Pandemi dan Misa Online

0
195 views
Ilustrasi: Mengikuti misa online oleh Keluarga Salihin.

Puncta 02.07.22
Sabtu Biasa XIII
Matius 9:14-17

KETIKA pandemi Covid-19 merebak menerjang seluruh dunia, semua kegiatan lockdown atau tiarap. Termasuk kegiatan peribadatan dihentikan.

Umat tidak bisa mengikuti kegiatan sakramental di gereja. Tempat ibadah atau gereja ditutup.

Dalam kondisi yang serba darurat ini, kita mencari terobosan alternatif. Maka muncullah misa-misa online.

Perayaan Ekaristi jarak jauh dibantu dengan aplikasi zoom atau google meet.

Ada pula yang membuat rekaman misa dan disiarkan kepada umat, seperti nonton siaran tunda.

Situasi tidak bisa bertemu tatap muka harus disikapi dengan berbagai cara. Situasi baru harus ditanggapi dengan cara baru.

Anggur baru harus ditempatkan ke dalam kantong yang baru pula.

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa iman melalui media adalah “bukan Gereja.”

Dalam homilinya di Kapel St. Marta pada 17 April 2020, Paus berkata, “Misa daring dan komuni spiritual tidak mewakili Gereja. Ini adalah Gereja dalam situasi sulit yang Tuhan izinkan, tetapi cita-cita Gereja selalu bersama orang-orang dan dengan sakramen – selalu.”

Ada istilah “Ecclesia Semper Reformanda.” Gereja selalu memperbaharui diri. Kondisi pandemi covid-19 adalah situasi baru dan sulit bagi Gereja.

Untuk menolong umat agar tetap setia pada ekaristi maka dibuatlah misa secara online. Kendati tidak ideal, tetapi bisa sedikit menolong umat untuk berdoa bersama.

Setelah situasi kembali normal, maka Ekaristi dengan tatap muka bisa dijalankan kembali.

Kita diajak berkumpul kembali untuk mendengarkan sabda dan memetik buah sakramen-sakramen.

Yesus mengajak para murid agar tidak terpaku pada aturan yang mati.

Ia memberi gambaran tentang kain penambal baru dan anggur yang baru. Kain baru tidak cocok ditambalkan ke kain yang tua. Nanti akan mengoyakkannya.

Demikian pula anggur baru tidak cocok ditaruh di kantong yang lama. Kantong akan koyak dan anggur akan terbuang.

Anggur baru disimpan pada kantong yang baru pula, agar kedua-duanya aman.

Haruslah kita pandai-pandai menyikapi hal-hal baru. Sangat bijaklah kalau kita berpegang pada prinsip “Fortiter in re, suaviter in modo” artinya tegas dalam halnya, lembut dalam caranya.

Seperti Yesus tetap tegas terhadap halnya, yakni puasa, namun tetap lembut dalam melaksanakan caranya.

Marilah kita pandai-pandai menyikapi perubahan-perubahan dalam kehidupan kita.

Ke pasar membeli seikat bunga,
Untuk dipajang di atas meja.
Tetap tegas dalam prinsipnya,
Namun lembut dalam caranya.

Cawas, fortiter in re, suaviter in modo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here