Pedagogi Ignatian vs Pedagogi Brotowali (3-Habis)

2
2,680 views

KETERKEJUTAN kedua bapak-ibu sebagaimana ditulis di bagian pertama artikel ini tentunya sangat beralasan kalau mempertimbangkan Konsep dan Paradigma Pedagogi Reflektif atau Pedagogi Ignasian sebagaimana dipaparkan di bagian kedua artikel ini.

Ketinggalan Jaman

Ketika sang anak diwajibkan membuat rompi karung goni, tas karung terigu dan topi dari bola plastik, dan lebih-lebih dalam hari pertama sang anak ternyata sudah mendapat bentakan, olok-olok, hukuman fisik, intimidasi verbal, maka sang orang tua pun makin bertanya-tanya “kok ya masih ada Masa Orientasi Siswa yang seperti ini? Ini sudah ketinggalan jaman!”, “Katanya sekolah katolik, kok tidak memberikan simulasi pendidikan nilai yang lebih progresif, modern dan maju?”, “Mana pendidikan nilainya?kok baru masuk, watak dan karakter yang ditonjolkan malah sangat militeristik, penuh keseragaman dan intimidatif?”

Panggung Olok-Olok

Rompi karung goni, tas karung terigu, topi bola plastik, brotowali dan beras kencur, balon, kaos kaki beda warna seringkali menjadi atribut wajib peserta MOS. Pembina MOS yang demikian ini seringkali berpendapat bahwa semua ornamen itu adalah simbol, dan tanda yang harus dikenakan siswa baru.  Namun mungkin tidak dipertimbangkan bahwa penggunaan ornamen dan simbol/tanda yang demikian itu sudah tidak relevan lagi apalagi digunakan di dalam pendidikan. Itu adalah ornamen dan atribut “olok-olok” dan dengan mewajibkan peserta didik baru mengenakan semua itu mulai di hari pertama sebenarnya sekolah sudah membiarkan mereka ini masuk dalam panggung olok-olok dan secara resmi boleh dipermainkan, diintimidasi selama MOS berlangsung.

Pedagogi Brotowali

Suasana MOS dalam Pedagogi Brotowali ini dilangsungkan dalam suasana yang tegang, penuh intimidasi verbal, dan sanksi/hukuman. Ini persis dengan suasanan perploncoan dalam dunia pendidikan di era orde baru. Ukuran baik-buruknya adalah sejauh mana MOS bisa berlangsung secara keras, intimidatif, militeristik dan spartan. “Bumbu sedap” MOS adalah sejauh mana para siswa senior dan bahkan alumni bisa melihat bahwa peserta didik “dikerjai”, diintimidasi, diperlakukan konyol, ketakutan dan bisa ditertawakan. Tidak sedikit dari para murid, guru dan alumni meyakini bahwa MOS yang keras itu mendidik, dan lebih jauh lagi, para siswa senior dan alumni sungguh berbangga dan selalu membanggakan karena sudah pernah melewati MOS yang keras.

Budaya Kekerasan

Secara tidak sadar, tradisi yang demikian sebenarnya merupakan mata rantai budaya kekerasan secara turun temurun di kalangan para siswa. Tidak heran bila misalnya kegiatan MOS ini menjadi sebuah “ajang hiburan” bagi siswa senior dan alumni. Kepuasan melihat siswa-siswi baru tersebut diintimidasi, ketakutan bahkan menjadi pembicaraan di media sosial seperti Facebook dan Twitter. Tak jarang beberapa dari mereka bahkan “patroli” di dunia maya untuk menjaring komentar-komentar negatif dari siswa-siswi baru, yang nantinya komentar itu akan dipakai menjadi “alat” intimidasi kepada mereka.

Pedagogi Ignasian vs Pedagogi Brotowali

Fenomena seperti tersebut di atas penting untuk diperhatikan karena bisa sungguh mencederai inisiasi nilai-nilai pendidikan ignasian dan paradigm pendidikan reflektif. Pendekatan militeristik, yang keras, spartan dan intimidatif serta cenderung mengolok-olok pada dasarnya berangkat dari filosofi bahwa manusia hanya bisa berubah bila dia didesak, diperintah dan diatur secara seragam. Ini bukanlah filosofi yang mendasari Latihan Rohani Santo Ignatius dan pola pendidikan ignasian, yang justru memandang pribadi manusia sebagai pribadi yang unik dan positif. Pola militeristik dan perploncoan justru tidak menempatkan ketrampilan berdialog, menerima perbedaan dan keunikan sebagai keutamaan yang mendasar. Pola militeristik dan perploncoan hanya akan memperkuat tendensi konformitas yang ada pada anak usia remaja, dan tidak melatih peserta didik untuk bisa mandiri berpendapat, memiliki integritas, bersikap otentik dan berani berbeda pendapat. Dalam metode perploncoan, orang tidak dilatih mengambil resiko karena apapun yang diperbuat akan selalu salah dan mendapatkan hukuman. Tidak heran peserta didik akan rela berbuat konyol apapun yang disuruhkan (termasuk makan atau minum apa saja yang disuruhkan) agar tidak ada hukuman berat dijatuhkan kepadanya.

…Pendekatan militeristik, yang keras, spartan dan intimidatif serta cenderung mengolok-olok pada dasarnya berangkat dari filosofi bahwa manusia hanya bisa berubah bila dia didesak, diperintah dan diatur secara seragam. Ini bukanlah filosofi yang mendasari Latihan Rohani Santo Ignatius dan pola Pendidikan Ignasian..

Dalam konteks ini, bisa dipahami mengapa para siswa senior dan alumni sangat antusias “menonton’ MOS, karena memang demikianlah kultur perploncoan. Sekali seorang anak masuk dalam kultur tersebut, maka dia secara sadar atau tidak sadar masuk di dalam lingkaran kekerasan dan menikmatinya. Dia menikmati kultur ini sebagai sebuah “anamnesis” alias pengenangan kembali atas masa-masa menakutkan yang sudah dilewatkannya (nostalgia) tetapi juga menjadi bagian dari aktor atau spektator kekerasan yang baru dengan melakukan tindakan verbal intimidatif atau menyaksikan intimidasi yang ada. Saya kira sekolah katolik apalagi yang berdasarkan Pedagogi Ignasian atau Paradigma Pendidikan Reflektif sepantasnya tidak membiarkan tradisi, iklim dan atmosfer macam ini hidup di dalamnya.

Spiritualitas dan Pedagogi Ignasian

Spiritualitas Ignatian dan Pedagogi Ignatian adalah kedua hal yang bertautan erat.  Konsep pendidikan dari Santo Ignatius yang dikenal lewat kolese-kolese Jesuit yang handal di banyak negara sebenarnya merupakan pengembangan konsep tentang panggilan hidup manusia sebagaimana ada dalam Latihan Rohani. Maka apabila sekolah/kolese Jesuit atau sekolah katolik dengan Paradigma Pedagogi Reflektif tidak kembali dan menimba sumber semangat dasar ini, kegiatan seperti MOS ini kalau tidak hati-hati bisa justru mengkhianati semangat dan konsep pendidikan yang ditawarkan Ignatius sendiri. Kalau yang terjadi memang demikian, maka pertanyaan yang mendasar adalah apakah para pendidik kita di sekolah katolik atau kolese dan sekolah dengan Paradigma Pendidikan Reflektif sungguh memahami spiritualitas ignasian ini yang merupakan jantung dari Pendidikan Ignasian?

Augustinus Widyaputranto, pernah menjadi pendidik di sebuah kolese Jesuit, mahasiswa program S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

2 COMMENTS

  1. Setuju, Mas Widyo
    proses ini inisiasi (mos) memang perlu dikaji ulang secara reflektif, karena dengan atmosfer penuh tekanan, tidak semua pesertanya dapat menangkap esensi-esensi spiritualitas ignatian yang ingin disampaikan.

    terus terang saya sendiri baru dapat mengolah / mendalami spiritualitas ignatian dengan lebih baik setelah saya menjadi fasilitator dalam mos tersebut, bukan saat saya menjalani sebagai peserta mos.

    namun yang tidak dapat dilupakan adalah pendekatan militeristik yang digunakan juga bertujuan untuk membentuk karakter yang tanguh, pantang menyerah, memiliki solidaritas yang tinggi dengan teman – teman seperjuangan, dan juga menumbuhkan kecintaan yang mendalam bagi almamater.

    Besar harapan saya agar dapat membahas topik ini lebih lanjut dengan mas Widyo secara langsung,
    karena dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, wawasan, dan pengalaman yang kita dapat 3 tahun terakhir ini, semoga dapat memperkaya dan dapat membahas Topik inisiasi ini dengfan lebih obyektif.

    Terima Kasih
    Berkah Dalem
    AMDG

    eko budiharmaja
    tim orator popsila 2008

  2. mas eko, ada kutipan dalam artikel yang menarik:
    “Pendekatan militeristik, yang keras, spartan dan intimidatif serta cenderung mengolok-olok pada dasarnya berangkat dari filosofi bahwa manusia hanya bisa berubah bila dia didesak, diperintah dan diatur secara seragam. Ini bukanlah filosofi yang mendasari Latihan Rohani Santo Ignatius dan pola Pendidikan Ignasian..”

    Pembentukan karakter yang tangguh tidak harus melalui cara militeristik. Pendidikan nilai dan kedisiplinan pun juga tidak harus identik dengan kultur militeristik. Orang harus diajak untuk belajar memilih….belajar mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Ini saya kira pembelajaran yang lebih penting ketimbang harus “patuh”, seragam dan ikut perintah. Kultur militeristik tidak menghargai perbedaan, semua harus seragam dan patuh.Saya kira bukan begini pedagogi ignasian bukan? mari berdiskusi mas eko…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here