Paus Fransiskus: Imam Tetap Selibat, Tolak Tahbiskan Pria Menikah Jadi Pastor di Amazon (1)

3
686 views
Ilustrasi: Film "The Two Popes" tentang diskusi mengenai membangun tembok atau mau berubah antara Paus Benedictus XVI dan Kardinal Bergoglio yang kemudian menjadi Paus Fransiskus. (Ist)

GAGASAN kontroversial itu akhirnya membentur tembok keras. Dan tembok keras itu adalah tradisi Gereja puluhan abad usianya. Yakni, imam atau pastor terkena kewajiban harus hidup wadat tidak menikah.

Istilah kerennya adalah selibat (celibacy).

Gagasan kontroversial itu muncul dalam kertas kerja dan menjadi semacam “rekomendasi” bagi Vatikan untuk mengatasi kekurangan pastor di kawasan terpencil di pedalaman Amazon, Amerika Latin. 

Sebagai kertas kerja, maka gagasan itu masuk kategori sekedar usulan saja. Biarlah Tahta Suci yang akhirnya memutuskannya.

Diterima atau ditolaknya gagasan itu adalah murni hak “prerogatif” Paus selaku Pemimpin Gereja Katolik Sedunia.

Ternyata, pada hari Rabu tanggal 12 Februari 2020, jawaban Vatikan jelas. Paus Fransiskus menolaknya.

Dengan demikian, ide “baru” sekaligus kontroversial bahwa pria menikah yang dianggap “layak” dan baik boleh ditahbiskan menjadi imam dengan sendirinya gugur.

Praktik hidup selibat merupakan hal esensial bagi setiap pastor atau imam Katolik di mana pun berada. Bahwa ada imam-imam dari Gereja Anglikan, misalnya, menikah dan punya keluarga, maka hal itu mesti dilihat dalam konteks yang berbeda.

Para imam religius dari berbagai Ordo dan Kongregasi mengucapkan Kaul Kemurnian sebagai “janji” hidup wadat tidak menikah demi Tuhan dan Gereja-Nya.

Para imam diosesan yang menginduk pada Keuskupan juga melakukan praktik hidup selibat, meski hal itu tidak mereka ungkapkan dalam bentuk Kaul Religius.

Komentar Vatikan

“Kondisi situasional di Amazon memang sangat menantang,” demikian Paus Fransiskus dalam risalah tulisannya merespon “kertas kerja” hasil Sinode Amazon tahun 2019 lalu.

“Namun kondisi itu tidak harus menjadikan kita senang lantaran munculnya ‘solusi’ yang  mereka pikirkan guna menjawab hanya sebagian tantangan itu,” demikian siaran resmi Vatikan yang dirilis berbagai media internasional.

Sebaliknya, Paus malah mengimbau para Uskup di Amerika Latin agar semakin gencar melakukan promosi panggilan agar semakin banyak pemuda Katolik dengan senang hati menjadi imam.

Juga bahwa semakin banyak imam dengan sukahati rela menjadi misionaris di kawasan Amazon.

Bulan Oktober 2019 lalu, tidak kurang 184 Uskup telah berkumpul di Vatikan untuk membicarakan masa depan Gereja di Amazon.

Pada saat itulah sudah mulai muncul gagasan baru nan kontroversial bahwa pria menikah baik-baik sebaiknya boleh menerima Sakramen Imamat dan ditahbiskan menjadi imam.

Istilah kerennya untuk menyebut pria baik-baik yang layak ditahbiskan itu adalah viri probati.

Gagasan “spontan” –meski juga dibicarakan sangat serius dalam Sinode Amazon—itu diretas, karena para Uskup melihat bahwa 85% kawasan terpencil di Amazon tidak  bisa mengikuti Perayaan Ekaristi mingguan lantaran ketiadaan imam.

Umat Katolik di sana bahkan mengeluh, belum tentu dalam setahun itu mereka bisa “bertemu” pastor dan bisa mengikuti Perayaan Ekaristi.

Kalangan konservatif  Gereja Katolik di Eropa dan Amerika menolak gagasan kontroversial tersebut.

Banyak Vaticanisti (pengamat isu-isu Vatikan) berpandangan bahwa “keputusan” penolakan Paus Fransiskus atas ide kontroversial merupakan cerminan kemenangan kubu konservatif di mana Paus Emeritus Benedictus XVI masuk di dalamnya.

Ikut dalam barisan ini adalah Kardinal Robert Sarah.

Awal tahun ini, Kardinal Sarah membuat sensasi dengan terbitnya buku baru bertitel From the Depths of Our Hearts di mana di situ selibat dibahas sebagai hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Alias, selibat adalah harga mati bagi para imam.

Buku tersebut menuai sensasi, karena mencantumkan nama Paus Emeritus Benedictus XVI sebagai co-author. Belakangan, atas permintaan Paus Emeritus Benedictus XVI, namanya minta dicabut sebagai co-author buku tersebut.

Paus Fransiskus sendiri secara personal mengatakan dirinya cenderung memilih kata “tidak” atas opsi viri probati sebagaimana diusulkan sebagai “kertas kerja” hasil akhir Sinode Amazon tahun lalu.

“Selibat pada hakikatnya adalah anugerah Tuhan untuk Gereja. Karenanya itu, saya mau mengatakan ‘tidak’ atas opsi lain misalnya tidak selibat,” katanya dalam keterangan pers di dalam kabin pesawat sepulang lawatan pastoral di Panama bulan Januari 2019 lalu. (Berlanjut)

PS: Diolah dari berbagai sumber seperti BBC International, AsiaNews.

3 COMMENTS

  1. Ketika saya membaca judul yqng sangat polemik tersebut bagi dunia kita yang makin hedonis ini, terbersit di pikiran saya, apakah tradisi kerasulan Gereja ini akan kalah oleh arus zaman hedonis .? Saya termasuk yang memnghela nafas lega. Mengapa..setelah saya sampai diusia 51 tahun inipun saya hidup dalam gereja Katolik Roma, masih melihat, mengamati dan merasakan adanya hal yang sangat sakral di mana Tuhan hadir dalam cara hidup wadat tersebut. Dan sebagai orang yang sangat awam mengenai hal tersebut saya tetap merasakan adanya kharisma Kristus yang hadir diantara kemurnian hidup selibat itu sendiri. Bahwa diakui manusia sangatlah rapuh terhadap segala godaan, tetaplah Kristus yang hadir menguatkan dan memberi sandaran bagi para Imamnya. Teruslah wariskan hidup murni bagi Allah dalam segala jaman…berkat Tuhan untuk para Imam yang melayani altar bagi seluruh umat disudut sudut dunia manapun bahkan di amazon yang penuh tantangan. Menjadi sangat berhargalah Hosti Suci yang disakralkan dalam ekaristi oleh Para Imam..karena kepada merekalah Kristus mewariskan imamatNya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here