Patung Pieta Karya Michelangelo

0
248 views

Puncta 29.05.23
PW. St. Perawan Maria, Bunda Gereja
Yohanes 19:25-34

MEMASUKI Porta Sancta di Basilica St. Petrus, langkah kita diarahkan ke sebelah kanan dan langsung menemukan Patung Pieta yang sangat monumental.

Patung itu dibuat tahun 1498 saat Michelangelo baru berusia 24 tahun.

Banyak orang mengagumi karya besar Michelangelo ini. Bagaimana perasaan Bunda Maria yang memangku puteranya yang baru saja diturunkan dari salib sangat tergambar dengan jelas.

Tubuh Yesus yang lemas, guratan ototnya, kepala-Nya yang terkulai dan pandangan Maria yang menunduk melukiskan hubungan ibu dan anak yang sangat dekat.

Maria harus menerima kenyataan dari apa yang pernah dikatakan kepada malaikat di Nazaret. Ia pernah berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Ia memangku jenasah Anaknya yang dilahirkan dari rahimnya sendiri dengan penuh keikhlasan dan ketulusan.

Seindah-indahnya dan sehebat-hebatnya karya Michelangelo, itu hanyalah patung. Yang lebih hebat adalah karya Allah sendiri yakni manusia yang hidup, kita semua.

Setidak-tidaknya melalui patung Pieta kita bisa merenungkan cinta kasih Maria yang sangat total kepada Puteranya dan juga kepada kita semua.

Ketika digantung di kayu salib, Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes murid-Nya. Yohanes mewakili seluruh anggota Gereja yang diserahkan kepada perlindungan Maria.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu.” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu.”

Hari ini kita memperingati Santa Perawan Maria sebagai Bunda Gereja. Setelah hari Pentakosta, Gereja yaitu persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus terbentuk.

Hari ini kita mengenangkan Perawan Maria sebagai Bunda Gereja, bunda kita semua.

Tugas Maria diteruskan dengan melindungi dan menjaga Gereja yakni kumpulan umat beriman. Dengan ketaatan imannya yang tulus dan kasihnya yang total, Maria melindungi kita semua sebagai anak-anaknya.

Maria berjalan bersama seluruh anggota Gereja untuk mengarungi zaman. Ia berbelasa dan solider dengan mereka yang menderita, berbeban berat, memanggul salib seperti Puteranya.

Seperti tergambar dalam Pieta, Maria juga memangku kita semua yang sedang susah menderita karena berbagai persoalan hidup.

Maria menjalankan tugas yang disabdakan Puteranya, “Datanglah kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan bagimu.”

Jangan takut dan sungkan untuk datang kepada Maria, bunda kita. Dia pasti akan meringankan beban derita kita.

Jrih tresna kawula katur njeng ibu (Tulus kasih kami untuk Sang Ibu tercinta)
Wit paduka kenya ibu ning Widi (Karena engkau perawan dan Bunda ilahi)
Duh ibu ing swarga putranta nedya (Duh Ibu di surga, putra-putrimu ingin)
Nimbangi tresnanta ing salaminya (membalas cintamu selama-lamanya)

Cawas, Bunda Maria doakanlah kami anak-anakmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here