Pak Guru Slamet Jadi Tukang Bakso

0
177 views
Ilustrasi: Makan di warung pinggir jalan. (Mathias Hariyadi)

NAMA lengkapnya Stephanus Slamet. Ia guru kedua anak saya di SD, kawasan Tangsel, sekian puluh tahun lampau.

Lama tak jumpa, tiba-tiba, sekira enam bulan lalu, kami bertemu di samping Gereja Matius Bintaro. Slamet sedang sibuk membersihkan sebidang lahan kosong yang tak seberapa luas.

Pohon bambu ditebang, rumput disiangi dan alang-alang ditebas. Singkat cerita, Slamet sedang serius dengan pekerjaannya.

Kemudian, Slamet menyiapkan bangunan setengah permanen dengan baja ringan. Ia ikut kerja, tak hanya jadi mandor.

Dua pekan kemudian bangunan tegak berdiri. Meski dengan peluh bertetesan, rasa bahagia dan bangga tergurat di wajahnya.

Slamet mau membuka warung bakso. Diberi nama “Mie Ayam Bakso Slamet”.

Pensiun sebagai guru di bulan Juli 2019, baru dua bulan Slamet sudah punya warung bakso kecil di lokasi lain. Pelanggannya cukup ramai, tapi dia tak sreg karena warung masih disewa dengan harga 17 juta setahun. Tiap tahun harga naik, sementara dia tak merasa sebagai “Tuan rumah di warungnya sendiri”.

Itu faktor utama yang mendorong Slamet mempunyai warung sendiri. Lebih besar, lebih nyaman, di tepi jalan ramai dan yang terakhir, bertetangga dengan gereja. Mungkin dia berharap berkat Tuhan yang dikirimkan Romo setiap misa pagi terpercik sampai warungnya.

Modalnya seratus juta rupiah. Tanahnya “pinjam pakai” dari kenalan baiknya.

Mesin pembuat bakso dibeli 15 juta rupiah. Kemudian Slamet mulai PD memasang spanduk besar untuk mempromosikan dagangannya.

Warung dioperasikan seorang diri. Diawali dengan kegiatan belanja setiap sore sampai malam hari, masak dimulai pukul 04.00 pagi dan menggelar dagangannya pukul 07.00 hingga tutup pukul 19.00. Setiap hari, tak kurang sejuta rupiah dibawanya pulang. Silakan hitung sendiri cuan yang masuk ke dompetnya.

Meski menggenggam ijazah S1 dari UNJ, dan punya pengalaman mengajar lebih dari 35 tahun, laki-laki berusia 61 tahun itu bertekad menekuni dan loyal dengan profesi barunya. Pelajaran SD dan statusnya sebagai pendidik disimpan rapat entah di mana. Beberapa (mantan) murid yang minta les privat ditolaknya.

“Masak, tukang bakso kok ngelesi.”

Fenomena kegigihan seperti Slamet tak mudah dijumpai di masyarakat kita. Menggeluti karier kedua yang sangat berbeda bukan hal gampang, tapi Slamet menikmatinya. Slamet memilih hands on.

Sebetulnya dari sisi finansial, Slamet tak perlu-perlu amat. Ketiga anaknya sudah “mentas”. Ada yang jadi polisi, ada guru musik, ada teknisi. Tapi “keisengannya” membuat warung bakso malah mengubah hidupnya lebih bermakna.

Ada beberapa hal yang pantas dicatat untuk direnungkan.

Pertama, Slamet passion dengan hidupnya yang baru. Entah bagaimana menjelaskannya, seorang guru tiba-tiba menjadi pedagang bakso dan memiliki totalitas dalam menggeluti hidup barunya.

Kedua, Slamet bekerja keras tak kenal lelah. Meski tergolong lansia, tak dihiraukan peluh yang bercucuran setiap saat dan tetesan air mata yang kadang turun karena masalah yang menghadang. Jam kerjanya nyaris 24 jam. “Growth and comfort do not coexist.” (Virginia Rometty – pernah menjabat CEO IBM).

Ketiga, Slamet pantang menyerah. Prinsipnya adalah : “Jatuh 10 kali, bangkit 11 kali”. “The show must go on. Never retreat, never retract… never admit a mistake”.

Keempat, Slamet berpendapat bahwa hasil tak akan mengkhianati proses. Kandas tak ada dalam kamus hidupnya.

Kelima, Slamet percaya bahwa jalan hidup sudah ada yang mengatur. Rezeki mempunyai jalannya sendiri.

Cerita Slamet menarik disimak karena beberapa (atau banyak) teman gagal dalam mengarungi hidup keduanya.

Seorang sahabat mantan Direktur BUMN kelas menengah harus rela menutup restorannya saat pandemi mendera. Teman lain malah kehabisan “bensin” saat mengarungi profesi pasca pensiun. Hutangnya belum terbayar, usahanya terbang entah ke mana, hartanya ludes tak jelas rimbanya.

Tak dapat dipungkiri bahwa kegigihan semacam Slamet justru terjadi dari kalangan menengah ke bawah.

Perseverance dan endurance menjadi kata kunci. Sangat tidak mudah dilakukan, tapi tak sedikit yang mampu membuktikannya.

Semua yang ada di bawah langit ada waktunya. Pindah karier, seperti Slamet, bukan berarti kiamat kecil. Justru itu merupakan pintu masuk kehidupan baru yang lebih bermakna.

“Second career is not the end of the road. It is the beginning of the open highway“. (anonim)

@pmsusbandono
9 November 2023

Baca juga: Kekuasaan Itu Licin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here