Pastor dan Suster Damaikan Suami Isteri Pisah

0
484 views
Ilustrasi - Rukun dan rujuk lagi by Regain.

BAPERAN – BAcaan PERmenungan hariAN

Minggu, 20 Juni 2021

Tema: Saat Badai Keluarga

  • Bacaan Ayb. 38: 1.8-11
  • 2 Kor. 5: 14-17
  • Mrk. 4: 35-40.

“PASTOR, saya mau syering saja,” kata seorang bapak.

“Saya pernah bersalah pada isteri.”

“Bagaimana ceritanya?”

“Keluarga kami bahagia. Tanpa ada pertengkaran yang berarti. Biasalah, kadang ada sedikit ribut salah paham; ketidaksabaran dalam mendampingi anak-anak. Mereka tidak cepat mengerti maksud orangtua.

Isteri saya baik, taat beriman dan mengerjakan semua pekerjaan rumahtangga dengan baik. Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai ibu rumahtangga yang mengatasi segala tata rumahtangga. Hidupnya diabdikan dengan cara demikian.

Kami hidup bahagia. Saya bekerja keras agar keluarga dapat menikmati kehidupan yang layak.

Suatu ketika kami bertengkar. Anak-anak tidak tahu apa sebabnya.

Malam itu, isteri saya yang sedang hamil tidur sendiri di kamar yang lain. Besok harinya, isteri saya pergi tanpa pamit.

Saya khawatir. Ia sedang hamil.

Saya salah. Isteri tidak berkenan atas tingkah laku saya.

Kami mencari dan tidak dapat menemukan jejaknya. Sudah sepekan tidak pulang dan tidak ada berita apa pun.

Segala cara dan upaya sudah dilakukan. Hasilnya nihil.

Anak-anak sedih, menangis. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu banget. Mereka tidak mengerti apa-apa.

Kasihan anak-anak. Suasana murung, rumah terasa sepi, hampa.

Tidak ada lagi kegembiraan, apalagi makan bersama. Tidak lagi ada kata-kata ‘Bu… buk…” yang selalu kami dengar.

Kami berada dalam titik putus-asa, gelisah, bingung, kosong. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana.

Mereka masih kecil-kecil.

Saya ke paroki. Berdoa dan bercerita kepada pastor dan suster. Mereka hanya diam mendengarkan; tidak keluar satu patah kata pun. Diam seribu bahasa.”

Sebulan berlalu.

Romo Paroki lalu bertanya ke saya:,”Apakah Bapak masih merindukan isterimu? Apakah Bapak mau berubah?,” demikian kata pastor.

“Ya, tentu Pastor. Ia sedang mengandung anak kami. Saya tidak ingin kehilangan. Saya  akan berubah lebih baik, lebih sabar dan lebih setia.”

“Datanglah ke pastoran. Ibu sudah ditemukan. Jemputlah. Jangan bawa anak-anak,” kata pastor.

Saya duduk terdiam di ruang tamu pastoran cukup lama. Hati risau tak karuan, sedikit malu.

“Apakah Bapak sudah siap menerima kembali ibu? Jangan lagi dimarahi. Setialah pada iman. Jagalah keluargamu.

Selama ini, isterimu aman menginap di susteran. Ia ingin menenangkan diri di tempat yang tepat; menghindari hal-hal yang memperburuk suasana yang dapat merusak mental anak-anak.

Ibu banyak berdoa. Sekarang, pulanglah dalam kasih Tuhan,” kata Suster Moeder Biara.

Anak-anak langsung berlari menyambut dan memeluk ibunya.

“Ibu… ibu… ibu… Jangan pergi lagi. Jangan pergi ya Bu,” rengek mereka.

Ibu lalu memeluk dan membelai anaknya satu per satu. Kebahagiaan mulai dirasakan kembali.

“Saya berkomitmen untuk setia dan merawat keluarga. Saya menjaga diri dan keluarga;  menghindari hal-hal yang akan membuat peristiwa sedih terulang kembali.

Tuhan telah menyadarkan saya sebagai pria yang terberkati untuk pasangan dan bapak bagi anak-anak saya.

Saya berjanji tidak akan membuat ulah lagi; menyakiti pasangan dan keluarga. Apa pun yang terjadi, saya adalah seorang pria, pelindung keluarga.

Sesulit apa pun saya pikul salib. Saya tidak akan pernah meninggalkan keluarga.

Perkawinan kami telah diperbarui. Badai apa pun yang menimpa, kami akan tetap tenang.

Saya belajar percaya. Hati perempuan, hati seorang ibu adalah kebeningan tanpa kata;  kasih dan pengabdian hidup tanpa lelah.

Paulus meneguhkan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” ay 17.

“Setiap orang mempunyai dan mengalami penderitaan masing-masing. Milikilah rasa empati pada semua yang dijumpai.”

Tuhan, teguhkanlah imanku. Engkaulah penghiburanku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here