Pelita Hati: 07.08.2022 – Waspada, Setia dan Bijaksana

0
846 views

Bacaan: Keb.18:6-9, Ibr.11:1-2.8-19, Lukas 12:32-48

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan. Kata Petrus: “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” Jawab Tuhan: “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. (Luk.12:35-43)

Sahabat pelita hati, 

PELITA sabda hari ini mengangkat tema tentang “kewaspadaan.”  Waspada berarti siap siaga dan siap sedia terhadap segala situasi dan keadaan. Hal ini digambarkan seperti seorang hamba yang harus siap siapa melayani tuannya, dengan pinggang berikat dan pelita bernyala. Karenanya dua kata kunci yang  harus dipegang adalah “setia” dan “bijaksana”. Dua keutamaan yang saling mengandaikan satu sama lain. Semakin setia berarti semakin bijaksana, demikian juga sebaliknya agar tetap setia dibutuhkan sikap bijaksana. 

Sahabat terkasih, 

Kesetiaan adalah sikap dasar yang teramat sangat penting dalam hidup, apa pun panggilannya dan apapun tanggungjawabnya. Kesetiaan menjadi elemen dasar yang dibutuhkan entah dalam hidup berkeluarga, dalam lingkungan kerja maupun di mana pun juga. Gagalnya mahligai perkawinan sebagian besar disebabkan oleh kegagalan dalam menjaga komitmen kesetiaan. Penilaian kinerja pun tak dapat dilepaskan dari kesetiaan. Pertanyaannya, mengapa orang kerap kali gagal untuk setia? Jawabnya adalah karena  kurang bijaksana dalam bersikap dan bertindak. Banyak orang yang tergoda oleh tawaran dunia yang menggiurkan. Kesetiaaan membutuhkan sikap dan kehendak bijak kita. Maka, kini saatnya untuk memperbaharui dan meneguhkan komitmen setia terhadap tanggungjawab panggilan dan pekerjaan kita dan terutama adalah terhadap keluarga kita masing-masing. Semoga kita sungguh menjadi pribadi yang setia dan bijaksana. Selamat hari Minggu dan berkah Dalem.

Membeli sayur tiga ikat,
dimasak tumis enak rasanya.
Hendaklah pinggangmu tetap berikat,
dan pelitamu tetaplah terang nyalanya.
Indah, sejuk dan dingin udaranya,
itulah Taman Doa Maria di Gantang.
Berbahagialah hamba, yang melakukan tugasnya,
ketika tuannya itu datang.

dari Banyutemumpang, Sawangan, Magelang,

Berkah Dalem**Rm.Istata

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here