Olok-olok di Panggung Politik, Kekuatan Kata-kata dalam Black Campaign (3)

0
230 views
Kita Masing-masing Punya Dua Tangan dan Dua Telinga, Pakailah Tanganmu untuk Menutup Telinga ketika Gosip Menerpa (Sr Ludovika OSA)

BAGAIMANA olok-olok terjadi di dalam dunia politik? Dalam dunia politik, menjelekkan orang lain bisa disamakan dengan black campaign atau kampanye hitam.

Kampanye hitam sebenarnya semacam gosip. Hanya ini dilontarkan dalam rangka perebutan kedudukan, posisi dan kesempatan serta kepentingan pribadi/ kelompok.

Kampanye hitam (black campaign) adalah suatu upaya di bidang politik untuk merusak atau mempertanyakan lawan politik. Dilakukan dengan cara memainkan propaganda negatif pada saat menjelang pemilu serentak digelar.

Kampanye hitam yaitu suatu tuduhan atau persepsi yang tidak berdasarkan fakta atau fitnah menyangkut kekurangan suatu calon kepala daerah atau partai untuk menarik suara untuk memenangkan pemilu

Kampanye hitam adalah salah satu alat shock teraphy untuk lawan politiknya agar mengurungkan diri untuk menjadi kepala daerah.

Tindakan ini merupakan sebuah pembunuhan karakter terhadap tokoh tokoh calon kepala daerah.

Lebih lucunya isu ini beredar pada saat masa kampanye atau saat masa pemilu digelar.

Memahami lebih dalam

Tentang pendalaman makna dan akar kata “black campaign”, Liem Tjay mengutip dan menggarisbawahi apa yang ditulis oleh almarhum Romo Markus Marlon MSC begini:

  • Kata-kata (whispering campaign) yang dilontarkan lawan politiknya mampu menembus benteng atau geladak kapal yang paling tahan meriam sekalipun. Bahkan Napoléon Bonaparte (1769 – 1821) lebih takut black campaigndaripada moncong meriam.
  • “Annus horribilis” – tahun yang dahsyat; tahun yang mengerikan ini orang-orang saling menjelekkan. Yang dulu lawan, kini menjadi kawan dan sebaliknya.
  • Dalam dunia politik muncul suatu pepatah, “Hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in aeternum” – Lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan. Dulu saling memuji, namun saat ini mereka saling menjelekkan.
  • Bahasa Yunani untuk orang yang suka menjelekkan orang disebut diabolos (bhs. Latin diabolusdan bahasa Inggris: diabolic) yang juga diterjemahkan dengan “iblis.”
  • Iblis adalah teladan bagi orang yang suka menjelekkan orang lain dan baginya iblis adalah pemimpinnya.
  • Dalam arti tertentu, menjelekkan orang lain adalah dosa yang kejam. Kata sifat diabolical memiliki arti: kejam. Diabolical torture berarti penyiksaan yang kejam dan diabolical grin berarti seringai yang menyeramkan, menyeringai seperti iblis.

Bila harta benda seseorang dicuri, ia masih dapat mencarinya lagi tetapi jika nama baiknya jatuh, kerusakannya tidak dapat diperbaiki lagi.

Shakespeare (1564–1616) pernah menulis puisi: “Nama baik adalah permata indah di dalam jiwa.”

Siapa yang mencuri kantongku hanya mencuri sampah, semua itu tidak berarti. Dulu milikku, kini miliknya dan telah menjadi milik ribuan orang.

Tetapi siapa yang mencuri nama baikku, merampok sesuatu yang tidak akan membuatnya kaya dan tentu membuat aku menjadi miskin, semiskin-miskinnya.

Lalu bagaimana?

Liem Tjay pun menerawang jauh untuk mengambil kekuatan spiritual di balik makna “diolok-olok”.

Di sekitar kita ada orang yang butuh bantuan. Karena lapar, sakit, jadi korban persaingan, fitnah dan sebagainya; apakah kita berani membantu ataukah kita takut diejek,diolok, dicemooh, diasingkan, karena mau melibatkan diri dan berbagi dalam permasalahan sosial? (Selesai)

Tepian Sungai Serayu Banyumas

Nico Belawing Setiawan OMI

Baca juga: Sonya Anak Panti Alami Trauma karena Diolok Anak Haram Jadah (2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here