Menjadi Katolik tak Mesti Jadi Yahudi

0
211 views
Ilustrasi - Pertikaian di antara Jemaat Perdana. (ist)

Bacaan 1: Kis 15:1 – 6
Injil: Yoh 15:1 – 8

SEBUAH konsekuensi harus dihadapi oleh para rasul waktu itu, setelah kematian-Nya.

Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyebarkan ajaran-Nya hingga ke ujung bumi (Mat 28:19-20; Mrk 16:15-16), sebelum kenaikan-Nya ke surga tanpa memberi tahu bagaimana caranya.

Perintah Yesus itu memiliki konsekuensi adanya inkulturasi terhadap budaya-budaya setempat di mana ajaran-Nya disampaikan oleh para murid-Nya.

Berdasarkan Kitab Suci, Injil memang pertama-tama diturunkan kepada bangsa Yahudi. Mereka telah ditetapkan Allah menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain.

Kotbah Rasul Paulus di sidang Aeropagus Athena mungkin menjadi proses inkulturasi yang pertama meski kotbah itu ditolak.

Beberapa orang Kristen Yahudi datang ke Antiokhia mengajarkan bagaimana menjadi Kristen. Yaitu harus mengikuti adat Yahudi.

Mereka menganggap Kristen adalah sekte Yahudi, sehingga harus mengikuti aturan Yahudi terutama Hukum Taurat.

Hal ini ditentang oleh Paulus dan Barnabas, timbul pertikaian hebat sehingga sepakat untuk membawa masalah ini ke Yerusalem.

Antiokhia Syria adalah pusat Kristen non Yahudi saat itu.

Orang-orang Kristen Farisi menuntut bangsa-bangsa lain disunat dan mengikuti aturan Taurat.

“Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.”

Sebagai orang Katolik, kita percaya (mengimani) bahwa karena kasih karunia (pengampunan dosa) maka kita diselamatkan. Bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Ef 2:8).

Sebab jika tidak demikian maka sia-sialah kematian Kristus di kayu salib.

Bapa Abraham diberikan janji-Nya bukan karena Taurat atau sunat namun karena imannya.

Jikalau kita mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat maka kita lepas dari Kristus, hidup di luar kasih karunia (Gal 5:4).

Tuhan Yesus sendiri mengatakan hal itu,

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Sejak Perjanjian Baru, Taurat bukan lagi sebagai hukum orang Kristen; namun sebagai Kitab Suci.

Pesan hari ini

Menjadi Katolik tidak harus jadi Yahudi dengan melaksanakan seluruh Hukum Taurat. Kasih karunia-Nya lah (pengampunan) yang memungkinkan setiap orang percaya memperoleh keselamatan hidup kekal dan kekayaan rohani yang berasal dari Allah.

“Kebenaran yang tidak dimengerti dapat menjadi kesalahan. Tetaplah pakai maskermu dan jaga jarakmu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here