Menyongsong Pengantin Datang

0
385 views
Perumpamaan gadis bodoh dan bijak. (Ist)

Bacaan 1: Keb 6:13 – 17
Bacaan 2: 1Tes 4:13 – 18
Injil: Mat 25:1 – 13

DALAM tradisi Jawa, pesta pengantin biasanya diadakan dua kali. Pertama, diadakan oleh mempelai wanita kemudian setelah itu pengantin pria memboyong, membawa pengantin wanita ke rumahnya dengan mengadakan pesta yang disebut “ngunduh mantu”.

Tuhan Yesus mengajarkan tentang situasi akhir jaman (hal Kerajaan Surgawi) dengan menggunakan tradisi Yahudi, yaitu pesta pengantin.

Ada tradisi di mana mempelai pria akan pergi ke rumah mempelai wanita menjemput untuk dibawa ke rumahnya.

Karena zaman dahulu belum ada “hand phone” maka tidak ada alat komunikasi yang bisa digunakan untuk berkoodinasi saat mempelai pria pulang bersama mempelai wanita ke rumahnya.

Oleh sebab itu, yang bisa dilakukan oleh para gadis pengiring adalah menunggu dan menunggu. Dengan kondisi seperti ini, maka kedua mempelai pengantin bisa saja tiba-tiba muncul.

Dikisahkan ada lima gadis pengiring bijak yang membawa pelita dan bekal minyak serta lima gadis pengiring bodoh yang tidak membawa bekal minyak.

Saat Pengantin datang, pelita dari para gadis bodoh itu sepertinya hampir mati namun mereka tidak memiliki persediaan minyak.

Lalu mereka pergi membeli minyak, namun malang saat kembali, pintu gerbang pesta telah ditutup.

Tuhan Yesus hendak mengajar tentang kesiapsiagaan dan kewaspadaan tentang akhir jaman saat Tuhan datang untuk kedua kalinya (parousia).

Dimana pengikut-Nya diminta untuk selalu berjaga-jaga karena tidak ada yang tahu kapan waktu-Nya datang. Supaya mudah dipahami, maka Ia mengajar dengan tradisi Yahudi tentang pesta pengantin dengan fokus pada kisah pengiring pengantinnya yang harus selalu siap siaga menanti pengantin datang.

Dalam peneguhannya kepada jemaat di Tesalonika, Rasul Paulus meyakinkan bahwa mereka yang meninggal sebelum “Parousia” tidak akan kehilangan penebusan dari Kristus. Secara analog ia mangatakan bahwa Allah juga akan membangkitkan jemaat sama seperti saat Dia membangkitkan Kristus.

Orang yang telah meninggal duluan akan mendapatkan jatah kebangkitan duluan dan baru kemudian yang masih hidup akan diangkat menyongsong Tuhan di tengah-tengah awan. Paulus menasihati agar dengan memahami “parousia” maka jemaat saling menghibur satu sama lain dan bersiap siaga dalam iman.

Pesan hari ini

Mati bukanlah tentang kesedihan namun sebuah harapan untuk bertemu Kristus secara langsung. Apa yang bisa dilakukan adalah senantiasa siap siaga, menjaga iman dan kekudusan, sebagai bekal minyak agar pelita tidak padam saat “parousia” tiba.

“Kesempatan jadi pengiring pengantin tidak datang dua kali, jangan lupa bawa minyak pelitamu sebagai bekal. Tetap pakai maskermu dan jaga jarakmu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here