Menjadi Pelopor Pendidikan Berbasis Nilai Spiritualitas SFD dan Berbudaya (1)

2
382 views
Seabad keberadaan dan sejarah karya Kongregasi Suster Fransiskus Dina (SFD) di Indonesia. (SFD)

“Hendaknya tarekat-tarekat religius yang mempunyai perutusan khas di bidang pendidikan, dengan setia mempertahankan perutusannya itu dan mencurahkan segala tenaganya di bidang pendidikan katolik, juga melalui sekolah-sekolah yang mereka dirikan dengan persetujuan Uskup diosesan.” KHK no. 801.

INI perkara intentio recta Kongregasi SFD Indonesia.Kisahnya demikian ini. Tahun 2023 merupakan tahun rahmat bagi Kongregasi Suster Fransiskus Dina (SFD). Karena keberadaan SFD di Indonesia genap merangkai usia 100 tahun.

Tetapi sebenarnya tidak hanya itu saja. Karena di tahun 2023 ini pula, Yayasan Setia Medan milik Kongregasi SFD juga merangkai usia genap 60 tahun. Yayasan Setia Medan bergerak di bidang layanan pendidikan formal: sekolah. Keberadaan sekolah-sekolah di bawah yayasan ini lebih banyak di wilayah Provinsi Sumatera Utara.

Karena itu, perayaan HUT ke-100 keberadaan Kongregasi Suster SFD menjadi kesempatan bagi segenap anggota tarekat religius suster biarawati ini untuk berefleksi kembali. Mengenai visi dan misi yayasan dan karya pendidikan yang diampunya. Juga melihat kembali motivasi awal di mana para suster misionaris SFD generasi pertama datang ke Indonesia satu abad silam. Tidak lain karena mereka ingin berkarya di bidang pendidikan formal.

Kisah sejarah tahun 1923

Pada tahun 1923 silam, Kongregasi SFD Negeri Belanda langsung memberi respon positif. Juga dilakukan dengan sepenuh hati dan jiwa terbuka. Untuk menjawab permintaan Mgr. Liberatus Cluts yang waktu itu menjabat Prefektur Apostolik Sumatera dan berkedudukan di Padang, Sumatera Barat. Permintaan beliau jelas yakni agar Kongregasi SFD Nederland bersedia mengirim sejumlah susternya menjadi tenaga misionarisnya ke Hindia-Belanda (baca: Indonesia).

Atas permintaan tersebut, Kongregasi SFD menjawab “ya” dan langsung bersiap akan segera mengirim para suster misionarisnya ke Tanah Misi. Dilakukan dengan sepenuh hati; melalui jalan kemiskinan, ketaatan, kemurnian, pengabdian, dan pengurbanan.

Semua itu dijalaninya untuk menanggapi panggilan karya kerasulan tersebut.

Mengusung semangat“In providentia et humilitate Dei” yang artinya “dalam penyelenggaraan dan kerendahan Allah”. Semangat dasar inilah yang sejak awal menjadi spirit para suster misionaris SFD dalam mengemban tugas pengutusan berkarya di Tanah Misi Hindia-Belanda.

Itu pula yang intentio recta (maksud asali “tegak lurus”) yang selalu mengisi relung-relung hati para suster misionaris SFD ketika akhirnya mereka pergi bermisi ke Indonesia. (Berlanjut)

Baca juga:

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here