Pak Guru

0
152 views

Renungan Harian
Sabtu 14 Mei 2022
Pesta St. Matias, Rasul
Bacaan I: Kis. 1: 15-17. 20-26
Injil: Yoh.15: 9-17

BEBERAPA tahun yang lalu, ketika saya dalam perjalan tugas ke pedalaman di luar Jawa, saya bertemu dengan seorang mantan frater adik kelas saya. Saya terkejut bahwa bertemu dengan dia di tempat yang amat jauh. Dia pun terkejut bertemu dengan saya; dia tidak menduga bahwa bertemu dengan saya.
 
“Mas, kok bisa tersesat di tempat ini?” tanya saya sambil bercanda. Meskipun dia adik kelas saya di seminari, tetapi umurnya lebih tua.

“Melarikan diri Mo,” jawabnya sambil tertawa.

“Wah hebat, berani sampai di tempat ini,” kata saya.

“Ah biasa saja Mo, tidak ada yang istimewa,” jawabnya.

Pembicaraan kami tidak bisa lebih lama, karena acara harus segera mulai.
 
Ketika berlangsung acara, saya tahu apa yang menjadi pekerjaan dan karya teman saya itu. Dia seorang guru dan seorang tokoh dan penggerak masyarakat. Dari cerita romo dan beberapa tokoh mengatakan bahwa teman saya telah menjadi tokoh yang luar biasa.

Banyak karya-karya besar telah dikerjakan bersama dengan masyarakat bukan hanya di lingkungan tempat tinggalnya tetapi telah meluas ke daerah-daerah lain. Bahkan seorang romo menyebut bahwa dia telah berperan seperti camat (bahkan bupati) dan lebih dari pastor paroki. Artinya dia berkarya dalam Gereja dengan luar biasa demikian pula di tengah masyarakat.
 
Ketika acara hari itu sudah selesai, saya mencari waktu untuk ngobrol dengan teman saya itu.

“Mo, saya sampai d isini sebenarnya saya menjauh dari lingkungan keluarga dan teman-teman. Setelah saya keluar dari seminari saya dapat tawaran dari seorang teman untuk menjadi guru di tempat ini. Saya langsung menerima karena memang saya ingin “melarikan diri”. Sampai di tempat ini saya bahagia karena tidak ada yang mengenal saya dan latar belakang saya, kecuali bahwa saya guru.
 
Hal itu membuat saya menjadi lebih mudah bergerak, mudah bergaul dan kemudian diterima oleh masyarakat di sini. Oleh karena itu saya dapat melakukan banyak hal dan rasanya banyak ide saya bisa diterima dan dapat dikembangkan disini. Sehingga saya merasa amat berkembang di tempat ini.

Sekarang ini saya merasa bahwa saya memang diutus di tempat ini. Betul bahwa awalnya saya “melarikan diri” namun tempat pelarian ini menjadi tempat saya berkembang dan merasa bahwa saya diutus.
 
Mo, saya ingat apa yang dikatakan pembimbing rohani saat saya memutuskan mundur dari seminari. Beliau mengatakan: “Untuk menjadi pelayan dan alat yang baik bagi Tuhan tidak harus menjadi imam. Kiranya kamu diutus untuk menjadi garam dan terang di suatu tempat bukan sebagai imam. Di sana kamu akan lebih berkembang dan berbuah banyak.” Dan itu sekarang saya merasakan kebenarannya,” teman saya bercerita.
 
Kisah yang luar biasa yang disharingkan teman saya. Dan sungguh untuk memanggil dan mengutus setiap orang dengan cara yang luar biasa agar menghasilkan buah.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Yohanes: “Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here