Paroki Purbayan Solo: Memaknai Keluarga sebagai Gereja Kecil dalam Formasio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan

0
18 views
Perayaan Ekaristi bersama imam tripria menjadi puncak sekaligus penutupan Novena Santo Antonius Padua yang berlangsung di Gereja St. Antonius Paroki Purbayan Solo. (FX Juli Pramana)

BERBAHAGIALAH tiap rumah tangga yang hidup dalam doa yang tekun. Yang mengarahkan seluruh anggotanya di dalam kasih dan lindungan-Mu. Dan anak-anak pun dekat dengan-Mu, Dikau menjadi kawan yang erat. Mereka saling mendengar firman-Mu giat melakukan perintah-Mu. (“Bahagialah Tiap Rumah Tangga” – Puji Syukur, 613a bait 3)

Lagu himne Santo Antonius Paroki Purbayan Solo dan lagu Berbahagialah Tiap Rumah Tangga mengalun mengiringi perarakan imam dan petugas liturgi menuju altar. Tampak dalam perarakan patung Santo Antonius Padua ditandu oleh empat orang pemuda OMK yang mengusung tandu. Mereka berpakaian lurik dan mengenakan ikat di kepalanya.

Empat orang OMK puteri menari menjadi “cucuk lampah” perarakan dalam Perayaan Ekaristi Novena ke-9 Gereja Santo Antonius Purbayan Surakarta, Kamis 13 Juni 2024.

Perayaan Novena ke-9 bertepatan dengan Pesta Nama Santo Antonius Padua pelindung Paroki Purbayan. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Robertus Budiharyana Pr Vikep Surakarta sebagai selebran utama; Bersama Romo Clemens Budiarto SJ dan Romo Joseph Situmorang SJ sebagai konselebran.

Umat Purbayan memenuhi gereja mengikuti perayaan ekaristi yang mengambil tema novena ke-9 “Keluarga sebagai Gereja kecil”.

Bacaan yang direnungkan dalam Perayaan Ekaristi ini diambil dari Yesaya 61:1-11. Kabar selamat kepada Sion dan Lukas 10:1-10. Yesus mengutus tujuh puluh murid.

Umat Paroki Purbayan Solo mengikuti ekaristi penutupan Novena Santo Antonius Padua yang juga menjadi pelindung gereja paroki. (FX Juli Pramana)

Santo Antonius Padua teladan umat

Dalam rangkaian Perayaan Ekaristi Novena Santo Antonius Paroki Purbayan terdapat lebih dari 400 doa permohonan dengan berbagai macam intensi doa umat. Intensi doa umat yang dituliskan pada kertas pada akhir Perayaan Ekaristi Novena ke-9, dilakukan pembakaran sebagai bentuk persembahan dan permohonan pada Tuhan melalui perantaraan doa Santo Antonius.

Kepala Paroki St. Antonius Purbaya Romo Clemens Budiarta SJ pada kata pengantar mengungkapkan, pada penutupan novena ke-9 Santo Antonius Padua, umat diajak memohon kekuatan. Agar Santo Antonius Padua sungguh menjadi teladan umat Paroki Purbayan, supaya kasih Allah di dalam Puteranya Yesus Kristus yang sudah dialami oleh Santo Antonius Padua bisa dirasakan dan disebarkan kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Pada novena ke-9, Romo Robertus Budiharyana menyampaikan, novena diawali tema “Keluarga Merawat Iman” dan diakhiri dengan “Keluarga sebagai Gereja Kecil”.

Di tengah-tengah dua tema direnungkan tema yang berkaitan dengan anak-anak usia dini, remaja, OMK, orang dewasa dan usia lanjut. Direnungkan mulai dari PIUD, PIA, PIR, PIOM, PIOD dan PIUL. Itulah orang-orang yang ada di dalam keluarga.

Ekaristi penutupan Novena Santo Antonius Padua di Paroki Purbayan Solo. (FX Juli Pramana)

Semua tema yang direnungkan dalam novena berkaitan dengan apa yang menjadi arah dan cita-cita Keuskupan Agung Semarang. Secara khusus tahun 2024 yakni “Formasio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan.

Formasio iman pertama dan utama terjadi pada keluarga. Sejak anak-anak, bahkan ketika masih dalam kandungan, lahir dan menjadi anak dibentuk imannya oleh orangtua. Menginjak usia anak anak, remaja dan orang muda mereka masih mendapatkan pembinaan iman dari orang tua. Mereka didampingi oleh keluarga.

Dalam kenyataan, anak-anak usia balita sering didampingi orang lain, pembantu atau kakek neneknya. Itu karena orangtua sibuk bekerja atau bekerja di luar kota. Menginjak remaja dan orang muda, kenyataan pembinaan lebih sulit. Karena mereka sudah memiliki teman-teman bergaul. Kebiasaan doa bersama dalam keluarga sudah mulai berkurang. Tradisi membaca Kitab Suci dalam keluarga semakin sedikit.

Namun demikian orangtua tetaplah menjadi pembimbing dan pembina anak-anak. Kesempatan bersama dengan keluarga memiliki waktu yang lebih lama dibandingkan Gereja yang memiliki waktu hanya satu atau dua jam saja.

Keluarga disebut “eclesia domestica”. Gereja memiliki dasar pondasi yang kuat dalam keluarga. Gereja sebagai paguyuban umat Allah memiliki dasar dalam keluarga. Maka formasio iman, keluarga memiliki waktu yang lebih banyak dibandingkan Gereja. Keluarga memiliki perjumpaan yang lebih banyak, dan ini menjadi tugas pertama dan utama dari orangtua.

Jika dikaitkan dengan bacaan Injil berkaitan dengan tuaian yang banyak namun pekerja sedikit, maka agar dapat memperoleh tuaian yang baik, perlu disadari bahwa ini tugas pengutusan bersama.

“Kita diajak bukan saja memohon agar semakin banyak penuai-penuai yang berlimpah tetapi kita perlu menyediakan diri menjadi penuai-penuai. Maksudnya Tuhan mengajak semua saja untuk ambil bagian dalam karya keselamatan melalui hidup keluarga sebagai panggilan bagi umat,” ungkap Romo Robertus Budiharyana.

Sebagai keluarga yang berada di Paroki Purbayan, Romo Robertus Budiharyana mengajak umat untuk meneladan Santo Antonius Padua sebagai teladan iman yang telah menyediakan diri menerima pengutusan Tuhan.

Menurut Romo Robertus Budiharyana, dengan tema yang dipersiapkan dan direnungkan menunjukkan, novena ini mempraktikkan, mengkonstektualkan atau mewujudnyatakan seluruh upaya dan cita-cita keuskupan. Yakni, mewujudkan formasio iman berjenjang dan berkelanjutan. Sembilan tema masing-masing tema menyasar pada kelompok-kelompok atau jenjang formatio iman yang dicita-citakan.

Keluarga medan utama perjalanan perawatan iman

Setelah perayaan ekaristi pesta nama dan penutupan novena, Ketua II DPPH Paroki Purbayan Geraldus Suyatman kepada Sesawi.Net mengungkapkan, sesuai fokus Keuskupan Agung Semarang tentang FIBB 2024, Paroki Purbayan ingin mewujudkan atau mengaktualisasikan FIBB.

“Perawatan iman, pendidikan iman sejak awal itu berasal dari keluarga. Keluarga sebagai medan utama mulai dari perjalanan  perawatan iman hingga pewartaan iman. Mulai dari PIUD (pendampingan iman usia dini) hingga PIUL (pendampingan usia lanjut), maka keluarga merupakan basis formasio iman,” kata Geraldus Suyatman.

Sukacita umat Paroki Purbayan

Setelah selesai perayaan ekaristi, umat Paroki Purbayan bersuka cita bersama dengan mengadakan pesta umat dan panggung hiburan yang dimeriahkan oleh Cong Miko yakni keroncong SMK Mikael Solo. Terlihat anak-anak muda menyanyikan lagu-lagu dengan iringan musik keroncong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here