Mozaik Bapakku

0
202 views
Ilustrasi - Mozaik bapak. (Ist)

Renungan Harian
Rabu, 29 Juni 2022
Hari Raya St. Petrus dan Paulus

Bacaan I: Kis. 12: 1-11
Bacaan II: 2Tim. 4: 6-8. 17-18
Injil: Mat. 16: 13-19
 
“DI saat kami mengenang setahun bapak telah menghadap Tuhan, aku mencoba menyusun kepingan-kepingan kenangan akan bapak.

Ada banyak kepingan pengalaman yang telah kukumpulkan sehingga kiranya tidak akan sulit aku menyusunnya.

Tetapi ternyata tidak semudah yang kubayangkan seperti menyusun puzzle yang semua bentuknya bagus dan klop satu dengan yang lain.

Melihat itu, aku tahu dan sadar bahwa bapakku bukanlah orang yang sempurna.
 
Ketidaksempurnaan itulah yang sering kali menimbulkan kejengkelan dan kekesalan dalam diriku. Kejengkelan dan kekesalanku bersumber pada banyak prasangka sehingga aku tidak mudah untuk mengerti.

Aku berjuang untuk mengerti semua itu, tapi ternyata tidak semua aku bisa karena pengertian yang muncul berkelindan dengan berbagai prasangka.

Namun di saat aku berjuang untuk mengerti dan banyak gagal untuk mengerti, bapak justru memahami aku dan saudara-saudariku.

Bapak memahami kejengkelan dan kekesalan kami.

Bapak memahami kegagalan kami untuk mengerti. Kami berpikir keras untuk mengerti bapak tetapi pada saat yang sama bapak membuka hatinya semakin lebar untuk memahami kami.
 
Perbedaan besar apa yang kami lakukan dan bapak kerjakan. Kami selalu mencoba mengerti dengan berpikir keras dan dibumbui sejumlah prasangka sedang bapak memahami kami dengan hatinya yang luas dan dalam tanpa prasangka.

Kalau boleh itu disebut sebagai prasangka adalah bapak selalu beranggapan kami semua anak-anak yang baik dan selalu mencintai dan menghormati beliau.

Dengan caranya, bapak memahami kami dan membuat kami semua tumbuh berkembang dan menjadi “orang”.

Bapak memahami kami dengan pelayanannya yang luar biasa; bahkan tidak jarang bapak berperan seperti ART bagi kami.
 
Saat ini, aku termenung di depan mozaik bapak yang belum selesai. Aku tahu dan sadar sepenuhnya lewat mozaik ini aku melihat sosok yang telah memberikan dirinya sepenuhnya untuk kami.

Ada banyak airmata dan peluh darah yang sudah tercurah untuk kami.

Lewat air mata dan peluh darah membasuh kami sehingga kami menemukan kebahagiaan dan kebanggaan dalam hidup kami.

Ada banyak kesalahan dan kegagalan yang telah kami buat tetapi semua itu telah dibasuhnya dengan air mata dan peluh darahnya.

Rasanya yang dulu aku alami sebagai luka dan kekecewaan kini aku rasakan sebagai daya dan kebanggaan untuk melanjutkan peziarahan kami.
 
Maka tidak berlebihan, bila aku dan saudara-saudariku saat mengenang satu tahun bapak berpulang bersyukur dan bersorak-sorai.

“Bersyukur karena anugerah besar yang Tuhan berikan pada kami lewat diri bapak dan bersorak-sorai. Karena dalam iman, kami yakin bahwa bapak telah bahagia bersama Para Kudus di surga. Terutama bersama Bunda Maria yang padanya bapak selalu berdevosi,” demikian syering seorang anak tentang bapaknya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Surat Paulus kepada Timotius:

“Darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan, dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil pada hari-Nya.”
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here