Minggu Biasa 23 B, 6 September 2015: Mempertemukan Keluarga dengan Kristus

0
1,136 views
Ilustrasi: Yesus menyembuhkan orang buta. (Ist)

Yes. 35:4-7a; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37

DIBANDINGKAN dengan cacat mata atau organ tubuh yang lain, bisu dan tuli tidak begitu kelihatan. Tetapi bisu dan tuli adalah cacat yang paling merusak hubungan antara orang itu dengan dunia sekitarnya. Orang yang cacat tangan atau kakinya, dapat melihat, menikmati dan mengerti dunia dan manusia sekitarnya. Orang buta, meski tidak dapat melihat, dapat juga menikmati dan memahami dunia dan manusia sekitarnya.

Tetapi orang yang bisu dan tuli, dapat melihat, bergerak, memakai, tetapi tidak mengerti apa dan siapa yang ada disekitarnya dan tidak dapat berkomunikasi dengan sekitarnya. Karena manusia memahami dunia dan lingkungannya melalui gagasan dan konsep dari apa yang dialaminya. Dengan disembuhkan oleh Yesus, orang bisu-tuli itu dipulihkan hubungan dan komunikasinya dengan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Yang menarik ialah bahwa Yesus memisahkan orang itu dari orang-orang sekitarnya dan setelah mereka sendirian, baru Yesus menyembuhkan dia. Yesus ingin agar dia mengenal, berkontak dengan sesama dan lingkungannya dalam pengalaman iman sehingga Manusia dan sekitarnya dialami sebagai kurnia dari Allah.

Dunia modern dengan segala kesibukannya juga membuat banyak manusia bisu dan tuli. Kita sejak bangun tidur sudah sibuk dengan segala kegiatan dan telinga kita juga dipenuhi segala macam hal dari sekitar kita, entah itu berita, musik dsb. Sesudah sehari sibuk dengan segala pekerjaan dan kegiatan, malam hari pun kita masih dijejali segala informasi dan hiburan dari dunia ini. Sehingga banyak kali hidup ini menjadi mengalir lewat tanpa kita sempat menyadari arti dan makna segala kegiatan dan kesibukan kita.

Dan kita bertindak dan bereaksi terhadap segala kejadian disekitar kita sesuai dengan kebiasaan pribadi atau lingkungan kita. Bahkan hal ini pun terjadi dalam Ibadat. Kalau pastor tidak bicara, maka koor bernyanyi. Kalau pastor dan koor tidak berbunyi maka umat mulai omong sendiri.

Kita menjadi tuli karena terlalu banyak bunyi dan menjadi gagap karena terlalu sibuk bereaksi terhadap dunia dan manusia sekitar kita. Hidup seperti ini adalah hidup tanpa arah, hidup yang ikut arus saja. Tujuan dan harapan hidup kita, sekedar apa yang biasa ada dalam masyarakat. Apa yang menjadi kehendak atau rencana Allah dalam hidup kita, tidak kita kenali, tidak kita perdulikan. Kita pasti punya berbagai rencana dan harapan.

Tetapi seringkali itu merupakan rencana dan harapan akan hal-hal duniawi dan sementara sifatnya. Kita berharap mendapat kenaikan pangkat, penghasilan yang lebih baik, biaya untuk pendidikan anak-anak, kesehatan dsb. Tetapi apakah semua rencana dan harapan itu juga kita hanyati dalam kerangka hubungan kita dengan Allah? Apa yang diharapkan Allah jika Ia mengabulkan atau tidak mengabulkan permohonan, harapann dan keinginan kita itu?

Seperti orang tuli dan gagap itu disendirikan agar dapat bersama Yesus mengalami Kuasa Allah; agar kita tidak kehilangan arah dan tujuan hidup, kita juga perlu bertemu sendiri dan pribadi dengan Allah. Apakah itu mungkin dengan kesibukan kita yang begitu banyak?

Seorang suster membawa seorang anak muda yang nampak lelah ke ranjang seorang tua. “Anak anda disini.” Bisiknya kepada pasien itu. Bisikannya harus diulangi beberapa kali sebelum mata pasien itu terbuka. Pasien itu dibius karena kesakitan akiat serangan jantung dan samar-samar ia melihat anak muda yang berdiri di luar tenda oksigen yang mengurungnya.

Ia mengulurkan tangannya dan anak muda itu memegang tangannya dan meremasnya lembut, memberi peneguhan. Perawat menaruh kursi di sebelah ranjang dan sepanjang malam anak muda itu duduk, memegang tangan orang tua itu dan mengucapkan kata-kata penghiburan dengan lembut. Orang tua itu tidak berkata apa-apa; hanya memegang tangan anaknya erat-erat.

Menjelang pagi, pasien itu meninggal. Anak muda itu memberi tahu perawat. Setelah merapikan jenazah itu, perawat itu mengucapkan ikut berdukacita kepada anak muda itu.

Tetapi dia menjawab: “Siapa bapak itu?” perawat itu terkejut.

“Saya kira itu ayah anda.” “Bukan. Dia bukan ayah saya. Malah saya belum pernah bertemu bapak itu sebelumnya.”

“Lalu mengapa anda tidak bilang waktu saya bawa ke tempat bapak ini?”

“Saya lihat bapak itu membutuhkan anaknya, tetapi anaknya tidak ada. Waktu saya sadar bahwa bapak itu begitu sakit sehingga ia tidak bisa membedakan saya anaknya atau bukan, saya tahu; dia membutuhkan saya.”

Demikian tulisan Joe Gatuslao dalam He Needed a Son.

Tema Bulan Kitab Suci Tahun Ini: Keluarga Yang Melayani Seturut Sabda Allah.

Dalam usaha kita menghidupkan umat basis dan keluarga-keluarga agar terlibat dalam kegiatan basis; semoga tidak perlu orang asing yang tidak kita kenal yang sampai harus diutus Tuhan untuk menyapa kita.

Mari kita berusaha agar kita saling membantu memperkenalkan atau mempertemukan Kristus kepada anggota keluarga kita masing-masing dan menciptakan suasana di basis sehingga kita dapat lebih mudah dan lebih semangat mendukung setiap keluarga menjadi pelayan-pelayan Kristus kepada anggota keluarganya dan sesamanya. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here