Home KITAB SUCI & RENUNGAN HARIAN Renungan Harian Menyambut Seorang Anak, Menyambut Sebuah Janji

Menyambut Seorang Anak, Menyambut Sebuah Janji

0
Ilustrasi: Ibu dan anaknya. (Ist)

Sabtu, 25 Mei 2024

Yak. 5:13-20;
Mzm. 141:1-2,3.8;
Mrk. 10:13-16

ANAK adalah anugerah Tuhan. Itulah mengapa, pekerjaan mengasuh dan membesarkan anak yang dijalani orangtua merupakan tugas yang sungguh mulia.

Menjadi orangtua adalah tanggungjawab terbesar yang dapat diambil seseorang. Masa depan anak-anak kita ada di tangan kita, dan itu adalah pekerjaan besar. Orangtua harus merawat emosi sang anak, memahami mereka, dan memberi mereka nilai-nilai yang benar sejak usia dini.

Perjalanannya sulit, tetapi luar biasa dan setimpal. Ketika kita melihat buah hati kita tumbuh menjadi menggemaskan, perhatian, bijaksana, dan bertanggung jawab, kita merasa puas dengan tanggungjawab yang kita pikul.

Cinta orangtua kepada anak berlangsung sepanjang hayat. Hal itu karena hubungan orang tua-anak adalah satu di antara ikatan paling istimewa yang ada di muka bumi ini.

Bagi para orangtua, ada banyak cara untuk mengungkapkan cinta dan kasih mereka kepada sang buah hati. Selain dengan tindakan, kata-kata menjadi satu di antaranya.

“Saya bersyukur kepada Tuhan, Setelah penantian panjang, Tuhan menganugerahi seorang anak dalam keluarga kami,” kata seorang bapak.

“Dua belas tahun, kami merindukan anak. Segala cara telah kami tempuh namun setelah kami menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan, kemurahan Tuhan terulur dalam kehidupan kami.

Kehadiran anak kami telah mengubah hidup kami, dan cara kami berdoa. Kami semakin yakin bahwa doa itu bukan untuk memenuhi kemauan kami namun menerima kehendak Tuhan dalam hidup kami.

Dalam waktu-waktu penantian dulu, kami selalu mendorong dan meminta pada Tuhan supaya apa yang kami mau terwujud. Setelah sepuluh tahun kami mengubah doa kami, kami ingin menerima kehendak Tuhan, kami mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami bisa memilih dan menjalani kehendak Tuhan dalam hidup kami,” pacarnya

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”

Menyambut seorang kanak-kanak berarti menyambut sebuah janji. Seorang anak tumbuh dan berkembang. Dalam hal yang sama, Kerajaan Allah di bumi bukanlah sebuah kenyataan yang sudah lengkap terjadi tapi justru merupakan sebuah janji, sebuah dinamisme dan proses perkembangan yang sedang terjadi.

Dan kanak-kanak sungguh tak terduga. Dalam Injil, mereka datang di saat yang mereka inginkan dan datang pada saat di mana para murid tidak menginginkannya. Namun Yesus menekankan bahwa mereka harus disambut sebagaimana adanya mereka.

Di saat yang sama, kita harus menyambut kehadiran Allah saat kehadiran Allah menampakkan diri, baik di saat yang tepat atau tidak. Kita harus memainkan permainan ini. Menyambut Kerajaan Allah sebagaimana kita menyambut seorang kanak-kanak bermakna senantiasa berjaga-jaga dan berdoa agar kita dapat menyambutnya saat Kerajaan Allah datang. Kerajaan Allah datang tak terduga, baik dalam kesempatan yang baik atau tidak.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku mempunyai perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak, orang kecil serta mereka yang tak berdaya?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version