Muder Maria Luisa Digesu’, Pendiri Kongregasi Suster Santa Maria Berdukacita (SMBC)

0
585 views
Muder Maria Luisa Digesu’ (Maria Carmela Ascione), Pendiri Kongregasi Suster St. Maria Berdukacita.

MARIA Carmela Ascione lahir di Kota Barra, Propinsi Napoli, 28 Februari 1799. Ia adalah anak sulung dari 10 bersaudara dari pasangan dokter Giuseppe Ascione dan Fortunata Carrese dan berasal dari keluarga Katolik yang saleh.

Gadis bengal

Sebagai seorang gadis yang beranjak memasuki usia remaja,  a tidak luput dari pengaruh kehidupan duniawi. Saat masih remaja, ia dikenal sebagai gadis yang malas ke sekolah dan selalu bersolek. Itulah sebabnya sampai ayahnya mendatangkan guru pribadi untuk memberi les kepada Maria.

Dengan begitu, ia lalu mampu menghimpun sekelompok teman-teman seusianya untuk berdoa, berbagi pengalaman rohani yang dia dapat dari paroki dan sekolanya. Sejak itu, secara pelan-pelan pola kepribadiannya berubah dan malah timbul dalam dalam pikirannya akan benih panggilan mau menjadi seorang biarawati.

Berubah dan bertobat

Berbagai perubahan pun datang dalam diri Maria Carmella. Pada umur 17 tahun dan setelah berhasil menyakinkan sang ayah, Maria memutuskan bergabung masuk dalam  Ordo Benediktin Donaromita di Napoli.

Di sana ia hanya mampu bertahan selama enam bula saja. Ia sakit dan terpaksa pulang kembali ke rumah keluarga.

Setelah dua tahun mengalami penderitaan fisik lantaran penyakit, Maria Carmella memutuskan masuk biara lagi di Rumah Retret Addolorata all’Olivella di Napoli.

Setelah tujuh bulan mengikuti pendidikan Novisiat, pada usia 21 tahun dia mengucapkan Kaul Pertamanya dan mengenakan busana biara. Pada hari itu, dia menyematkan pada dirinya nama biara Maria Luisa dari Yesus.

“Wajah” Bunda Maria menggendong Bayi Yesus yang menampakkan diri pada Muder Pendiri Kongregasi Suster SMBC.

Mukjizat penyembuhan di rumah

Tetapi di tempat ini pun, Sr. Maria Luisa dari Yesus masih saja mengalami demam tinggi dan menurut perkiraan dokter dia hanya akan mampu bertahan hidup kurun waktu delapan hari saja. Karena alasan kesehatan yang tidak memadai untuk menjadi suster biarawati ini, Maria dipaksa kembali lagi pulang ke rumah orangtuanya.

Namun di rumah keluarga sendiri itu, Maria justru mengalami mukjizat. Entah bagaimana, dia dinyatakan sembuh dan menjadi sehat seperti sedia kala.

Singkat cerita, dia lalu kembali ke biara menjadi suster lagi dan tahun-tahun berikutnya malah dipercaya menjadi Superior.

Selama 14 tahun lamanya, dia dipercaya menjadi Pemimpin Tarekat. Dan pada masa kepemimpinannya itu, banyak orang tertarik pada hidup membiaranya dan kemudian menjadi penderma.

Ingin mendirikan tarekat suster

Pada tahun 1830, dia mulai  berpikir ingin mendirikan tarekat religius suster baru.  Walaupun masih ada begitu banyak  kekurangan yang dia bawa, namun Sr. Maria percaya sepenuhnya bahwa kebesaran Allah akan membantunya dalam setiap rencana  selanjunya.

Pada awal tahun 1840, akhirnya berdirilah kongregasi baru di bawah perlindungan Santa Filomena. Saat itu, Sr. Maria masih berumur 33 tahun. Namun, ia berketetapan mulai bergiat menulis serangkaian regulae yakni sejumlah aturan yang nantinya akan mengatur cara hidup para biarawati naungannya.

Pintu depan biara kedua yang didirikan. (Sr. Maria Helminia Jeniu SMBC)

Menolong banyak orang

Berkat pengalaman mistik dan kebijaksanaan yang dia dapatkan secara percuma dari Tuhan, maka Sr.Maria berhasil menarik perhatian berbagai pihak. Ada begitu banyak orang yang berhasil dia tolong dari berbagai persoalan hidup; baik sakit secara fisik maupun kemerosotan moral.

Banyak orang merasa tertolong, merasa diri telah mendapat penghiburan, kekuatan. Bersama Sr. Maria, mereka telah mendapatkan ketenangan natin.

Di kemudian hari, reputasinya mulai memancar ke mana-mana. Namanya pun semakin moncer di tengah masyarakat Napoli dan sekitarnya.

Dalam situasi apa pun, Sr. Maria selalu terbuka mau menerima semua yang datang kepadanya dan membutuhkan pertolongannya. Ia dengan senang hati selalu menyambut semua orang yang datang dengan penuh kegembiraan.

Kesaksian hidup yang ia tunjukan membuat dia semakin dicari oleh banyak orang sehingga publik lalu menyebutnya “Santa yang hidup’’.

Pada tahun 1835, Sr. Maria datang menemui Monsinyur Luigi Navaro yang kemudian menjadi Bapa Rohani sekaligus penasihat,  dan penderma bagi Madre Luisa dan lembaga tarekat religius yang baru saja dia dirikan.

Wabah kolera

Pada tahun 1836, Napoli dan sekitarnya diserang wabah kolera. Madre Maria Luisa pun ikut terserang penyakit ini dan kondisi itu menjadikan kesehatannya memburuk.

Kongregasi Santa Maria Berdukacita (SMBC)

Tepatnya pada tanggal 8 Mei 1840, setelah diskusi dan perjuangan panjang, rumah pertama berhasil diresmikan. Mengambil nama Yayasan Suster Maria Luisa di Santa Lucia, rumah tarekat baru ini di Napoli, salah satu daerah  yang paling miskin dan berpenduduk paling  banyak saat itu.

Bersama dia ada saudari kandungnya, seorang suster dan Novis dari Kongregasi sebelumnya plus tiga Aspiran muda yang di tahun 1843 mengikrarkan Kaul Pertama. Dengan proses ini, maka terbentuklah biarawati kelompok pertama yang merupakan cikal bakal Kongregasi Suster Santa Maria Berdukacita.

Makam Muder Pendiri Kongregasi Suster SMBC dengan dua figur yang memberi inspirasi mendirikan Kongregas yakni Santa Maria Berdukacita dan Santa Filomena. (Sr. Maria Helminia Jeniu SMBC)

Karya awal

Karya pertama dari para suster Kongregasi baru adalah pelayanan pastoral di paroki melalui pengajaran Katekismus dan pendidikan dasar bagi anak anak remaja di Santa Lucia. Terutama yang saat itu tidak punya kesempatan bisa mengikuti pendidikan secara formal di sekolah. Maka, para suster Kongregasi baru ini lalu mengajari gadis-gadis remaja agar bisa menata rumah.

Mungkin ini menjadi perkara sederhana pada masa sekarang. Namun pada waktu itu, hal ini tidak mungkin bisa dilakukan anak-anak gadis remaja karena waktu itu masih banyak anak-anak jalanan berkeliaran tanpa ada kegiatan-kegiatan yg bisa membantu  proses perkembangan pertumbuhan dari mereka.

Maria Luisa  berhasil menjalin persahabatan akrab dengan seorang puteri Rusia yang bernama Zenaide Volkonstky. Saat itu, suaminya baru saja meninggal dan di kemudian hari puteri dari Rusia ini menjadi penderma bagi lembaga yang baru didirikan oleh Muder Maria Luisa.

Mengapa dia mau melakukan hal itu? Itu karena dia telah menemukan ketenangan batin  dari nasihat-nasihat yang diberikan oleh Madre Maria Luisa.

Barang-barang kenangan dan tanda terimakasih dari mereka yang merasa telah terbantu oleh Muder Maria Luisa. Di Napoli, Muder Pendiri Kongregasi SMBC ini erkenal sebagai pelindung ibu hamil dan perantara doa bagi pasangan yang sulit mendapatkan anak.

Yayasan Stella Mattutina

Melihat perkembangan yang begitu pesat dari yayasan  pertama, maka yayasan kedua pun lalu berhasil diresmikan tanggal 11 Mei 1851 dengan nama “Stella Mattutina” yang artinya bintang fajar.

Nama “Bintang Fajar” ini sengaja diambil, karena Muder Maria Luisa baru saja mengalami penampakan ilahi yang kemudian dikutip dalam kisah hidupnya.

Di suatu pagi yang cerah, ia tengah berada di teras biara sambil memandang indahnya Laut Tirenio yang membasahi Kota Napoli.

Tiba-tiba suatu suara terdengar di telinganya dan membisikkan sesuatu kurang lebih demikian.

“Maria Luisa, dirikan rumahku dan ambillah nama Bintang Fajar,” demikian bunyi suara dari kejauhan itu.

Wajah para suster SMBC di Filipina.
Para suster SMBC dari Indonesia yang tinggal di Madagaskar, Afrika.

Dari arah laut yang diselimuti  awan-awan putih lalu muncul penampakan Bunda Maria yang sedang mengendong bayi Yesus. Sejak saat itu, timbullah keinginan mendirikan satu gereja kecil dan yayasan yang kedua ini.

Di biara kedua ini dan dengan berbagai pengorbanan, ia berharap penuh pada pertolongan ilahi. Di kemudian hari, Muder Maria Luisa berhasil membangun gereja yang  akhirnya bisa diresmikan tanggal 16 juli 1856;  tepatnya pada Pesta Santa Maria dari Gunung Karmel.

Ini sesuai dengan yang ada dalam penglihatannya. Tepatnya di jalan pasar Santo Antonius, Abbas Kota Madya Napoli.

Biara ketiga akhirnya dibuka di S. Severo di Puglia.

Di hadapan Bunda Maria Luisa di Gesù,  ia mempersembahkan seluruh karyanya dan beliau sampai di sana  tanggal 28 Oktober 1852.

Menulis buku

Sekitar umur 36 tahun dan demi ketaatan kepada Bapa Rohaninya Pater Luigi Navarro, Madre Maria Luisa akhirnya mulai berkarya  bidang lain, yakni menulis. Ia mengawali karyanya dengan menulis komentar atas Injil dan Bacaan dari Alkitab.

Karya pertamanya berhasil dibukukan dan keluar cetakan pertama tahun 1839 di Imola. Ini berdasarkan permintaan Uskup Mgr. Masti Feretti yang kemudian menjadi Paus bergelar Paus Pius IX.

Pada kesempatan inilah Bapa Suci bertemu dengan Madre Maria Luisa. Selanjutnya, mereka menjalin persahabatan, walaupun lewat surat. Bapa Suci sangat mengagumi Madre maria Luisa.

Komentar-komentar biblis lainbya juga berhasil dicetak. Itu terjadi setelah Madre Luisa berumur 80 tahun.

Bapa Rohani Luigi Navaro meninggal tahun 1863. Yang menggantikan posisinya adalah Pater Alberto Radente, seorang imam Ordo Dominikan.

Para suster SMBC dan seorang imam yang berkarya di Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Flores, NTT.

Karya tulisnya yang berhasil dibukukan dan dicetak adalah komentar atas Kitab Wahyu karya Yohanes, buku-buku renungan dan meditasi, buku-buku devosi. Dan buku-buku initersebar di seluruh Italia. Sementara, lainnya mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis.

Sejak Desember 1874, kesehatanya mulai menurun dan terkena penyakit hati sudah kronis. Ia sampai dia mampu bangun dari tempat tidur. Hari demi hari, kesehatannya semakin memburuk dan ia menjadi sangat lemah.

Pada tanggal 10 Januari 1875 di usianya yang ke-76, beliau menghembuskan nafas yang terakhir.

Selama tiga hari tiga malam, peti jenazahnya dibuka untuk memberi kesempatan kepada pengujung yang datang dari berbagai penjuru dan memberi penghormatan terakhir bagi Madre Maria Luisa.

Jenazahnya dimakamkan di pekuburan umum Santa a Maria del Pianto. Pada tanggal 22 April 1947, jenazahnya dipindahkan ke Gereja Stella Mattutina’ milik Suster-suster Maria Berdukacita Pelayan Maria di Jalan Pasar Santu Antonius Abbas nomor 11.

Walaupun dia sudah meninggalkan kita semua, namun dia telah mewarisi contoh-contoh hidup yang patut diteladani lewat karya-karya nyata. Ia percaya penuh kepada pertolongan Allah Bapa Yang Maha Murah agar kita tidak perlu takut akan apa yang terjadi di masa akan datang.

Itu karena Allah adalah murah hati dan memberi segala yang kita butuhkan. Yang terpenting  percaya penuh dan memilki iman yang kuat.

Menjadi tarekat religius

Sepeninggalnya, lalu banyak yayasan baru didirikan di Italia untuk menampung anak-anak telantar dan anak anak jalanan.

Para suster SMBC bersama para imam dan frater.
Para suster SMBC dari seluruh dunia.

Kongregasi ini di bawah naungan Santa Maria Berdukacita Pelayan Maria dari Napoli. Tarekat ini telah mendapat izin operasional dan resmi menjadi sebuah Kongregasi religius. Sebelumnya, hanya “berbentuk” yayasan saja “milik” Keuskupan Napoli.

Tarekat ini sudah eksis sejak tahun 1937. Namun baru melalui dekrit kepausan tanggal 15 September 1957, tarekat religius ini resmi menggabungkan diri dengan Ordo Santa Maria mulai tanggal 25 oktober 1951.

Kini, Kongregasi ini sudah tersebar di berbagai negara. Di antaranya ada di Italia, Kanada, Meksiko, Madagascar, Filipina, Indonesia, dan Vietnam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here