Menulis = Memelihara P,E,S,I,M,I,S,M,E (1)

0
1,134 views

Menulis itu Susah” (Mathias Hariyadi1, 2012)

PESIMISME ini sebelumnya selalu menghantui benak kami, semua anggota Alumni Bhumiksara  Tahun 2005. Ada keinginan untuk membuat gerakan, membagi pengetahuan, dan menjadi pewarta. Panggung dan segala properti sudah siap, kami punya web www.albhum2005.com sebagai panggungnya dan segala isu sehari-hari sebagai propertinya.

Tapi, kami, the actors and the actresses ini, tengah diterjang kegalauan yang amat dashyat. Kami tidak bisa menulis.

Kami pesimis  akan kemampuan kami dalam menulis.

Pesimisme kami sungguh merajalela sehingga kami merasa butuh untuk dilatih. Maka, di hari Minggu2 yang harusnya jadi hari tidur berjamaah itu, kami malah ingin  berkumpul. Berkumpul untuk dilatih. Dilatih untuk menulis. DIlatih untuk memelihara  pesimisme dari kacamata yang berbeda.

Menulis: waktu, mau, insentif

DI tengah pesimisme  kami, saya mencoba mengkritisi keadaan ini.

Apa betul kami ini tidak bisa menulis? Kalau saya memang tidak bisa. Tapi bagaimana dengan teman-teman saya ini?

Sungguh, saya justru jadi  pesimis dan jiper sendiri kalau teman-teman merasa tidak bisa menulis. Coba tengok ke dalam Sekretariat Bhumiksara. Berpuluh-puluh skripsi beraneka jenis jilidan nongkrong dengan rapi di rak.

Coba login ke twitter. Paling tidak setiap 3 menit sekali pasti ada kicauan baru dari teman-teman Bhumiksara nongol di timeline. Bahkan, coba baca Sesawi.Net dan Majalah Hidup, pasti pernah ada nama teman-teman Bhumiksara yang jadi kontributor di situ.

Kawan, kalian ini sungguh sangat berbakat menulis. Bukan hanya berbakat, kalian bisa menulis, dan tanpa kalian sadari, kalian sangat  produktif  menulis!

Bagi saya, menulis itu bukan soal kemampuan, karena sejatinya kemampuan itu bisa dilatih. Tapi, untuk latihan itu butuh waktu. Dan yang lebih mendasar lagi adalah, kemauan. Untuk menimbulkan kemauan melakukan sesuatu, di antaranya adalah menulis, saya harus tahu dengan jelas apa tujuannya, apa insentif buat saya untuk melakukan itu. Insentif di sini bukan soal value of money tapi apa yang saya dapatkan kalau saya melakukan itu. (Bersambung)

Photo credit: Workshop Pelatihan Menulis Artikel Opini (Royani Lim)

Tautan: http://albhum2005.com/?p=835

Artikel terkait:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here