai akhir hayat.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah saya punya komitmen untuk melayani sampai akhir hidup?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here