Misteri Artefak Teks Kitab Suci Menempel di Lempengan Baja Puing Reruntuhan Gedung WTC

0
586 views
Kutipan teks Kitab Suci yang menempel di lempengan baja - artefak sisa reruntuhan Pemboman World Trade Center.

“RETALIATION”. Artinya balas dendam. Begitu narasi pendek The New York Times, koran beken sedunia, memulai kisahnya.

Hanya dimulai dengan satu kata itu: “Balas dendam”.

Lalu berlanjut dengan bunyi teks Kitab Suci yang diambil dari Injil Matius. Berbunyi demikian:

“Ye have heard that it hath been said, An eye for an eye, and a tooth for a tooth: But I say unto you, That ye resist not evil: but whosoever shall smite thee on thy right cheek, turn to him the other also.”

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Mt. 5: 38).

Narasi ini diambil dari kisah petuah atau nasihat Yesus, ketika Ia berkotbah di hadapan banyak orang. Kita mengenalnya sebagai perikop “Kotbah di Bukit” sebagaimana dikisahkan oleh Penginjil Matius bab 5: 38-48.

Ground Zero

Kita tidak mau terfokus di situ. Tapi pada sebuah “artefak” yang kini dipasang di National 11 September Memorial Museum. Lokasinya di Ground Zero – tempat dulu dua Menara Kembar World Trade Center (WTC) pernah berada, tapi kemudian tiba-tiba meledak dan lalu hancur lebur.

Runtuh habis dan tak berbekas.

Kalau pun masih ada “bekasnya”, maka Ground Zero itulah yang kini mewarisi legenda keberadaan dua gedung tinggi yang amat bersejarah dan menjadi ikon penting di New York.

Namun, aksi teroris tanggal 11 September 2001 telah meniadakan keberadaan kedua gedung WTC itu. Untuk selamanya.

Jumlah korban tewas karena aksi teroris itu mencapai 3.000-an orang. Ribuan lainnya luka-luka. Kalau pun masih hidup, kini mereka pasti ada cacat tubuh. Juga menderita trauma psikis luar biasa.

Lainnya telah kehilangan pekerjaan dan perusahaan-perubahan multi nasional juga tidak punya lagi lokasi kerja.

Lebih dari itu semua, banyak orang telah kehilangan sanak-saudara. Bisa jadi, keberadaan mereka yang hilang ini takkan pernah kesampaian bisa ditemukan lagi.

Lantaran, barangkali jasadnya sudah menjadi arang, debu, abu. Sudah campur baur dengan puing-puing reruntuhan gedung WTC.

Artefak berupa lempengan baja bertuliskan teks KS

Ini semua adalah kisah pedih. Tragedi kemanusiaan yang menyayat hati.

Sepenggal “artefak” sisa puing kehancuran gedung Menara Kembar WTC itu kini muncul dalam bentuk sebuah lempengan logam.

Yang menarik, di lempengan logam itu justru “tercetak” nas perikop Injil Matius tentang Kotbah di Bukit.

Artefak ini tidak ditemukan dulu-dulu – saat puing-puing gedung WTC itu dibersihkan dari reruntuhan puing.

Tapi keberadaannya baru terdeteksi beberapa bulan berselang: Maret 2002. Setelah lokasi Ground Zero itu dibersihkan secara massif empat bulan kemudian, pasca insiden tanggal 11 September 2001.

Keberadaan artefak menjadi historis, setelah dirilis oleh fotografer Joel Meyerowitz, penulis buku Aftermath: World Trade Center Archive.

Ditunjukkan kepada Paus Fransiskus

Sekali waktu, Paus Fransiskus menyempatkan diri datang mengunjung Ground Zero di National 11September Memorial Museum, New York. Kepada beliau juga ditunjukkan artefak lempengan baja berisi naas perikop Kotbah di Bukit.

Lalu muncul kisah berikut ini.

Seorang anggota tim pemadam kebakaran tengah sibuk bekerja. Untuk “membersihkan” Ground Zero. Ini terjadi bulan Maret 2002. Jadi hampir empat bulan setelah terjadinya aksi pembajakan pesawat yang kemudian menabrakkan diri ke WTC.

Penemuan artefak itu terjadi di Jl. Tully. Di jalan inilah sudah ada sejumlah truk disiapkan untuk mengangkut ribuan ton puing-puing sisa gedung WTC yang telah dikumpulkan. Untuk kemudian dibuang entah kemana. Mungkin jadi urugan.

Tapi, petugas pemadam kebakaran yang sampai sekarang ini tidak diketahui identitasnya ini tiba-tiba matanya terpaku pada sebuah “pemandangan aneh” atas sebuah lempengan baja. Tidak jauh dari posisi di mana ia berada.

Maka dipanggillah fotografer itu agar bisa menjepret objek menarik tersebut.

“This shredded, burned and rubble-covered Bible came to me from the loving hands of a fireman who knew that I was the record keeper of ground zero,” kata Meyerowits kepada The Times edisi terbit September 2015 dari Italia – kini tempat tinggalnya.

“My astonishment at seeing the page that the Bible was open to made me realize that the Bible’s message survives throughout time,” katanya.

“And in every era, we interpret its teachings freshly, as the occasion demands.”

Seperti tak masuk akal

Lalu, Jumat (17/09/2021) hari ini, ada narasi buatan entah siapa. Tapi sangat menarik hingga kemudian saya mau mencomotnya dalam tulisan ini.

Siapa sangka, tulis sebuah grup WA Katolik, bahwa di balik kisah mengerikan atas runtuhnya Menara Kembar WTC itu lalu muncul analisis atas kisah itu.

Sungguh, nyaris tidak masuk akal.

Bagaimana kisah dan “loginya”, bahwa ada teks Kitab Suci bisa “ditemukan” di antara ribuan ton puing-puing reruntuhan gedung WTC.

Apalagi, bentuknya memang sudah tak lagi sempurna. Begitu narasi penulis anonim ini sebagaimana tertulis di sebuah grup WA.

Narasi itu bukan hasil tulisan pemosting. Ia hanya mengutip saja. Penulis aslinya tidak diketahui. Saya pun juga tidak tahu.

Saya hanya tertarik pada aspek menarik dan “misteri” kisah itu.

“Hancur di beberapa bagian. Tapi uniknya, Alkitab tersebut justru ikut menempel bersama puing baja rangka gedung WTC yang sudah meleleh lantaran saking efek panasnya bom yang telah meledak saat pesawat menabrak gedung kembar tersebut,” tulis narasi tersebut.

Dan yang membuat kita semua terkejut sekaligus terkesima adalah bagian isi Alkitab yang  masih terpampang jelas di bagian depan lempengan baja. Juga karena masih bisa terbaca.

Juga bagaimana proses “menempelnya” itu masih “misterius”. Apakah ini sebuah “peristiwa” rekayasa. Sengaja didesain untuk membetot atensi dan membuat sensasi.

Entahlah. Saya pun juga tak bisa memastikannya.

Secara garis besar, demikian tulis narasi itu, delapan ayat Injil Matius 5: 38-45 itu bicara tentang pengampunan.

Sama sekali berbeda dengan judul “balas dendam” yang sengaja ditulis oleh The Times.

Tentu sebagai pekerja media, kita akan mahfum dengan diksi itu sampai ditulis berbeda oleh The Times.

Berikut kutipan delapan ayat Injil Matius yang muncul di antara puing reruntuhan gedung WTC:

  • 5: 38: Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
  • 5: 39: Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
  • 5: 40: Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
  • 5: 41: Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
  • 5: 42: Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
  • 5: 43: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
  • 5: 44: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
  • 5: 45: Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Kredit: The New York Times.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here