Mutiara Keluarga – Smart Parent, Why Not?

0
95 views
Ilustrasi: Makan-makan. (Ist)

PERNAHKAH Anda bertanya, mengapa bangsa kita gemar sekali mengkonsumsi apa pun produknya. Seakan tidak pernah merasa perlu bertanya -apalagi berpikir- tentang baik-buruknya produk tersebut?

Misalnya, produk makanan dan minuman (kemasan) apa pun, tetep aja laku, habis laris manis. Parents, para ongtua pun, tak terkecuali. Banyak orangtua seakan tak berpikir -bahkan tak pernah bertanya- sehatkah makanan/minuman yang dikonsumsi anakku ini?

Termasuk, atau terutama produk-produk makanan dan minuman yang khusus diproduksi untuk anak-anak. Seakan orangtua tidak bertanya: benarkah itu? Sehatkah untuk anakku? Bagaimana dampaknya bagi anakku?

Dampak jangka panjangnya bagaimana terkait dengan kesehatan anak nantinya? Dlsb.

Smart parents mestinya diskretif dalam memilih makanan-minuman yang akan dikonsumsi anaknya. Sebetulnya ini adalah hal yang paling mendasar, paling hakiki bagi setiap orangtua. Misalnya beberapa pertanyaan dasar yang mau tidak mau mesti kita ajukan, sebelum kita memilih produk makanan-minuman untuk buah hati kita:

  • Mengandung MSG atau tidak?
  • Kandungan gulanya seberapa? Atau bahkan pemanisnya gula asli atau bukan?
  • Ada bahan pengawetnya atau tidak?
  • Warnanya seperti apa: mencolok atau tidak? Sebaiknya dihindari makanan minuman yang warnanya sangat mencolok, sebab ada produsen yang tidak menggunakan pewarna makanan.

Bahkan barang yang alami pun bisa direkayasa. Buah semangka non biji yang warna merahnya mencolok, dan manisnya menyengat, konon itu karena disuntik dengan pewarna merah dan pemanis. Apalagi produk yang bukan alami, semuanya dapat dirancang agar digemari konsumennya.

Padahal makanan dan minuman yang digemari orang adalah yang rasanya enak. Untuk itu biasanya lantas ditambahkan bahan penyedap rasa. Yang terakhir tidak sesuai dengan norma kesehatan anak.

Penting juga memperhatikan frekuensi anak mengkonsumsi produk tersebut. Sebab efeknya berbeda sekali, antara anak yang setiap hari mengkonsumsi, atau yang cuma sekali-sekali saja mengkonsumsi produk tersebut.

Usia anak kita. Makin muda usia anak kita mestinya kita makin ketat kriteria makanan/minuman yang boleh dikonsumsi anak kita. Kemampuan tubuh anak kita dalam mengolah asupan makanan-minuman berkembang seiring perkembangan usia anak.

Tanggungjawab para orangtua tidak hanya melahirkan anak dan membesarkannya, tetapi juga menyiapkan masa depannya sebagai generasi yang smart juga.

Bagaimana melatih anak menjadi “smart generation“, kalau anak kita tak diajari mempertanyakan segala sesuatunya. Awal dari semua kemajuan ilmu adalah mempertanyakan keberadaan sesuatu.

Maka, smart parent adalah orangtua yang rajin mempertanyakan segala sesuatu terkait dengan anaknya: raganya, jiwanya, pergaulannya, teman -temannya. Asupannya, aman gak, sehat nggak. Sebab semua itu akan berdampak pada masa depan anaknya.

Misalnya apakah nutrisi anaknya cukup sehat. Kalau kurang lantas bagaimana kita orangtua dapat membantunya.

Contoh: ada orangtua yang sudah merasa cukup puas, bahkan yakin bahwa anaknya sudah cukup gizi dengan diberi minum susu formula paling canggih.

Karena itu, bila anaknya tidak mau makan tidak dipedulikan. Padahal sekaya-kayanya nutrisi dalam sufor, tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi demi tumbuh kembangnya anak.

Sama seperti smartphone, smartparent pun sebenarnya juga berpotensi mengandung hoaks. Yang saya maksud dengan “hoaks” dalam hal ini adalah kebohongan terselubung.

Contohnya, produk diiklankan sebagai makanan-minuman sehat. Yang terselubung dan yang tidak dikatakan adalah kandungan gula yang tinggi, atau kandung MSG-nya dalam produk tersebut. Belum lagi, bahan pengawet atau pewarna yang terkandung di dalam produknya

Untuk membuat konsumen tertarik biasanya mesti dibuat rasa enak. Rasa enak paling gampang, bila ditambahkan rasa manis. Padahal sudah jelas bahwa gula dalam tubuh merupakan faktor perusak organ tubuh kita.

Di era android ini, panggilan menjadi orangtua adalah panggilan menjadi “smart parent“. Smart dalam mendidik anak dan smart dalam menemani anak mengimani Tuhan dan mencinta sesama. Sebab anak kita adalah anak titipan Tuhan pada kita orangtuanya.

YR Widadaprayitna
H 230922 AA

alovingchristianfamily

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here