Menjadi Pastor Siap Tanggap Hadapi Situasi Darurat

0
365 views
Romo Cahyo Koko Handoko Pr imam diosesan KAS saat bertugas menjadi pastor paroki di Wasior, Manokwari, Papua Barat. (Ist)

OKTOBER 2010 banjir bandang terjadi di Wasior, Manokwari, Papua. Peristiwa alam yang menelan banyak korban dan kerusakan berat dialami warga masyarakat setempat.

Peristiwa bencana alam ini menjadi pengalaman yang mengesan bagi Romo Koko setelah dua tahun bertugas di Manokwari sebagai Romo Paroki. Turut ambil bagian dalam penanganan bencana sebagai relawan.

Romo Koko memiliki nama lengkap Fransiskus Cahyo Handoko, imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang asal Dusun Trunuh – Paroki Wedi, Klaten.

Pengutusannya  di Papua terjadi tahun 2008. Saat terjadi peristiwa alam besar, banjir bandang menerjang Wasior, Romo Koko berkarya di Paroki Sang Gembala Baik, Masni, Manokwari.

Menerima informasi dan ambil bagian

Informasi peristiwa alam ini ditanggapi oleh Tim Pastoral Wilayah. Kemudian menindaklanjuti dengan  memberikan informasi berupa ajakan keterlibatan masing-masing paroki untuk berperan serta membantu masyarakat Wasior.

Umat diajak untuk mengirimkan kaum muda untuk menjadi relawan di tempat kejadian.

Romo Koko menyambut ajakan Tim Pastoral Wilayah dengan mengutus beberapa orang. Sehingga bisa membawa nama paroki. Bahwa Paroki Sang Gembala Baik turut ambil bagian dalam misi kemanusiaan di Wasior.

Banyak pihak yang turut serta membantu masyarakat korban banjir bandang di Wasior. Di luar Papua pun turut berbela rasa.

Tim Karina dari Jakarta -bagian dari Tim Karina Semarang juga- datang dan mengajak Romo Koko untuk ambil bagian misi kemanusiaan ini. Tim Karina memberi pilihan kepada Romo Koko untuk memilih bagian kerja. Karena banyak hal yang perlu dikerjakan untuk menolong warga yang terdampak banjir bandang maka dibagi dalam bidang kerja.

Romo Koko memilih bagian kerja mengecek. Bagian kerja ini harus terjun ke tempat kejadian. Melihat apakah bantuan-bantuan yang diberikan sudah sampai atau belum untuk mereka. Dan mengevaluasi proses kerja di daerah yang terdampak.

“Dan sungguh saat itu, ya antara ngeri, antara senang ikut terliba, antara was-was karena saya tidak bisa berenang padahal harus melalui Teluk Wondama yang sangat luas itu. Maka ini menjadi sesuatu yang menegangkan bagi saya. Menakutkan tetapi juga menantang,” sharing Romo Koko

Pengaruh yang membangun

Setelah mengalami kejadian itu, Romo Koko dilibatkan dan terlibat dalam pelatihan-pelatihan bagaimana memahami daerah-daerah atau wilayah Indonesia yang rawan bencana. Dalam pelatihan-pelatihan yang diikuti, Romo Koko memperoleh wawasan tentang bagaimana membuka hati untuk peka dan tanggap. Bagaiman bila bencana itu terjadi di tempat-tempat yang terdekat. Hal-hal apa yang dapat dilakukan.

“Apalagi saya sebagai salah satu pimpinanlah, katakanlah di sebuah tempat. Paroki, begitu. Pasti tidak bisa tinggal diam. Bagaimana juga diajak untuk tergerak dan menggerakkan,” tuturnya.

Melalui peristiwa itu memberi pengaruh tersendiri bagi Romo Koko.

“Ketika ada terjadi bencana-bencana atau peristiwa-peristiwa yang mengerikan misalnya terus ada sesuatu yang membuat kita miris, bencana-bencana seperti itu, lalu kita mau bikin apa. Apa yang bisa kita buat?,” jelasnya.

Menjadikan diri bermakna

Pengalaman menghadapi bencana besar yang menyebabkan banyak kerugian dan memberi pemandangan yang mengerikan menjadi pengalaman yang mengesan bagi Romo Koko.

Menjadikannya tertantang menjalani hidup panggilan sebagai imam. Pengalaman itu dijadikan sebagai peluang untuk menjadikan diri bermakna. Bisa membantu sesama dan merasa lebih berharga karena berguna bagi orang lain. Inilah buah dari kehidupan yang ia jalani.

Melihat dengan teliti

Situasi yang tidak nyaman dalam peristiwa yang dialami membuat Romo Koko tetap bertahan. Semangat tidak surut. Justru sebagai pelecut bagi dirinya untuk berbakti. Melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain.  

Melihat situasi dan mempelajari kondisi yang terjadi di tempat baru adalah hal rutin bagi siapa pun memasuki tempat yang baru.

Begitu juga dengan Romo Koko. Melihat secara teliti bagaimana paroki itu tersiapkan.Hal pertama yang diperhatikan tentang kumpulan orang atau perangkat  tanggap darurat.

Upaya mencari jalan keluar

Maka seperti di tempatsaat ini Romo Koko bertugas. Paroki Petrus dan Paulus Kelor di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Romo Koko mengantisipasi dengan dana tanggap darurat dan bagaimana hal itu diupayakan.

Pada tahun lalu telah dimulai pembentukan relawan. Dengan mengajak bapak-bapak dan ibu-ibu muda untuk terlibat. Sedangkan untuk OMK belum begitu tergerak terlibat dalam kegiatan ini.

Romo Koko selalu hadir dalam setiap kegiatan yang dilakukan kelompok ini. Sebagai bentuk menyemangati mereka.

Pengalaman bertugas di tempat lama memberi semangat baginya. Memang bencana-bencana di Jawa tidak separah di Wasior. Tapi akan selalu ada bencana. Seperti bencana kekeringan di Gunung Kidul, seperti di Tobong, Ngawen dan Sumberan, Ponjong.

Romo mengupayakan bagaimana bisa membantu dengan membuatkan sumur bor melalui dana-dana paroki, menggalang dana dari kevikepan, dari KWI dan sebagainya. Meski kecil, tidak terlihat dan belum banyak tempat yang memiliki sumur bor. Tetapi paling tidak bisa mengawali kebaikan.

Berharap dan berupaya agar sumur bisa dikembangkan di tempat-tempat lain yang memerlukan. Sehingga lebih luas cakupan bantuannya.

Mengusahakan kehidupan bagi sesama adalah penting. Melakukan hal yang sederhana untuk sesama merupakan wujud menjadikan manusia yang bermartabat.

Seperti dalam kisah orang Samaria dalam Injil Lukas 10:25-37. Membawa orang lain menemukan dan memiliki kehidupannya. Meskipun dalam mengusahakannya menuntut pengorbanan dan perjuangan yang tidak mudah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here