Panik

0
150 views
Ilustrasi - Kamar untuk isolasi diri selama pandemi covid-19. (Ist)

Renungan Harian
Kamis, 15 Juli 2021
PW. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
 
Bacaan I: Kel. 3: 13-20
Injil: Mat. 11: 28-30
 
SUATU siang, sebuah keluarga menerima berita dari puteranya di luar kota bahwa semalam dirinya baru saja kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Salah satu teman yang ikut kumpul itu ternyata positif Covid-19.

Berita itu membuat panik orangtuanya.

Puteranya mengatakan dirinya akan isoman di kota itu. Orangtuanya bingung, karena kalau puteranya kemudian ternyata tertular dan sakit, siapa yang akan mengurus di sana.

Setelah mengadakan pertimbangan, orangtuanya minta anaknya agar swab antigen. Dan apabila negatif, maka segera cari tiket untuk pulang ke rumah.

Orangtuanya memesan hotel di kotanya untuk isolasi mandiri beberapa hari supaya jelas dahulu tidak bergejala baru kumpul di rumah.
 
Hasil tes menunjukkan bahwa anak itu negatif, sehingga dia bisa pulang dan tinggal di hotel. Namun baru semalam di hotel, puteranya merasa demam dan batuk.

Orangtuanya panik lagi dan segera mengambil keputusan menyiapkan kamar terpisah di rumah untuk isolasi mandiri.

Bapaknya segera menghubungi dokter untuk minta saran berkaitan dengan yang terjadi pada anaknya.

Dokter memberi resep sejumlah obat yang harus diminum untuk penyembuhan.

Anak itu dijemput dari hotel dan diisolasi di kamar yang disediakan.
 
Beberapa waktu berjalan, anaknya malah menunjukkan gejala yang semakin parah. Ibunya bingung apa yang harus dilakukan, sementara suaminya mencoba menenangkan dengan mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja karena ada dalam pengawasan dokter.

Setiap hari isterinya ribu,t karena ia membaca media sosial yang menyarankan harus beli ini dan itu. Belum lagi mendengar dari teman-temannya yang pernah mengalami terpapar virus covid-19.

Semua yang disarankan media sosial dan teman-temannya hendak dibeli.

Suaminya mengatakan tidak perlu karena sudah dapat obat dari dokter dan itu cukup. Tetapi isterinya mengatakan yang penting sedia dulu, soal diminum atau tidak urusan nanti.

Tiada hari tanpa keributan berkaitan bagaimana merawat dan menemani puteranya. Belum lagi soal saturasi oksigen yang sering kali naik turun, lebih membuat panik.

Isterinya minta agar cari tabung oksigen untuk berjaga-jaga. Kepanikan semakin dalam manakala mendengar berita bahwa salah satu temannya semakin turun kesehatannya.
 
Suaminya suatu hari menelpon saya dan menceritakan semua itu. Suaminya mengatakan kepada saya: “Romo, sejujurnya saya juga khawatir dan panik, bagaimanapun itu anak kami, tetapi kalau kami panik membuat anak kami juga menjadi resah sehingga memperlambat penyembuhannya.

Saya berjuang untuk selalu tenang menghadapi isteri saya, walaupun kadang-kadang jengkel. Dia tiba-tiba bilang ke saya: “Mas, aku sudah beli obat ini dan itu, sebaiknya diberikan nggak ya?.”

Karena saya tidak setuju membeli obat ini itu atas saran media sosial dan teman-temannya, maka dia diam-diam membeli.
 
Romo, kami selalu berdoa dan berdoa mohon untuk kesembuhan anak kami. Saya ingat Tuhan bersabda: “Datanglah kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat.”

Saya berdoa menyerahkan beban kami, dan kami “memaksa” Tuhan agar segera menyembuhkan anak kami. Semakin kami “memaksa” semakin kami menjadi resah, dan beban kami semakin berat. Romo mohon doa dan saran.”
 
“Bapak, sabda Tuhan yang bapak kutip dan yakini itu benar namun tidak lengkap. Tuhan bersabda: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajar dari pada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan.”

Maka bukan hanya mohon dengan “memaksa” Tuhan tetapi belajar untuk memanggul beban itu.”
 
Sebagaimana pengalaman bapak itu, banyak di antara kta yang berpikir seperti bapak itu dan lupa bahwa Tuhan meminta agar aku memikul kuk yang Tuhan pasang dan belajar dari pada-Nya.
 
Bagaimana dengan aku?

Adakah aku bersedia memikul kuk yang Tuhan pasang dan belajar dari pada-Nya?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here