Pedalaman Paroki St. Maria Bunda Allah, Sanggau: Ke Stasi Kenunai di Nanga Mahap Butuh Perjuangan tak Mudah Letoy di Jalan

4
230 views
Ilustrasi: ibadat bersama Umat Stasi Kenunai, Paroki Santa Maria Bunda Allah di wilayah Keuskupan Sanggau, Kalbar. (Sr. Ludovika OSA)

PERJALANAN menuju sebuah titik lokasi Stasi Kenunai, Paroki Santa Maria Bunda Allah di wilayah gerejani Keuskupan Sanggau di Provinsi Kalbar ini sangat menegangkan. Lantaran kondisi jalan tidak semulus jalan aspal di Kota Ketapang di mana penulis selama bertahun-tahun sebelumnya pernah berkarya.

Pagi itu, niat untuk berangkat turne ke pedalaman ini sebenarnya hampir pudar. Itu karena sebelum berangkat, banyak umat paroki sudah mengatakan kalau akses jalan menuju Stasi Kenunai sangat buruk.

Belum lagi, sehari sebelumnya terjadi hujan semalaman. Pastinya jalanan akan banyak tergenang air. Pun pula, lokasinya juga sangat jauh dengan waktu tempuh juga lama.

Namun dengan keyakinan kuat, saya mengatakan dalam hati, tetap ingin melakukan pelayanan pastoral di Stasi Kenunai di Paroki Santa Maria Bunda Allah, Keuskupan Sanggau, Kalbar. Dan akhirnya, rombongan memutuskan berangkat.

Kami berangkat dari pusat paroki pukul 06.00 WIB mengunakan sepeda motor. Dalam perjalanan ini, saya merasakan sukacita.

Jalanan sempat banjir.
Jalanan penuh kobangan bubur lumpur.

Walapun kondisi jalan sangat memperihatinkan, namun setelah berjam–jam duduk di atas sepeda motor akhirnya kami sampai di sebuah aliran sungai milik masyarakat untuk bisa singgah di sana untuk sekedar membersihkan diri dari lekatan lumpur dan lainnya.

Kami sampai di lokasi kurang lebih pada pukul 08.00 WIB dan langsung disambut baik oleh umat di rumah pemimpin umat setempat.

Makan pagi sangat enak

Perjalanan ini benar-benar telah menguras energi. Akses jalan yang penuh kubangan lumpur sudah membuat perut kami cepat merasa lapar sebelum waktunya.

Sarapan pagi kedua yang disiapkan umat membuat kami makan dengan sangat antusias.Juga nikmat dan enak rasanya di lidah.

Bebersih diri di sebuah aliran kali kecil milik umat setempat.

Setelah makan pagi, kami lalu menyempatkan diri mengunjungi kapel lokal untuk melakukan ibadat bersama. Ketika saya masuk bangunan kapel ini, terasa ada atmosfir lain yang bisa saya rasakan dibanding dengan bangunan kapel lainnya.

Dan benar saja. Ketika saya menginjak lantai menuju altar, pempimpin umat sampai mengingatkan agar saya selalu berhati-hati saat berjalan. Ini karena sebagian lantai kapel itu sudah bolong-bolong.

“Kapel ini juga sudah hampir ambruk,” begitu pemimpin umat mengingatkan kami.

“Coba suster perhatikan dari arah belakang,” begitu ajaknya.

Sejenak saya melangkahkan kaki untuk menuju belakang bangunan kapel ini. Dan memang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Bangunan kapel ini memang sudah reot.

Menurut pemimpin umat setempat, bangunan kapel ini berdiri sejak tahun 1988.

Merayakan ibadat bersama Umat Katolik Stasi Kenunai, Paroki Santa Maria Bunda Allah, Keuskupan Sanggau, Kalbar.

Tidak punyai Kitab Suci

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan itu, saya naik ke mimbar untuk menyampaikan “homili”. Sebelumnya, saya sempat bertanya kepada sejumlah umat yang mengikuti ibadat ini, apakah tersedia Kitab Suci.

Dari sekian banyak umat, ternyata hanya ada tiga orang yang mengaku sudah punya Kitab Suci. Di situ ada sedikitnya 60-an keluarga Katolik.

Karena lokasinya yang sangat terpencil dengan waktu tempuh yang sangat panjang, maka Kitab Suci ini menjadi barang langka di sini.

Kitab Suci yang jumlahnya hanya tiga biji itu pun berhasil didapat sebagai hadiah dari hasil lomba di paroki.

Untuk sedikit menghibur umat yang mengikuti ibadat itu, kami lalu membagikan gambar Kerahiman Ilahi. Kepada mereka, saya berinisiatif menjelaskan cara berdoanya.

Mengunjungi sebuah keluarga di mana nenek mereka tengah terbaring lemah karena sakit.

Mengunjungi orang sakit

Setelah ibadat pagi selesai, salah satu umat lalu datang memberitahu saya. Kami diajak untuk bisa mengunjungi seorang nenek yang sedang terbaring sakit di rumahnya.

Dengan senang hati, kami menuju ke rumahnya dan mendapati nenek itu tengah terbaring sakit. Ia tampak terbaring lemah di situ.

Kepada kami, keluarga itu berkisah bahwa pekerjaan mereka adalah menjadi petani penyadap karet dan berladang.

Syukurlah bahwa di situ belum ada perkebunan sawit. Itu karena di sepanjang perjalanan, masih terlihat hutan rimba dengan batang-batang kayu pepohonan yang sangat besar.

Setelah satu hari berpastoral di Kampung Kenunai, sore harinya kami langsung berpamitan untuk boleh kembali ke pusat paroki.

Meski ini hanya perjalanan sehari saja, namun kami merasa sangat bersukacita. Dalam kondisi serba sederhana dan sangat jauh dari “keramaian” umum, kami telah melihat betapa umat Katolik di sini sangat semangat dalam iman mereka.

Meski tanpa punya Kitab Suci juga.

Panenan aneka sayuran di ladang milik umat.

4 COMMENTS

  1. Pewartaan Injil di pedalaman Kalimantan memang menguras energi yang ekstra. Akan tetapi iman di pedalaman masih sangat butuh disiram. Salut untuk seluruh Pelayan Tuhan yang mampu berkarya ditengah-tengah segala keterbatasan.

  2. Mengenai masalah penggalangan dana untuk perbaikan gereja tersebut hingga saat ini masih belum ada.
    Sempat dibicarakan masalah tersebut kepada pihak paroki, tetapi belum ada tanggapan serius tentang masalah tersebut. Sementara kondisi bangunan tersebut sudah semakin buruk.
    By: Pimpinan umat Stasi Kenunai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here