Menyambut Kedatangan Anak Manusia

0
465 views
Ilustrasi: Masa Adven. (Ist)

Minggu, 27 November 2022

  • Yes. 2:1-5.
  • Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9.
  • Rm. 13:11-14a.
  • Mat. 24:37-44.

MENDADANI diri menjadi pribadi yang baik dan unggul, menjadi syarat dalam menyambut kedatangan Anak Manusia.

Tuhan menghendaki agar kita memiliki kehidupan yang benar dan tidak hidup dalam pesta pora dan kemabukan.

Tuhan mencari orang-orang yang taat dan setia serta hidup tidak bercela.

Tuhan menjadikan mereka yang taat dan setia sebagai kesukaan hati-Nya.

Inilah yang paling dicari Tuhan di akhir zaman ini. Bukan orang-orang yang hidup dalam kefasikan dan kesuaman.

Terhadap orang yang suam-suam kuku, Tuhan dengan sangat keras berkata, “Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku”.

“Saya benar-benar menyesal telah menutup mata hatiku terhadap kesusahan saudaraku,” kata seorang bapak.

“Saya tidak menyangka bahwa saudaraku benar-benar sakit dan membutuhkan pertolonganku,” ujarnya.

“Saya menjadi keras hati karena saudaraku sering bohong dan tidak jujur denganku, hingga akhirnya saya memutuskan untuk memberi pelajaran padanya, dengan tidak memberi perhatian padanya,” urainya.

“Sebulan yang lalu dia datang ke rumah untuk pinjam uang, namun saya tidak memberi karena setiap kali diberi pinjam habis untuk hal-hal yang tidak berguna,” lanjutnya.

“Ternyata itu menjadi komunikasi yang terakhir, karena kemudian saya menerima kabar adikku dirawat di rumah sakit ini,” ujarnya.

“Saya kecolongan, seandainya saja saya lebih terbuka dan tidak menutup hati, mungkin adikku tidak menderita seperti saat ini,” imbuhnya.

“Semoga kami masih diberi kesempatan untuk saling mengampuni, saling meneguhkan jalan hidup yang kami tempuh, serta saling menolong,” tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian.

“Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.

Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Kesiapsediaan itu ditunjukkan dalam kewaspadaan akan kenyataan hidup yang tengah kita jalani ini, hanyalah hidup sementara. Kewaspadaan itu menuntut kita berpaut hanya pada kehendak Tuhan.

Dengan sadar menolak cara-cara hidup yang tidak benar dan berjuang menyangkali diri setiap hari.

Menjadi orang yang siap sedia itu juga mewarnai hati dengan berserah pada kehendak Tuhan secara total.

Namun bila kita menyia-nyiakan kesempatan, kelak kita akan menyesal karena setiap ketaatan selalu mendatangkan upah yaitu kehidupan kekal.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah yang telah aku siapkan untuk menyambut Tuhan dalam hidupku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here