Paus Fransiskus Sudah Balik ke Vatikan untuk Memulai Sinode Keluarga

0
1,222 views

SINODE  Keluarga di Roma akan segera mulai tanggal 4–Oktober 2015. Dalam rangka persiapan Sinode Keluarga itu, Paus Fransiskus berbicara banyak sekali tentang keluarga selama kunjungannya ke Kuba dan Amerika Serikat.

Menurut Radio Vatican yang kebetulan saya dengar lewat streaming, Paus menyiapkan 26 khotbah dan sambutan selama perjalanan itu, empat khotbah dalam bahasa Inggris dan sisanya dalam bahasa Spanyol. Paus bicara dalam bahasa Inggris kepada Konggres Amerika, karena Konggres adalah perwakilan rakyat Amerika yang berbicara bahasa Inggris. Hal itu untuk menunjukkan penghormatan kepada rakyat Amerika.

Kalau tidak salah hanya Paus Fransiskus ini yang pertama kali mendapat kesempatan berpidato di hadapan Kongres Amerika. Sedangkan di PBB, Paus berpidato dalam bahasa Spanyol karena bahasa Spanyol adalah salah satu bahasa resmi yang bisa dipakai di PBB.

CNN International menyiarkan secara penuh kunjungan Paus di Amerika. Kebetulan saya menonton beberapa saja dari CNN itu, salah satu diantaranya adalah Pertemuan Paus dengan keluarga-keluarga di Philadelphia yang berlangsung sampai pukul 22.00 malam atau jam 10.00 pagi waktu Pineleng.  Uskup Agung Philadelphia, Mgr. Charles Joseph Chaput OFM, mendampingi Paus dalam pertemuan itu.

Uskup Chaput sering muncul dalam pemberitaan di Amerika karena kepandaiannya menulis dan berkhotbah. Sebelumnya Mgr. Chaput adalah Uskup Agung di Denver lalu diinstalasi (dipindahkan) ke Keuskupan Agung Philadelphia yang lebih besar dan menjadi tuan rumah Pertemuan Keluarga Nasional di Amerika.

Paus bicara dalam Pertemuan Keluarga itu begitu lama, santai, mendalam, membuat humor, sepertinya Paus menikmati kebersamaan berada di tengah–tengah keluarga. Paus menegaskan perlunya memberikan perhatian kepada anak-anak dan opa-oma dalam keluarga, dan mereka bertepuk tangan tanda setuju dan tanda terharu karena perhatian

Paus begitu konkret.

Dalam pertemuan keluarga di Benjamin Franklin Parkway itu, Paus mengatakan bahwa ‘keluarga adalah jaminan pengharapan dan kebangkitan. Kita harus membela keluarga, karena masa depan tergantung darinya. Bangsa yang tidak memperhatikan anak-anak dan opa-oma adalah bangsa yang tidak memiliki masa depan, karena mereka tidak memiliki kekuatan dan kenangan utuk maju ke depan. Anak-anak dan opa-oma adalah kekuatan dan kenangan itu, yang diperlukan oleh keluarga-keluarga untuk membangun masa depannya. Paus melanjutkan renungannya tentang keluarga dengan spontan dan mengesampingkan teks yang telah disiapkan.

Paus mulai dengan mengutip pertanyaan seorang anak padanya pada suatu hari, “Bapa…apa yang Tuhan lakukan sebelum menciptakan dunia ini?” Dan saya mau mengatakankepada kaliam semua di sini bahwa saya berfikir keras untuk menjawab pertanyaan itu, dan sekarang saya ingin katakan jawabannya kepada kalian: Sebelum menciptakan dunia ini, Allah mengasihi! Karena Allah adalah kasih. Kasih-Nya begitu besar (His love was so huge).

Dan kasih Allah yang begitu besar itu tidak dapat bersifat egois, melainkan keluar dari diri-Nya, Allah membagi-bagikan kasih-Nya kepada ciptaan di luar diri-Nya.

Demikianlah, Allah menciptakan dunia dan segala isinya. Allah menciptakan dunia yang begitu indah tempat kediaman kita ini dan yang sedang kita hancurkan sendiri ini. Hal terindah yang Allah lakukan menurut Kitab Suai adalah menciptakan keluarga. Allah menciptakan manusia dan memberikan kepada mereka semuanya. Ia memberikan kepada mereka dunia ini. Semua cinta kasih-Nya, Allah tumpahkan ke dalam ciptaan, yaitu kepada keluarga. Semua keindahan kasih dan kebenaran yang ada pada Allah diberikanNya kepada keluarga. Dan sebuah keluarga hanyalah keluarga ketika mereka membuka kedua tangannya untuk menerima kasih Allah itu.”

“Memang dalam keluarga bukan hanya terasa sorga. Kehidupan memiliki banyak masalah. Kejahatan pertama, Kain membunuh Abil juga terjadi di dalam keluarga. Dan perang pun terus terjadi di mana-mana. Jadi, di satu pihak kita memiliki segala keindahan dan kebenaran kasih Allah dan di lain pihak kita menyaksikan penghancuran perang.”

“Sekarang kita berjalan di antara celah kedua lorong itu, dan tergantung dari kita sendiri, jalan mana yang akan kita tempuh? Marilah kita ingat kembali ketika manusia pertama dan isterinya membuat kesalahan dan menjauh dari Allah. Tetapi Allah tidak meninggalkan mereka karena Allah mengasihi mereka. Allah justeru memutuskan untuk menemani mereka dan berjalan bersama-sama dengan manusia, sampai waktunya tiba ketika Ia menyatakan kasih-Nya yang paling besar dengan memberikan Putera-Nya. Dan ke mana Allah mengutus Sang Putera itu? Ke dalam sebuah keluarga.”

Masih banyak yang diucapkan Paus dan dicatat oleh Andrea Tornelli, tidak lupa pula bagian Paus membuat humor.

Paus mengatakan, “Mungkin beberapa dari kalian akan mengatakan kepada saya, “Paus berbicara seperti itu karena anda tidak berkeluarga. Hidup berkeluarga itu susah; kami menghadapi banyak kesulitan, sering bertengkar, sering terjadi piring terbang. Anak-anak sering membuat kepala pusing. Saya tidak mau tambah lagi kesulitan-kesulitan yang datang dari mama mantu…(dan semua tertawa riuh…).”

“Memang, salib selalu hadir dalam keluarga karena kasih Allah, karena Putera Allah membuka jalan keselamatan bagi kita. Di balik salib hadirlah cahaya kebangkitan karena Putera Allah telah membuka jalannya. Keluarga adalah tempat terjadinya pengharapan dan kebangkitan itu.”

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here