Pandemi Covid-19 dan Tuhan pun Diam Saja

0
374 views
Ilustrasi Coronavirus (Covid-19) by The Sun

DUNIA sedang dilanda oleh pandemi Covid-19. Virus ganas yang satu ini telah mengubah seluruh kegiatan manusia yang lazim menjadi tidak biasa.

Data sementara dari laman Worldmeters menunjukkan bahwa hingga saat ini ada:

  • 10.235.353 kasus.
  • 4.184.359 kasus aktif.
  • 57.951 dalam kondisi serius.
  •  5.546.934 pasien berhasil disembuhkan.
  • 504.060 orang meninggal dunia (Kompas.com, 29/62020).

Berhadapan dengan fakta kekejaman Covid-19 seorang umat di parokiku bernama Enrique Sanchez yang telah kehilangan sang isteri dan bayinya mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut: “Mengapa Tuhan diam saja membiarkan Covid-19 mencekik dan membunuh istri dan bayiku yang tidak berdosa? Di manakah Tuhan yang Mahakuasa dan Mahabaik itu? Apakah Tuhan tuli ataukah Tuhan tidak ada?”

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan gugatan dan pemberontakan batin Enrique atas kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan yang selama ini ia yakini dan harapkan namun tidak pernah tiba di saat keluarganya mengalami peristiwa-peristiwa pilu dan getir, yakni kematian sang istri dan bayinya.

Jeritan batin Enrique Sanchez ini mengingatkan kita pada ide trilema atau teka-teki filsuf Yunani kuno Epicorus (341-270 SM) tentang kemahakuasaan Tuhan dan kejahatan (malum) dalam dunia. 

Epicorus menulis:

“Tuhan, mau menghilangkan kejahatan, tetapi tidak bisa; atau Ia bisa, tetapi tidak mau; atau Ia tidak mau dan tidak bisa, atau Ia mau dan bisa. Jika Ia mau dan tidak bisa, Ia lemah, hal yang tidak sesuai dengan sifat Tuhan; jika Ia bisa dan tidak mau, Ia benci, juga berbeda dengan Tuhan; jika Ia tidak mau dan tidak bisa, Ia benci dan lemah, sehingga bukan Tuhan; jika Ia mau dan bisa, yang sesuai dengan Tuhan, maka dari mana kejahatan? Mengapa Ia tidak mau menghilangkannya?”

Benarkah Tuhan “lemah” dan diam saja membiarkan umatNya dibantai dengan kejam oleh Covid-19? Untuk menjawab gejolak batin Enrique Sanchez dan teka-teki Epicuros, kita akan dibantu oleh filsuf Liebniz (1646-1716) dengan ide teodisinya, yakni problem keburukan (kejahatan) yang ada dalam dunia.

Liebniz melihat keberadaan keburukan/kejahatan di atas dunia ini dari tiga aspek berikut ini.

Pertama, keburukan metafisik, seperti bencana alam.

Bencana alam adalah keburukan yang telah terkandung atau melekat dengan sendirinya di dalam dunia. Misalnya, gunung berapi meletus tidak mempunyai tujuan untuk membunuh manusia atau binatang yang ada di sekitarnya. Memang hukumnya demikian bahwa gunung yang mengandung lahar api harus memuntahkannya keluar.

Oleh karena itu, jika manusia atau binatang yang ada di sekitar gunung berapi ingin hidup mereka mestinya pergi menjauh dari gunung tersebut sebab gunung tidak bisa berpindah ke mana-mana.

Menurut Leibniz, alam ciptaan ini tidak sempurna. Jika alam ciptaan ini sempurna, lalu apa bedanya antara ciptaan dan Sang Pencipta? Keburukan metafisik ini mau menunjukkan bahwa dunia ini tidak sempurna.

Kedua, keburukan fisik, misalnya penyakit atau penderitaan. Keburukan seperti ini memiliki manfaat bagi manusia yakni supaya manusia lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan.

Ketiga, keburukan moral yaitu dosa atau kejahatan dalam arti yang sesungguhnya. Keburukan jenis ini adalah akibat langsung dari kebebasan manusia yang disalahgunakan. Tuhan tidak menghendaki adanya kejahatan.

Tuhan mencintai manusia dan memberi kebebasan kepada manusia. Namun, manusia yang dicintaiNya adalah manusia bebas yang seringkali menyalagunakan kebebasannya untuk melakukan apa yang dilarang oleh Tuhan.

Perdebatan tentang apakah Covid-19 berasal dari kelelawar ataukah virus kejam ini diciptakan oleh tangan manusia di dalam laboratorium hingga saat ini masih belum ada kepastian.

Terlepas dari perdebatan tersebut pertanyaan mendasar yang selalu muncul dalam pikiran banyak orang ialah: dari manakah Covid-19 itu berasal? Jawaban atas pertanyaan ini bisa dijawab dengan tiga kemungkinan berikut.

Pertama, sejak munculnya Covid-19 di China, dua laboratorium di Wuhan yang meneliti kelelawar sebagai sumber virus corona menjadi sorotan. Beberapa hipotesis liar pun bermunculan.

  • Hipotesis pertama menuduh para ilmuwan di Wuhan Institute of Virology (WIV) terlibat dalam percobaan virus corona kelelawar yang melibatkan apa yang disebut penyambungan gen dan virus itu kemudian lepas dan menginfeksi manusia.
  • Hipotesis kedua mengatakan bahwa kecerobohan biosekuritas staf laboratorium saat pengumpulan atau pembuangan spesimen hewan kemungkinan mengeluarkan virus liar (Merdeka.com, 3/5/2020).
  • Senada dengan pernyatan ini Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengklaim bahwa ada banyak bukti bahwa asal Covid-19 adalah dari Institut Virologi Wuhan (Kompas.com, 07/5/2020). Seandainya dua hipotesis tersebut dan klaim Mike Pompoe terbukti di kemudian hari maka pandemi Covid-19 merupakan sebuah kejahatan yang dirancang secara sistemik oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kedua, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam membantah tuduhan Presiden Donald Trump, mengatakan bahwa Covid-19 adalah virus alamiah. Senada dengan WHO para ilmuwan pun mengatakan bahwa Covid-19 menular dari binatang ke manusia. Kemungkinan penularan terjadi di sebuah pasar di Wuhan yang menjual hewan liar untuk dikonsumsi (Merdeka.com, 2/5/2020).

Seandainya Covid-19 berasal dari binatang (kelelawar), maka pandemi Covid-19 yang telah memakan ratusan ribu nyawa manusia barangkali adalah aksi balas dendam satwa-satwa liar atas kecerobohan dan kebrutalan manusia terhadap habitat mereka.

Ketiga, China mencetak miliarder baru tiga kali lebih banyak daripada Amerika Serikat pada tahun lalu. Miliarder tersebut lahir dari hasil bisnis obat-obatan dan hiburan online. Bahkan, kekayaan mereka juga meningkat meskipun muncul wabah virus corona (Kompas.com, 27/2/2020). Barangkali pandemi Covid-19 adalah permainan kapitalisme untuk meraup keuntungan berlipat ganda dalam bisnis obat-obatan, peralatan medis dan hiburan online.

Merujuk pada informasi-informasi di atas kita bisa mengambil kesimpulan sementara bahwa pandemi Covid-19 yang telah menginfeksi jutaan orang dan membunuh ratusan ribu manusia di seluruh dunia tergolong ke dalam keburukan ketiga versi Liebniz.

Mengapa demikian karena manusia dengan kebebasan yang ia miliki telah memburu satwa-satwa liar yang memiliki virus dalam dirinya dan virus-virus itu kemudian berpindah ke manusia sehingga menyebabkan manusia sakit dan meninggal dunia termasuk kematian istri dan bayi dari Enrique Sanchez.

Kita kembali ke pertanyaan Enrique Sanchez mengapa Tuhan diam saja melihat Covid-19 mencekik dan membunuh istri dan bayiku? Tuhan tidak pernah duduk diam melihat kejahatan yang dilakukan oleh manusia di atas muka bumi ini.

Menurut Leibniz, Tuhan tidak menginginkan manusia melakukan kejahatan dalam bentuk apa pun. Kita tahu bahwa dalam tiga agama besar (Yahudi, Kristen dan Islam) Allah sejak awal mula telah menetapkan hukum bagi manusia supaya manusia itu hidup sesuai dengan hukum-hukumNya.

Itu artinya Tuhan tidak pernah diam. Ia selalu mengingatkan manusia agar tidak salah mengartikan dan menyalahgunakan kebebasan yang telah Ia berikan dengan merusak sesama ciptaan lainnya. Menurut Leibniz kebebasan inilah yang menjadi akar dari segala kejahatan.

Atau dalam bahasa santo Augustinus adanya kejahatan karena kehilangan/ketiadaan kebaikan. Ya, kebebasan yang mengandung unsur-unsur kejahatan akan selalu menghasilkan bencana bagi orang lain. Dunia saat ini memang sedang mengalami kekurangan kebaikan.

Tuhan pada hemat saya selalu siap menanti manusia yang kembali kepadaNya melalui misteri kematian dalam bentuk apa pun termasuk kematian yang sangat tragis seperti yang dialami oleh istri dan bayi Enrique Sanchez.

Ia tidak akan pernah menolak ciptaanNya yang serupa dengan Dia kembali kepadaNya karena Dia adalah kasih. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengorbankan PuteraNya di atas salib supaya manusia tidak boleh mati lagi melainkan mereka memperoleh hidup yang kekal.

Paus Fransiskus dalam sambutannya di Vatikan mengatakan kepada para peziarah yang datang ke lapangan Santo Petrus: “Tetap berhati-hati, jangan ‘nyanyikan lagu kemenangan terlalu cepat!’ Virus masih ada,” (Hidupkatolik.com, 8/6/2020).

Pernyataan Sri Paus ini ingin menegaskan bahwa Covid-19 tidak akan segera lenyap dari muka bumi ini. Kemungkinan ia masih akan terus hidup dan memburu kita umat manusia. Oleh karena itu, manusia tidak pernah boleh lalai untuk terus melawan serangan mematikan Covid-19.

Cara untuk menghindari dari serangannya ialah mengikuti aturan kesehatan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here