Mgr. Agustinus Agus: Our Lady of China untuk Gereja Pemangkat, Kalbar

0
743 views
Patung Bunda Maria "Our Lady of China" karya Lu Hung Nien (1924) untuk Gereja Pemangkat, Kalbar. (Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak)

USKUP Keuskupan Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus punya gagasan anyar. Ia ingin membangun patung Bunda Maria dengan balutan budaya etnis khas Tionghua.

Patung Bunda Maria itu akan dibangun di Paroki Pemangkat – beberapa kilometer jauhnya arah utara dari Singkawang, Kalbar.

Sudah dua kali

Setidaknya sudah dua kali, gagasan anyar ini pernah disampaikan Uskup Agustinus kepada umat Paroki Santo Yosep Pemangkat.

Informasi pertama telah disampaikan pada tanggal 2 November 2021, saat kunjungan misa arwah di Paroki Pemangkat.

Kemudian kedua kalinya terjadi tanggal 12 Desember 202, saat melakukan kunjungan ke satu-satunya gereja stasi bernuansa sangat kental dengan budaya tradisi Tiongkok di Stasi Jawai, Paroki Pemangkat.

Gereja menghargai kebudayaan lokal

Menurut Uskup Agustinus, pembangunan Patung Bunda Maria di kompleks pastoran paroki adalah tanda bahwa Gereja Katolik memperhatikan umat Paroki Pemangkat yang mayoritasnya adalah orang keturunan Tiongkok.

Dengan dibuatnya patung Bunda Maria gaya etnis dan budaya Tionghoa, Uskup Agustinus menegaskan bahwa Gereja juga memperhatikan orang Tionghoa.

Umat Tionghoa -baik yang Katolik dan yang non Katolik- selama ini oleh pemerintah Indonesia dan masyarakat kita zaman Orde Baru sering dianggap warga “pendatang”. Belum lagi kalau harus menyebut mereka WNI minoritas sehingga diperlakukan sebagai “warga kelas dua” di masyarakat.

Sejalan dengan itulah, Gereja Stasi Jawai alias “Kasi’ menurut dalam bahasa Hakka lalu mendirikan bangunan gereja.

Juga lengkap dengan nuansa kental Tiongkok.

Itu sungguh merupakan tanda Gereja Katolik menaruh hormat pada tradisi dan budaya setempat.

“Karena Paroki Pemangkat adalah mayoritas umat yang keturunan Tionghoa dan dalam masyarakat Tionghoa sendiri memiliki tradisi kultural sangat khas, jadi mengapa tidak kita angkat saja hal itu?” demikian gagasan Uskup Agustinus.

Our Lady of China karya Lu Hung Nien (1924)

Adapun rencana patung Bunda Maria bergaya etnis Tionghoa yang akan di bangun oleh Uskup Agustinus adalah patung dengan model “Our Lady of China” karya pelukis Lu Hung Nien (1924).

Latar historisnya tercatat sebagai berikut.

Lukisan itu mengambil inspirasinya dari penampakan Bunda Maria di China sekitaran tahun1900.

Itu terjadi Dong Lu – sebuah desa kecil miskin di China kawasan utara.

Di daerah tersebut berdiam sekitar seribu umat kristiani. Saat terjadi Perang Boxer, permukiman penduduk di Dong Lu menjadi sasaran serangan.

Lantaran, para prajurit mau menghapus jejak-jejak kebudayaan barat. Termasuk para pengikut Kristus.

Perempuan cantik berjubah putih

Peristiwa itu terjadi di bulan April tahun 1900, saat mana para prajurit datang menyerang Dong Lu.

Lalu, sekonyong-konyong tampak sosok perempuan cantik berjubah putih muncul di langit. Cahaya terang lantas mengelilingi perempuan itu.

Sontak para prajurit mencoba menembakinya, tapi tak satu peluru pun bisa mengenainya.

Tak lama berselang, seorang penunggang kuda berlelubungkan lidah api turun mengusir mereka dari Dong Lu.

Syukur kepada Bunda Maria

Dari peristiwa itu, penduduk desa yang luput dari serangan itu beramai-ramai mengucap syukur dengan membangun sebuah gereja sederhana di tempat Bunda Maria dikesankan telah “menampakkan” diri.

Di situ ada Wu, seorang imam lokal. Ia lalu meminta seorang pelukis lokal untuk melukis Bunda Maria dan bayi Yesus.

Gambar tersebut lalu disimpan di gereja yang baru dibangun.

Pada tahun 1924, Santa Perawan Maria dari Dong Lu secara resmi diakui sebagai Santa Perawan Maria dari China.

Tanggal 6 Mei dipilih sebagai hari peringatannya.

Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus menggagas dibuatnya patung Bunda Maria bergaya tradisi Tionghoa di Paroki Pemangkat, Kalbar. Paling tidak seturut gambaran model “Our Lady of China” karya Lu Hung Nien (1924).

Gereja Bawah Tanah

Tahun 1951 gereja itu dihancurkan oleh Pemerintah Komunis China bersama. Termasuk lukisan Bunda Maria dari China.

Hingga sekarang Gereja Katolik di China masih melakukan aktivitasnya dengan sangat terbatas. Istilahnya: “Gereja Bawah Tanah”.

Pada bulan Mei 1995, umat katolik dari seluruh China datang ke Dong Lu untuk merayakan pesta Bunda Maria Penolong Umat Kristiani.

Dalam peristiwa tersebut tercatat sekitar 30.000 peziarah berkumpul di “Bukit Bunda Terbekati”. Misa itu dirayakan secara konselebrasi, dihadiri empat uskup dan 100 imam.

Setelah peringatan itu, Pemerintah China lalu menghancurkan tempat ziarah tersebut.

Namun setiap tahun tetap ada umat yang datang ke sana untuk ziarah dan berdoa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here