Paroki Pemangkat, Kalbar: Wabah Cacar Menerjang Pelanjau Sekitaran Tahun 1918 (2)

0
36 views
Sosok penduduk Pelanjau di wilayah Paroki Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalbar, tahun 1918-an. (Dok. Kapusin Pontianak)

DARI Pemangkat sebagai induknya, mulai tahun 1911 dibuka dua stasi tambahan yaitu Pelanjau dan Sempadang.

Dalam catatannya, Pastor Malachias de Jong OFMCap menulis kisah sebagai berikut.  

Ada permukiman penduduk di tepi Sungai Selakau.mSempadang adalah satu tempat di hulu Sungai Selakau. Di situ hiduplah orang-orang asal Tiongkok. Mereka datang ke Kalbar untuk mencari emas.

Bahkan di antara mereja juga sudah ada beberapa orang Katolik. Satu kapel lalu didirikan di sana.

Mgr. Pasifikus Bos pernah menerimakan Sakramen Krisma di sana. Tetapi sesudah perang pasca kemerdekaan tahun 1946-1947, bangunan kapel itu mengalami kerusakan sehingga tinggal kerangkanya saja.

Tahun 1918, wabah di Pelanjau

Pelanjau adalah salah satu kampung yang didiami oleh orang-orang Dayak (Sub Suku Kanayatn). Letak permukiman penduduk itu ada di pinggir Sungai Sebangkau.

Di situ didirikan sekolah dan asrama yang kemudian menjadi pelopor berdirinya kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop sekarang.

Jumlah penduduk di Pelanjau saat itu sangat sedikit.

Akses jalan menuju Sambas, Pemangkat, dan Singkawang sangat sulit pada waktu itu.

Oleh karena itu, keperluan sekolah, layanan medis, asrama juga susah dilakukan. Karena lokasinya sulit terjangkau dan waktu itu dianggap sangat tidak strategis.

Ketika wilayah permukiman penduduk di Pelanjau sampai mengalami wabah penyakit cacar, maka banyak anak meninggal. Termasuk murid-murid sekolah dan bahkan seorang pastor Fransiskan Kapusin.

Nama pastor yang malang itu adalah Pastor Honoratus, OFMCap. Ia sakit cacar dan kemudian meninggal di Rumah Sakit Singkawang dan kemudian dimakamkan juga di Singkawang tahun 1918.

Wabah penyakit cacar ini sampai terjadi dua kali dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. 

Lahir prematur

Kelahiran atau berdirinya Paroki Pemangkat disebut seperti bayi prematur (belum cukup persiapan). Seperti bayi prematur, Paroki Pemangkat masih sangat lemah dan mudah terpengaruh budaya atau tradisi dari luar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here