Menyiapkan Perkawinan dengan Bahagia

0
228 views
Ilustrasi - (Ist)

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Senin, 18 Oktober 2021.

Tema: Setetes embun surga.

  • 2 Tim. 4: 10-17b
  • Luk. 10: 1-9.

CINTA itu mempesona. Jembatan dunia dan surga. Ia menyelimuti hati dalam kasih ilahi.

Ia begitu berharga tak memandang rupa. Ia adalah benih kehidupan abadi dalam rupa yang manusiawi.

Cinta manusiawi secara eksklusif menyatukan dua pribadi dalam kebersamaan. Sebuah perjalanan dan pergumulan bersama yang tiada henti menuju kesempurnaan.

Mereka dapat menjadi cermin kasih Allah satu bagi yang lain. Di mana ada cinta Tuhan ada.

Laki-laki dan perempuan menyatu-kuduskan hidup dalam perkawinan. Lewat kegembiraan, kelegaan, kesedihan -bahkan penderitaan- keindahan hidup terlukis;  kehangatan persahabatan dan kebersamaan  semakin menyempurna.

“Mo, Saya mau kawin, membangun keluarga. Ini pasangan saya.”

“Wouw… kamu,”kusebut namanya karena aku sangat mengenalnya.

Kusalami dan kupeluk dia dengan gembira. Saya mengenalnya sejak dia masih kecil. Dulu seorang misdinar. Saya mengikuti pertumbuhannya menjadi seorang pribadi yang dewasa lewat  tutur orangtua mereka.

“Gimana papa mamamu?”

“Sehat Romo. Kami datang atas dorongan papa mama untuk mengurus sendiri segala sesuatunya, Mo.”

Teringat sepintas bagaimana mereka dulu berjuang mengatasi kesulitan ekonomi dan kini mereka hidup lebih dari cukup. Ada saat-saat di mana ketegangan emosi dan jaraknya relasi dialami.

Saat-saat di mana saya menjadi “wasit” di antara mereka.

Saya bangga. Mereka menurut apa yang saya sarankan. Dua pribadi yang mau dibentuk dan membangun keluarga dalam Tuhan.

“Oh ya. Selamat datang ya. Bagaimana kalian bisa bertemu dan apa rencana kalian?”

“Ia adik kelas dua tahun. Kebetulan saya dulu sering menemani saat ekstrakulikuler basket. Setelah SMA kami berpisah melanjutkan studi di perguruan tinggi tapi kami tetap keep in touch. Saya kuliah di Aussie dan dia di Singapore. Akhirnya, melanjutkan usaha papa. Demikian juga pasangan saya Mo,” jawabnya.

Perempuan itu menganggukkan kepala dan tersenyum.

“Dulu, kami sekeluarga tidak aktif di Gereja. Dan kalau hari Minggu sering berpindah-pindah ke beberapa paroki.

Kami akan merencanakan perkawinan sekitar bulan November Romo; masih delapan bulan lagi. Kami menyiapkan semuanya sendiri, tetapi tetap meminta, menghormati dan mengikuti sedekat mungkin harapan dan keinginan orangtua kami berdua. Kebetulan mereka akrab. Jadi kami seperti berjalan dalam alur kasih dan perhatian kedua orangtua,” jawabnya.

“Apakah kalian siap bagaimana membangun keluargamu?”

“Saya yakin romo. Ini jalan kebahagiaan kami. Kami sudah lama mengenal watak satu sama lain. Kami juga telah cerita pengalaman-pengalaman, ketika kami saling tertarik dengan orang lain. Kami berdua memutuskan mau membangun keluarga. Kami meneruskan kebaikan orangtua.”

Tiba-tiba yang puteri menyela.

“Iya Romo. Apa pun yang terjadi nanti, saat emosi kami lagi berantakan, saya tidak akan meminta cerai dan pulang ke rumah papa mama.

Saya mengalami betapa papa dan mama sering bertengkar. Saya menyaksikan dan membekas.

Papa mama sempat berpisah beberapa saat. Saya menderita dan malu.

Untung papa sadar. Papa kembali dan sejak itu mereka tidak pernah lagi ribut di depan saya.

Papa sangat berubah. Rajin bekerja. Memanjakan mama.

Saya bersyukur karena mereka akhirnya menjadi sahabat saya,” jelasnya.

Yang laki-laki dengan tersenyum, dia merangkul pasangannya dari samping dan berkata kata-kata, “Tidak akan pernah itu kita alami. Mo, saya berjanji. Apalagi Romo kenal keluarga kami,” tegasnya.

Sebuah komitmen awal terucap. Dan saya ikut bangga dan percaya akan rencana mereka yang indah.

Percaya karena mereka telah mendasarkan bangunan keluarga mereka dengan pondasi yang kuat untuk tidak melukai satu sama lain.

Saya dapat membayangkan keindahan hidup mereka berdasarkan pengalaman orangtua mereka.

Saya percaya akan ada penerusan iman dalam keluarga mereka. Anak-anak akan dilahirkan kembali dalam nama Tuhan. Juga suka-duka dan kegembiraan nantinya. Kendati tidak sempurna.

Yesus berkata, “Mereka bukan lagi dua, melainkan satu.” ay 8b

Tuhan, persatu dan sempurnakanlah perjalanan hidup mereka. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here