Pelarian Reva ke Novisiat Susteran

1
235 views
Ilustrasi by ist

PAGI ini pukul 04.11. Reva turun dari bus malam Harapan Jaya di terminal Madiun, Jatim, yang sepi. Tas berisi beberapa potong pakaian, peralatan mandi, dan beberapa dokumen penting dan berharga bertengger di punggung dan totebag berisi dompet, agenda, HP, selampai, dan sebuah kartu nama didekap di dada.

Reva duduk di ruang tunggu terminal. Ditunggunya jarum jam tangan menunjukkan angka 04.35. lalu dihampirinya tukang ojek yang terkantuk-kantuk menunggu penumpang yang semakin sepi akibat harus bersaing dengan ojol, ojek online.

”Maaf Pak, bisa mengantar saya ke alamat ini?,” tanya Reva kepada bapak itu setelah mendongak memandang Reva yang menghampirinya.

Reva menyodorkan kartu nama dengan alamat sebuah Novisiat Susteran.

”Bisa Mbak, mari,” dia berdiri dari tempat duduknya menuju motor Revo miliknya.

”Berapa tarifnya Pak?,” tanya Reva supaya jelas sejak awal dan tidak dikepruk, dipaksa membayar berlebih setelah sampai tujuan.

”Dua puluh ribu Mbak, karena malam. Kalau siang cukup lima belas, mau?,” tanyanya.

“Baiklah,” jawab Reva sambil menerima helm yang disodorkan kepadanya.

Sedikit takut dibukanya  google map untuk memastikan bahwa Reva tidak disasarkan atau dijadikan sasaran kejahatan. Ternyata bapak tukang ojek mengikuti jalur yang sama dengan map. Reva lega dan percaya.

***

Kompleks Novisiat berpagar tinggi dengan gerbang lebar dan tinggi itu tampak sepi dan tertutup rapat. Namun terdengar sayup-sayup Kidung Pujian mengalun. Di samping gerbang tampak pintu kecil untuk satu orang dengan sepeda atau motor.

Reva mengamati ada seorang pria paruh baya masuk melalui pintu itu disusul seorang ibu sambil menuntun sepedanya. Menjelang pukul 05.10 datang seorang romo bermobil  disambut dua ibu membukakan gerbang besar.

Reva menyelinap melalui pintu kecil. Setelah romo dengan tiga ibu dan lelaki paruh baya itu masuk ke dalam kapel, Reva berjalan pelan dan duduk di sudut luar kapel tanpa diketahui oleh siapa pun.

Ia mengikuti misa kudus pagi itu dengan khusuk dari luar kapel. Belum pernah ia bisa mengikuti misa sekhusuk dan sedamai pagi ini.

Pukul 05.47, misa selesai. Reva berdiri tanpa berusaha menunjukkan keberadaannya.  Setelah umat dari luar Novisiat dan romo berlalu, Reva menghampiri suster muda yang mengunci gerbang dan pintu dengan agak kaget karena tidak tahu bahwa  masih ada orang luar setelah misa Sabtu pagi ini.

”Selamat pagi Suster, saya Reva, bisakah saya bertemu dengan pimpinan biara?,” tanya Reva dengan pelan dan sedikit gemetar.

”Mari saya antar,” katanya mendahului langkah Reva dan Reva mengikutinya.

”Tunggu sebentar, saya panggilkan Suster Ignas,” katanya setelah kami sampai di depan kapel.

Reva tidak tahu apa yang dibicarakan suster itu kepada suster yang dipanggilnya Suster Ignas. Tidak terlalu lama, keluar seorang suster berkulit hitam manis dan gagah menghampirinya.

Ini mestinya Suster Ignas. Ia menjabat tangan Reva yang terasa dingin dan membeku. Reva dituntunnya di ruang makan. Diambilkannya segelas teh hangat dan disodorkan kepada Reva.

”Minumlah ini dulu. Saya tahu kamu telah melalui perjalanan panjang dan pergulatan batin yang lebih panjang lagi untuk bisa sampai di sini,” ucap Suster Ignas dengan senyum yang sungguh sejuk dan mampu meluruhkan kelelahan dan ketakutan Reva.

Teh segelas tandas masuk ke kerongkongan Reva dan menghangatkan seluruh tubuh, teristimewa hatinya.

“Dua hari lalu Suster Anas sudah telepon saya. Saya tahu kondisimu. Sekarang istirahatlah, nanti kita makan siang berdua setelah itu kita bicara. Tuhan telah mengirimmu ke mari, tentu tidak akan kami tolak. Itu pasti,” kata-kata panjang Suster Ignas yang membuatku sungguh lega.

*****

“Suster Anas bercerita apa kepada Suster, sehingga Suster mau menerima saya?,” tanya Reva setelah makan siang dan duduk di kursi panjang di samping Suster Ignas.

“Suster Anas hanya menyampaikan bahwa kamu minta alamat Novisiat ini dan akan ke mari. Hanya itu. Saya yakin Suster Anas tidak akan gegabah memberikan alamat ini tanpa pertimbangan matang dan berusaha menolong dan melindungi kamu,” jelas Suster Ignas.

Air mata menggenang di pelupuk mata Reva. Dia harus menguak luka-luka hidupnya yang tragis. Tiga puluh tahun lalu ia bercita-cita menjadi suster, namun bapak-ibu dan suadara-saudara ibunya melarang dan tidak mengizinkan ia menjadi suster.

Kekecewaan akibat cita-citanya dipenggal menghantui jalan hidupnya, apalagi kemudian mengalami penderitaan karena  ibunya yang tidak layak dipanggil ibu, meninggalkan suami dan keempat anaknya demi lelaki lain.

 Tiga tahun kemudian, Reva harus kehilangan kegadisannya karena diperkosa ayahnya yang mabuk dan frustrasi ditinggalkan isterinya. Hidupnya hancur dan disumpahinya bapaknya mati dengan keji.

Sepekan kemudian, sumpah itu berbukti. Ayahnya mati tertabrak truk babi. Umurnya baru empat belas tahun harus menjadi ibu, bapak, kakak bagi ketiga adik lelakinya. Untung ada peninggalan rumah dan asuransi yang diterima dari kematian bapaknya.

Reva bertekun sekolah sambil bekerja menghidupi adik-adiknya. Ketiga adiknya sudah berhasil dan menikah, hidup bahagia bersama isteri dan anaknya.

Sebagai perempuan pertama dalam keluarga, ia harus rela dilompati oleh adik-adiknya yang lelaki, didahului menikah. Rela namun pedih juga. Ia pasrah menjadi tumbal bagi keluarganya, bagi adik-adiknya.

Ketika berumur 17 tahun nasib malang kembali menimpanya. Suami siri ibunya memerkosa dan menganiayanya karena tahu dia sudah tidak gadis dan menganggap dia sejalang ibunya.

Ibunya menambah deritanya karena ia dituduh menggoda lelaki bejat itu. Sungguh malang hidup dengan ibu yang tak punya hati seperti itu.

Ibunya berganti lelaki dan hamil. Anak hasil zinanya diserahkan kepada Reva untuk diasuhnya dan ibunya pergi dengan lelaki lain lagi entah ke mana. Ibunya sungguh-sungguh gila.

Pada usia 22 tahun dengan beban tiga adiknya, ia harus mengurus bayi, dan malangnya bayi ini semakin lama semakin tidak tahu diri. Tingkah lakunya liar seperti ibunya.

Pada usia 16 tahun ia meninggalkan sekolahnya, lari bersama kelompok punk, terlibat asmara dengan lelaki tidak jelas dan lima bulan kemudian kembali dalam keadaan hamil dan minta dinikahkan.

Lelaki brengsek suami adiknya yang pemakai narkoba dan pengedar narkoba ini lebih gila dari semua orang gila.

Sepekan lalu, lelaki itu memperkosa dan menganiaya Reva, ada luka menganga di dada, sehingga ia ditangkap polisi dan Reva terpuruk di sudut rumah sakit. Adiknya datang menambah luka fisik dan batin yang tak terperikan.

Reva sudah gelap mata, dunianya hancur lebur, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia meraba bekas sayatan di pergelangan tangan kirinya yang masih membekas dan akan tetap meninggalkan bekas.  Saat itulah ia berkenalan dengan Suster Anas.

Reva serasa melayang bagai awan gemawan menceritakan kisah kelam hidupnya untuk pertama kalinya kepada orang lain kepada Suster Ignas.

Suster Anas hanya tahu kisah terakhir, karena dalam status pasien tertulis kronologis dia masuk rumah sakit dan mendampingi Reva pada saat pemeriksaan polisi. Ada gumpalan beban yang terangkat, dada terasa lapang.

Peristiwa perkosaan oleh bapaknya kembali membayang. Ia bersimbah darah tertatih menuju kamar mandi dan bapaknya tidak tahu dan sampai mati tidak sadar bahwa ia telah menghancurkan hidup putri satu-satunya.

Empat tahun kemudian aib itu kembali menempel dalam tubuhnya disertai kerut parut yang membekas di perut karena aniaya lelaki ibunya. Dengan susah payah ia berusaha menghapus duka lara itu. Sudah hampir sembuh, namun ternyata kembali ditimpa dengan luka yang sama dengan lebih brutal.

Sungguh Reva selalu merasa mual bila harus menyentuh tubuhnya, ia merasa bahwa tubuhnya pembawa sial. Menyembuhkan luka-luka batin yang begitu parah harus dilalui Reva hampir satu tahun.

Beberapa kali harus mengikuti hipnoterapi untuk menghilangkan trauma dan luka batin serta bisa menerima tubuhnya sebagai karunia Illahi yang layak dikasihi.

***

Senyum cerah membayang dari wajah perempuan berseragam perawat di rumah sakit itu. Reva sudah menyelesaikan pendidikan keperawatan sebagai sarjana keperawatan dan akan mengikuti program profesi nurse.

Ia sudah bisa menerima dirinya yang suci di hadapan Allah. Ia memang tidak bisa menjadi suster namun di rumah sakit ia dipanggil juga dengan suster. Ia memang tinggal di biara, karena tidak ada keberanian untuk kembali hidup di luar biara.

Biara mengizinkannya tinggal mengikuti cara hidup para biarawati. Ia menjadi biarawati awam, karena tidak mengikrarkan kaul. Reva memutuskan untuk tidak akan menikah dan akan mengabdikan seluruh hidupnya bagi kesembuhan sesama.

Suster Ignas dan Suster Anas mendukungnya, walaupun sampai sekarang ia belum memiliki keberanian untuk kembali ke kota asalnya, tetapi ia merasa lari ke tempat yang tepat, menyembuhkan diri bersama bilur-bilur Kristus.

Luka dan darah Kristus menyucikan dirinya dan mengangkat seluruh luka batinnya. Pelariannya telah berakhir dalam pelukan Bunda Maria dari Guadalupe.

1 COMMENT

Leave a Reply to Dyah Kurniawati Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here