Mgr. Yohanes Harun Yuwono “Dipaksa” Jadi Uskup Keuskupan Agung Palembang

0
1,022 views
Mgr. Yohanes Harun Yuwono "Dipaksa" Jadi Uskup Keuskupan Agung Palembang.

KEMARIN saya mendengar ada yang mengatakan, Gereja Katolik itu sadis. Sepertinya tidak melihat atau memperhitungkan umatnya yang sedang susah. Lalu dibuat menjadi lebih susah lagi.

Itu dikatakan Administrator Apostolik Keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono saat merayakan HUT-nya ke-57 di Wisma Albertus, Tanjungkarang, hari Minggu 4 Juli 2021 kemarin.

Di situ hadir sejumlah romo, suster, dan umat.  

Tanggal 15 Juni 2021, hari-hari sebelum ber HUT ria, Mgr. Harun tiba-tiba saja diberitahu oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo Tahta Suci untuk RI.

Kabar gembira tapi sangat mengejutkan. Tahta Suci Vatikan telah memilihnya sebagai Uskup Metropolit Keuskupan Agung Palembang yang baru. Guna menggantikan Mgr. Aloysius Sudarso SCJ yang sedari tahun lalu sudah resmi mengajukan pensiun karena usia lanjut: sudah 75 tahun lebih.

Saat itu juga, Mgr. Harun langsung melakukan “protes” kepada Nuncio. Mengapa harus dirinya sampai dipilih oleh Vatikan untuk menjalani tugas dan tanggungjawab baru di Keuskupan Agung Palembang dan meninggalkan Keuskupan Tanjungkarang?

Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Keuskupan Agung Palembang sekaligus Administrator Keuskupan Tanjungkarang.

Ditanyai macam-macam

Sebelum tanggal itu, Mgr. Harun terpaksa harus “berbohong” kepada sekretarisnya Romo Cornelius Anjarsi Pr. Dia katakan bahwa dirinya harus ke Jakarta. Mendadak perlu datang karena ada rapat Komisi HAK KWI.   

Diperjalanan, kepada Romo Anjarasi Pr, barulah Mgr. Harun berani mengaku dia sebenarnya tidak mauu rapat. Tetapi mendadak dipanggil Duta Besar Vatikan untuk RI.

Dalam perjumpaannya dengan Duta Besar Vatikan Mgr. Piero Pioppo, Mgr. Harun langsung diminta bisa menggambarkan “peta situasi” wilayah pastoral Keuskupan Agung Palembang.

Mgr. Harun berpikir, urusan memetakan wilayah macam ini kan bisa dicari dari mana-mana. Juga tidak sulit.

Mengapa ia harus datang ke Jakarta hanya untuk urusan memberi informasi peta wilayah Keuskupan Agung Palembang.

Uskup Harun juga belum mengerti maksud dan tujuannya. Selain itu, dia juga diminta menggambarkan Gereja Lokal Keuskupan Padang dan Gereja Lokal Keuskupan Sibolga. Lalu juga ditanyai mengenai Keuskupan Pangkalpinang. Lengkap. Mulai dari para romonya, wilayah geografisnya, dll.

Uskup Harun juga ditanya tentang kesehatan Mgr. Al. Sudarso SCJ. Masih banyak lagi.

“Mengapa kok tanyakan hal-hal itu pada saya?” demikian pikirnya.

Padahal, beliau sendiri, pastilah juga sudah mengenalnya.  

Saat ditanya tentang para imam Palembang, baik imam-imam diosesan maupun tarekat religius, Mgr. Harun mengaku tidak banyak mengenal mereka.

Kecuali para romo diosesan yang pernah studi di SFTF St. Yohanes di Pematang Siantar. Itu saja, ketika para imam itu studi di Pematangsiantar. Setelah itu tidak saling berjumpa.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono bersiap tugas di Keuskupan Agung Palembang.

Pertanyaan sama

Suatu hari, waktu itu Mgr. Harun masih menjadi Uskup Administrator Apostolik Keuskupan Pangkal Pinang. Saat masih berlangsung Sidang Tahunan KWI di Jakarta.

Mgr. Harun ditelepon diajak makan siang bersama Duta Besar Vatikan.

Mgr. Harun bertanya, apakah boleh ia mengajak Vikjennya Romo Nugroho Pr.

Ternyata saat makan siang bersama, terjadi sama saja. Pertanyaan sama. Diulang-ulang. Diminta menggambarkan Keuskupan Palembang.

Uskup Harun teringat akan peristiwa perayaan syukur Hari ulang tahun Mgr. Aloysius Sudarso SCJ. Ia diminta berkhotbah.

Usai khotbah, Mgr. Sudarso mengatakan, “Bagaimana, siap ke sini?”

Saat itu, Mgr. Harun mengganggapnya bercanda. Pertanyaan itu juga pernah diajukan jauh-jauh hari sebelum peristiwa itu.

“Pertanyaan sama,” ujar Mgr. Harun.    

Merasa dijebak

Bagi Mgr. Harun, dalam peristiwa 13 Juni 2021 lalu itu, ia merasa dirinya sengaja “dijebak”.

Karena ditanyai banyak pertanyaannya sama. Tiba-tiba saja. Duta Besar Vatikan mengatakan, bahwa ada yang menginginkan dirinya berkarya di Keuskupan Palembang.

Spontan, Mgr. Harun mengatakan, “Tidak. Saya ini masih tertatih-tatih berjalan sebagai uskup. Kalau saya dipindah, saya tidak mau.”

Tak bisa bicara

Tanggal 15 Juni 2021 Mgr. Harun lagi-lagi ditelepon oleh Duta Besar.

“Mari kita bicara dari hati ke hati sebagai sahabat,“ ujar Duta Besar.

Lalu Mgr. Harun diminta harus mau menerima tugas barunya itu. Karena Bapa Suci telah memilihnya sebagai uskup baru untuk Keuskupan Agung Palembang.

Saat itu Mgr. Harun tidak bisa bicara apa pun. Karena bila ia menolaknya, dengan alasan apa pun, tidak akan didengarkan. Dimentahkan. Mental.

Maka, Mgr. Harun lalu minta waktu untuk berpikir sejenak. Lalu Duta Besar Vatikan mengatakan, “Tolong tulis jawabanmu yang isinya tidak menolak.”

“Saya pikirkan dululah beberapa hari,” tukas Mgr. Harun.

“Ya silakan, tetapi jangan lama-lama,” kata Duta Besar lagi.  

Merenung Santo Yusuf

Tanggal 19 Juni 2021, Mgr. Harun memberi jawaban kalau dia akhirnya bersedia menjadi Uskup Agung Palembang.

Suatu permenungan telah ditemukan oleh Mgr. Harun.

“Tahun ini, kita merayakan Tahun Santo Yusuf. Manusia tanpa kata. Siap sedia. Kapan pun siap melaksanakan sabda Allah. Apabila itu hanya didengar lewat mimpi sekali pun, Yusuf bangun. Lalu melaksanakan seperti yang ia lihat dalam mimpinya itu.

Saya minta ini juga dihidupi oleh para romo, religius, dan umat Allah.

Saya kotbahkan itu di mana-mana. Lalu, saya sendiri bagaimana?

Apakah saya sendiri sudah melaksanakan apa yang saya katakan kotbahkan itu

Apa lagi tahun ini Arah Dasar Keuskupan Tanjungkarang adalah Tahun Ekaristi.

Kristus sendiri telah mengorbankan nyawa-Nya demi umat yang Ia cintai.  Mosok saya tidak mau pergi?

Melekat. Apa pun alasannya. Baik itu sebagai romo. Sebagai uskup. Apa lagi sih yang dicari, kecuali taat pada Allah, pimpinan, dan Gereja.

Uskup Harun berharap, para imam, religius, dan umat Allah, menghidupi keutamaan seperti Santo Yusuf.

Tak beda

Apa bedanya Uskup Sufragan dengan Uskup Agung?

Bagi Mgr. Harun, dalam Hukum Gereja Katolik, pengaruhnya hanya, bila ada imam yang tidak menjalankan kekatolikan, baru boleh menegur, mengadakan visitasi ke keuskupan sufragan.

Tetapi mana ada Uskup yang membawa umatnya aneh-aneh yang tidak menghidupi imam ke-Katolik-an. Pasti tidak ada. Jadi, bagi saya, menjadi uskup sufragan atau uskup agung itu sama saja. Tidak ada bedanya.  

Mengandalkan Allah

Sejak dirinya menjadi imam, cita-citanya, ingin mengambil bagian dalam karya keselamatan Gereja.

Dengan rendah hati. Mgr. Harun mengaku bahwa ia tidak berpotensi, bahwa ia akan mampu bekerja di Palembang dengan baik.

Tetapi ia hanya ingin mengandalkan Allah saja.

Maka, Uskup kelahiran Way Ratih, Lampung ini mohon di doakan terus-menerus agar ia hanya tetap mengandalkan Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here