Menyangkal Diri, Memilih Kristus

0
398 views
Ilustrasi: Ia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Aku by National Catholic Reporter

Kamis, 3 Maret 2022

  • Ul. 30:15-20.
  • Mzm: 1:1-2.3.4.6.
  • Luk. 9:22-25

KITA selalu berjuang untuk mencapai kehidupan yang mapan dan diwarnai oleh rasa aman serta nyaman.

Kita berusaha sekuat tenaga mengejar harta kekayaaan yang sering kita anggap dapat mengantar kita mencapai kebahagiaan dan keselamatan nyawa kita.

Akan tetapi dalam pengalaman banyak orang bukankah justru sebaliknya. Apa yang kita capai tidak sebanding dengan apa yang kita korbankan,

“Kita rela kerja siang malam bahkan rela mengorbankan kesehatan kita demi uang dan ironinya kita juga yang menghabiskan uang demi kesehatan kita,” kata seorang bapak.

“Kita menganggap dengan memenuhi segala keinginan membuat hidup kita bahagia penuh sukacita, dan kepuasaan,” lanjutnya.

“Fakta ternyata berbicara sebaliknya. Kita yang terobsesi mengejar keinginan terjebak ke dalam berbagai penderitaan, kecemasan, ketakutan, bahkan kesepian,” ujarnya lagi.

“Penyesalanku adalah saya terlalu egois hingga saya kehilangan kehangatan persaudaraan,” ujarnya.

“Gara-gara warisan tanah dan sawah, saya berkonflik dengan adik-adikku,” katanya.

“Saat ini apa yang aku perjuangkan hingga berseteru dengan adik-adik, menjadi sia-sia,” lanjutnya.

“Anak-anakku setelah besar menikah dan punya rumah di tempat jauh bersama isteri atau suaminya,” sambungnya lagi.

“Mereka tidak mau pulang dan tinggal di rumah, hingga kebun dan pekarangan tidak ada yang mengurus. Malahan mereka meminta saya memberikan kepada saudara lain yang lebih membutuhkan,” ujarnya.

“Rasanya sedih sekali karena apa yang aku perjuangkan hingga harus bertengkar dengan adik-adikku sama sekali tidak dihargai oleh anak-anakku,” katanya lagi

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya  karena Aku, ia akan menyelamatkannya. 

 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?.”

Hidup adalah sebuah pilihan, dan pilihan itu akan menjadi tepat jika hati nurani bening dan pikiran jernih.

Dengan itu, pilihan akan menjadi sebuah kehidupan yang membahagiakan bukan justru menjadi sumber penyesalan karena yang kita lakukan sepanjang hidup seakan sia-sia.

Pilihan yang tepat akan membawa kebahagiaan Walalupun umur pendek tetap memiliki nilai yang bersifat abadi maka semuanya menjadi kekal, dan dikenang sebagai orang baik.

Tetapi walaupun umur panjang dan memiliki seluruh dunia, jika memilih jalan kejahatan semuanya menjadi tak bernilai.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku sudah memilih yang baik sambil terus memperjuangkan kebenaran dan keadilan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here