Pastor Misionaris: Jadi Imam, Gara-gara Astuti

0
121 views
Adorasi 24 jam hormat dan sujud di hadapan Sakramen Mahakudus di Gereja Katedral Malang. (Laurensius Suryono)

SOROT mataku langsung melotot. Ha? Kok bisa?

Pastor misionaris dari Negeri Belanda yang kukenal sangat baik itu tiba-tiba sekarang malah memberi kesan kebalikannya. Dulunya, aku mengenalnya sebagai imam yang ramah dan saleh.

Ternyata, sekarang di mataku, beliau punya rekam jejak yang membuatku menjadi terheran-heran. Tidak simpatik lagi.

Wawacara tertulis

Awalnya, saya ingin menulis tentang kisah kasih panggilannya menjadi seorang pastor misionaris.

Saya memilih pastor itu, karena yakin akan menjadi sebuah tulisan yang menginspirasi banyak orang.

Khususnya kaum muda yang masih ragu-ragu memilih panggilan hidup. Menjadi imam atau menjadi ayah yang baik dan bertanggungjawab.

Begitu pastor itu berkenan diwawancarai, saya mulai  beraksi. Wawancara diadakan secara tertulis.

Beberapa pertanyaan aku ajukan pada pastor tersebut. Salah satunya, mengapa tertarik ingin menjadi pastor.

Karena Astuti

Beberapa hari kemudian. Saya mendapat balasan darinya via email. Saya kemudian mengunduhnya. Saya cetak. Segera saya membacanya.

Sampai pada pertanyaan, mengapa ingin menjadi imam.

Jawaban intinya, karena sejak kecil saya sering mengikuti Astuti.

Sampai di situ, aku berhenti membaca. Deg. Jantungku berdegup. Terkejut. Heran. Kecewa.

Berbagai pikiran negatif tercipta dalam benakku.

Hanya gara-gara ngikutin Astuti?

Astaga. Emangnya Astuti itu kayak apa sih orangnya? Cantikkah dia? Kok mau-maunya ngikutin Astuti itu?

Kubayangkan, sebelum menjadi imam, ia pasti sering berjalan di belakangnya Astuti.

Lama-kelamaan tertarik menjadi imam.

Buyar

Gara-gara Astuti itu, aku hentikan rencana menulis tentang sejarah panggilan pastor itu. Buyar. Tidak jadi. Batal.

Kutinggalkan ruang kerjaku. Melangkahkan kaki di kebun. Mengalihkan pikiran. Memandang bunga-bunga yang indah. Menjaga hati agar tetap gembira.

Pencerahan

Beberapa hari kemudian. Suatu saat saya berjumpa dengan seorang suster senior. Saya merasa dekat dengannya.

Entah mengapa, saya menceritakan tentang rencanaku yang ingin menulis tentang sosok pastor misionaris asal Belanda itu.

Suster itu sungguh-sungguh mau mendengarkan ceritaku. Melihat wajahnya yang serius, saya bercerita semakin bersemangat. Berapi-api.

Selesai bercerita. Suster senior itu bertanya, “Suster tahu artinya Astuti?”

Dengan yakin saya menjawab, “Ya, tahulah. Astuti itu nama orang ‘kan. Perempuan.”

Suster senior itu tertawa terpingkal-pingkal. Susah berhenti.

Ia menjelaskan kalau Astuti itu dalam Bahasa Jawa yang artinya sama dengan istilah sekarang ini: Adorasi. Sembah sujud di hadapan Sakramen Maha Kudus.

Aku terkejut kedua kalinya. Mulutku sedikit terbuka. Jadi, Astuti itu artinya bersembah sujud?

Ya ampun.

Tak pernah aku menyangka kalau Pastor Belanda itu malah sengaja memakai Bahasa Jawa dalam penulisannya.

Bagi saya, pengalaman ini sangat berharga. Ada rasa malu di hati saya. Saya harus mencari tahu terlebih dahulu sebelum saya menilainya.

Memperluas wawasan. Miskin pengetahuan. Cara berpikir.

Selain itu, tidak menilai seseorang negatif dari sudut pandang saya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here