Menjadi Manusia Utuh

0
586 views
Hati-Nya tergerak oleh belas kasih, by Vatican News.

SIAPAKAH yang ingin hidupnya terpecah? Adakah keluarga yang merancang agar menjadi berantakan? Negara mana yang ingin mengalami disintegrasi?

Tidak ada. Semua ingin merasa utuh.

Utuh, bulat dan satu menyangkut kondisi jasmani dan rohani. “Mens sana in corpore sano” (Jiwa yang sehat terletak di dalam badan yang sehat).

Jiwa dan raga itu satu kesatuan. Itulah sehat dalam arti sebenarnya.

Siapa yang bertanggungjawab membangun dan menjaga kesehatan dirinya? Orang yang bersangkutan.

Bagaimana caranya?

Salah satu jalan yang membuat seseorang tetap sehat adalah mencintai. Di sana orang mengalami ketenangan dan kebahagiaan. Buah berikutnya hidup sehat rohani-jasmani.

Bukan kebetulan bahwa hukum tertinggi dalam hidup manusia adalah kasih. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.

Pasien yang dirawat dengan penuh kasih akan lebih cepat sembuh daripada yang dirawat oleh petugas kesehatan bermental pegawai; kerja karena gaji.

Murid yang dikasihi oleh gurunya krasan tinggal dan belajar di sekolah.

Karena kasih itu membuat sehat dan utuh, dia tidak mengenal diskriminasi dan eksklusivitas. Tiada lawan; apalagi musuh.

Sang Guru Kehidupan menantang:

“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?

Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Mat 5: 46-48).

Mereka yang memahami ajaran ini dan siap melaksanakannya akan mengalami hidup yang utuh, sehat, damai, bahagia dan tenteram.

Sayangnya, banyak yang sulit mewujudkannya. Jangan heran, banyak orang yang sakit dan terpecah hidupnya. Tidak utuh.

Sabtu, 12 Maret 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here