Minggu Prapaskah 2, Tahun A 12-03-2017: Egoisme, Kemapanan Mengangkangi Berkat

0
1,015 views
Yesus menampakkan kemulian-Nya di atas puncak Gunung Tabor. (Ist)

Kej. 12:1-42; 2Tim. 1:8b-10; Mat. 17:1-9

PADA hari Minggu II Masa Prapaskah, kita diajak untuk merenungkan peristiwa Yesus menampakkan kemuliaanNya di puncak Gunung Tabor. Peristiwa ini terjadi seminggu sesudah Yesus menjelaskan syarat-syarat mengikuti Dia. Petrus dan teman-temannya diajak merenungkan teguran keras Yesus kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Yesus menyadari bahwa para murid tentu terguncang oleh pesan keras itu. Di atas puncak Gunung Tabor, Yesus menunjukkan sisi kemuliaanNya, bersama dengan Musa, Nabi yang memberi dasar kesatuan bangsa dan agama Yahudi serta Elia: nabi yang penuh kuasa, yang diharapkan datang kembali sebelum Mesias datang. Yesus ingin menunjukkan bahwa mengikuti Dia adalah mengikuti Allah. Berjalan bersama Dia adalah berjalan melalui penderitaan dan salib menuju kemuliaan kebangkitan bersama Allah. Jadi berkat diberikan agar kita memiliki kekuatan untuk berjalan terus pada saat semua kelihatan datar-datar saja; atau saat sedang dalam masa sulit.

Kita juga diingatkan bahwa kecenderungan kita sebagai manusia lemah, juga dapat seperti Petrus:  “Betapa bahagianya kami di tempat ini, kami buatkan tiga kemah, supaya kita dapat tinggal di sini.”

Mereka bertiga lupa akan sembilan teman rasul yang lain dan tugas mereka. Yang penting, kita dapat tinggal bersama Yesus, Musa dan Elia, perduli apa dengan yang lain? Manusia cenderung mencari keuntungan dan kepentingannya sendiri, sehingga berkat yang diberikan sebagai kekuatan untuk menjalani masa-masa sulit, ingin dikangkangi sendiri untuk saat ini. Karena itu selalu ada bahaya kita mencoba mendapatkan berkat masa Prapaskah tanpa perduli pada tujuan masa Prapaskah sendiri.

Pengalaman orang

Seorang misionaris bernama Lolita Jardeleza dalam Love and Anger  di Papua New Guinea menulis sebagai berikut.

Dulu saya sering merasa sakit karena tidak diterima dan tidak layak untuk diterima. Saya berharap agar duri dalam hati itu diambil dari saya; sampai suatu ketika saya menyadari bahwa pengalaman itu ternyata berkat bagi saya. Saya menjadi ingin sedapat mungkin menerima orang lain; karena saya tidak ingin membuat orang merasa tidak saya terima atau tidak layak untuk saya.

Bukan berarti saya sudah jadi sempurna. Saya pada dasarnya orang yang suka menilai orang lain; tetapi sekarang saya sadar bahwa saya sudah berhasil membuat orang merasa diterima dan layak diterima. Saya bersyukur karenanya. Saya selama bertahun-tahun melihat bahwa orang sering saling menyudutkan satu sama lain. Orang menyudutkan orang lain karena merasa berhak untuk melakukannya. Orang sering tidak menyadari bahwa rasa terluka dan ketidak-senangan itu saling berhubungan. Saya dahulu merasa sangat terganggu jika saya dan orang lain tidak bersesuaian; apa lagi jika orang itu adalah orang yang yang saya kasihi.

Hal lain yang saya pelajari ialah, biarkan orang marah kalau dia mau begitu. Sebagai orang yang pemarah, saya sudah mengamati rasa marah belasan tahun dan sampai pada kesimpulan, ada dua hal yang membuat kita marah:

  • (1) jika seseorang memaksa kita melakukan atau menjadi seseorang yang tidak kita inginkan (orang yang punya kuasa atas diri kita: Tuhan, orangtua, guru, atasan)  dan
  • (2)  jika orang tidak mau melakukan atau menjadi apa yang kita inginkan dari dia (Tuhan dan orang yang ada di bawah kita: anak-anak, murid, pegawai.) Pasangan kita tentu cocok untuk kedua situasi itu.

Kita sudah punya jadwal dan rencana; jika tidak terlaksana, maka akan kecewa besar. Kita mohon sesuatu pada Tuhan dan Ia tidak memberi yang kita inginkan, maka kita marah. Kita berharap orang berpikir, bertindak, bicara dengan cara yang kita inginkan dan tentu mereka tidak melakukannya. Kita kehilangan kontrol karena kita terbelenggu oleh pola dan rencana kita.

Saya belajar bahwa jika orang sedang ’panas perut’, sebaiknya didiamkan. Tetapi ini tidak mudah. Kalau saya dulu akan menjawab: “Kamu mau berkelahi?” Sekarang saya ingin mampu membuat orang merasa dicintai, diterima dan berharga. Saya ingin menjadi seperti Yesus. Saya ingin orang dapat mengalami besarnya kasih Tuhan pada mereka, melalui cara saya mengasihi mereka. Tidak berarti saya harus menerima letupan emosi yang memojokkan saya, kekasaran, ancaman atau penipuan. Tetapi saya dapat membiarkan ‘panas perut’nya pada orang itu. Tidak ada aturan bahwa kalau orang melemparkan bola kemarahannya pada saya, saya harus menangkapnya.

Cinta menerima kemarahan

Saya sekarang melihat bahwa cinta dapat menerima kemarahan.

Orang ini belajar mengolah pengalaman negatipnya, kebiasaannya untuk marah dan rasa ketersinggungannya menjadi suatu berkat kasih bagi dirinya dan sesama yang dilayaninya. Bagaimana sikap kita menerima berkat-berkat Allah? Masa Prapaskah adalah saat untuk mengarahkan hidup kita lagi pada rencana dan karya Tuhan. Pantang dan puasa untuk mengatur hidup dan mengarahkan niat.

Sisi negatif diri kita kita olah dan kita ubah menjadi kekuatan kasih dari Allah. Doa, khususnya Jalan Salib adalah saat untuk mengarahkan perhatian kepada Tuhan Yesus yang mencintai kita sampai mau mati sengsara seperti itu, sehingga kita punya kekuatan untuk mengubah diri kita. Kotak APP adalah usaha untuk mengarahkan perhatian kita kepada mereka yang lemah dan menderita. Niat dan usaha kita hari ini mendapat arah yang lebih jelas: salah satu akar kedosaan kita adalah egoisme, keinginan kita untuk menjadi mapan dan mengamankan diri, tanpa perduli orang lain dan Tuhan.

Egoisme adalah kemapanan yang mengangkangi berkat untuk diri sendiri. Semoga berkat-berkat yang kita terima menambah kasih kita kepadaNya sehingga niat dan usaha kita untuk menjadi lebih baik, tumbuh menjadi iman yang lebih teguh kepadaNya dan kasih yang melimpah kepada sesama kita. AMIN.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here