Misa bersama Ignatius Kardinal Suharyo: Belarasa, Buah Studi Teologi Sosial (1)

2
461 views
Misa bersama Ignatius Kardinal Suharyo di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta yang diprakarsai oleh PGU, PaLingSah, BKSY, dan CP61. (Aga)

BELARASA itu diturunkan dari kata bahasa Latin “compassio” dan barulah kemudian bahasa Inggris mengadopsinya menjadi “compassion, compassionate”.

Kosa kata baru itu mau mengajak kita “ikut seperasaan dan sepenanggungan” (com-passio) dengan sesama yang kurang beruntung, menderita, dan terpinggirkan.

Akar sejarah

Pertanyaannya, kata baru bahasa Indonesia “belarasa” itu muncul dari mana? Sejarah macam apa sehingga kata itu kini menjadi sedemikian populer di kalangan Umat Katolik Indonesia.

Yang melahirkannya adalah kultur Program Studi Teologi Sosial Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma (USD) di Yogyakarta

Pada tahun 1990-an dan tentu saja juga pada tahun-tahun sebelumnya, para mahasiswa Fakultas Teologi diajak para dosennya untuk melakukan projek studi Teologi Sosial.

Tidak lagi hanya berkutat dengan membaca banyak literatur buku teologi.  Lebih dari itu, para mahasiswa Fakultas Teologi –mayoritas para frater calon imam dan sejumlah suster biarawati dan kaum awam—diajak “keluar dari biara” dan kemudian terjun “ke pasar” kehidupan yang nyata.

Teologi Sosial

Para frater, suster mahasiswa itu terjun ke dunia kerja yang nyata dengan menjadi buruh, tenaga kerja kasar entah di mana.

Pendek kata, mereka diajak benar-benar bisa mengalami situasi di mana “keterbatasan” kemampuan fisik dan kapabilitasnya sebagai manusia itu “terbentur tembok”.

Yang namanya “tembok” itu bisa saja berupa struktur kekuasan, dinamika kerja, manajemen personalia di lingkungan kerja, keterbatasan fisik dan kemampuan lain yang “inheren” pada diri para masing-masing mahasiswa tersebut.

Pada titik inilah, mereka lalu diajak berefleksi.

Istilah kerennya adalah “berteologi sosial”. Yakni, berefleksi atas dasar Kitab Suci tentang bagaimana dalam kondisi yang serba terbatas itu, mereka tetap teguh beriman sebagai orang Kristiani yang mengimani Yesus Kristus sebagai Penyelamat.

Dengan demikian, istilah “belarasa” atau “berbelarasa” itu bukan sekedar tranformasi bahasa semata.

Lebih dari itu, kata itu punya akar “sejarah teologi” yang begitu panjang di bangku-bangku kuliah di Fakultas Teologi Wedabakti Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.

Pengampu matakuliah KSPB

Ignatius Kardinal Suharyo tentu juga sangat mengakrabi istilah “belarasa” ini. 

Sebelum menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang mulai tahun 1997, beliau adalah dosen pengampu matakuliah Kitab Suci Perjanjian Baru.

Salah satu “kosakata” penting yang selalu menjadi favorit Kardinal Suharyo sebagai dosen KSPB di Fakultas Teologi USD adalah “Sejarah Keselamatan”.

Sejarah Keselamatan atau kadang juga disebut “Sejarah Penyelamatan” itu terjadi dalam rentang sejarah umat manusia yang amat panjang.

Mulai dari Perjanjian Lama dan akhirnya mencapai puncaknya di Perjanjian Baru.

Itu terjadi, ketika Allah akhirnya datang ke dunia menjelma menjadi manusia dalam rupa Bayi Kanak-kanak Yesus yang sebentar lagi akan kita peringati pada Hari Raya Natal 2019.

Itulah Misteri Inkarnasi yang begitu ilahi sekaligus insani. Tuhan yang ilahi datang ke sejarah hidup umat manusia yang sifatnya insani.

Itulah “belarasa” Tuhan kepada manusia.

Kisah “belarasa” ilahi itu benar-benar nyata dan terjadi dalam sejarah umat manusia. Yesus lahir di Bethlehem dan mati di salib di Bukit Golgota.

Sejarah Penyelamatan itu tidak lain adalah sejarah “belarasa” Tuhan kepada umat-Nya, kita-kita yang manusia insani ini.

Dosen Teologi Sosial

Tentang istilah “belarasa” ini, tentu sejarah akan mencatat bahwa kosakata itu mulai diperkenalkan oleh para dosen pengampu Teologi Sosial dan Kitab Suci di Fakultas Teologi USD tersebut.

Sekedar menyebut nama, maka di situ lalu muncul nama-nama besar berikut ini: alm. Romo Tom Jacobs SJ, Romo Bernard “Teddy” Kieser SJ, JB Banawiratma, dan Romo Johnny Muller SJ –semua dosen pengampu matakuliah Teologi Sosial dan juga Teologi Harapan.

Pada bidang yang lebih spesifik, istilah itu juga diperkenalkan Kardinal Suharyo dan almarhum Romo St. Darmawidjaja Pr –keduanya dosen pengampu matakuliah Kitab Suci Perjanjian Baru dan Kitab Suci Perjanjian Lama.

Tahun-tahun belakangan ini, kata “belarasa” itu semakin bergaung keras di kalangan Umat Katolik KAJ.

Tentang hal ini, kita mau tak mau harus merujuk nama Bapak Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta.

Beliaulah yang telah mengambil prakarsa menjadi peletup semangat  dalam penggunaan kosakata baru ini sebagai rujukan utama.

Terutama, ketika masing-masing kita sebagai Umat Katolik di KAJ ingin melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dan semangat ini tidak lain terumuskan dengan indah dalam satu kata: belarasa.

(Berlanjut)

2 COMMENTS

  1. Membaca tulisan diatas mengingatkanku ketika aku mengalami live in mata kuliah teoligi harapan dan teologi sosial…👍👍👍

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here