Ngudang

0
170 views
Ilustrasi: Nenek ngudang cucunya. (Ist)

Renungan Harian
Kamis, 23 Juni 2022
Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis

Bacaan I: Yes. 49: 1-6
Bacaan II: Kis. 13: 22-26
Injil: Luk. 1: 57-66. 80

NENEK itu begitu bangga dengan kehadiran cucu pertamanya dan lebih membanggakan, karena cucu pertamanya adalah laki-laki. Dalam pandangan nenek itu, cucu pertama laki-laki membanggakan karena akan menjadi penerus keturunan dan sekaligus penjaga keluarga.

Kebanggaan nenek itu selalu diungkapkan dengan “ngudang” cucunya. (memuji dan sekaligus menyampaikan harapan.

Setiap kali “ngudang” cucunya, nenek itu selalu mengatakan kata-kata yang sama: “Cah bagus dhewe putune mbah putri, mripate clorot-clorot madhangi jagat. Gelis gedhe ya ngger dadi cah pinter lan wasis mben donyane dadi padhang. Suk yen mbah putri tindak ora perlu nggowo senter.

(Anak paling ganteng, cucu nenek. Matanya terang cerah, menerangi dunia. Cepat besar, jadi anak yang pandai dan bijak agar dunia menjadi terang. Nanti kalau nenek pergi tidak perlu membawa senter).”
 
Sebuah “kudangan” yang luar biasa.

Suatu saat saya pernah bertanya apa arti dari doa nenek itu.

Pertama pada saat itu di desa itu belum ada listrik masyarakat desa itu menggunakan lampu minyak untuk rumahnya, dan kalau pergi keluar rumah mengandalkan senter sebegai penerang. Nenek itu menjelaskan sesuatu yang lebih dalam dari apa yang saya tangkap.

“Nenek berharap bahwa cucu suatu saat menjadi terang bagi dunia. Dunia yang gelap ini karena kurang hadirnya orang pandai yang bijak. Orang pandai mungkin banyak tetapi mana kala orang pinter tidak bijak maka membuat dunia yang gelap ini semakin menjadi gelap.

Hanya orang pinter yang bijak yang membawa terang untuk dunia ini. Orang pinter yang bijak akan menuntun sesamanya menuju pada kesempurnaan hidup.

Dan harapan nenek yang terakhir bahwa cucuku ini menyempurnakan hidup nenek, mengantar nenek pada kebenaran dan tujuan hidup yang sejati,” nenek itu menjelaskan dalam bahasa Jawa.
 
Saya tertegun mendengarkan penjelasan nenek itu.

Sebuah “kudangan” yang sederhana namun mempunyai makna yang mendalam.

Saya tertegun karena nenek sederhana, orang desa tidak pernah sekolah tetapi mempunyai pemahaman yang luar biasa.

Saat saya tanya pada nenek itu dari mana hal-hal yang mendalam itu didapat; nenek itu mengatakan bahwa semua itu didapat dari pengalaman hidup.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Yesaya, Allah mengutus setiap dari kita menjadi terang bagi bangsa-bangsa agar bangsa-bangsa sampai pada keselamatan.

Kiranya seperti “kudangan” nenek itu, salah satu cara menjadi terang adalah berjuang menjadi orang yang pandai dan bijak.

“Maka Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari padaKu sampai ke ujung bumi.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here