Pelita Hati: 09.06.2021 – Menggenapinya

0
464 views

Bacaan: 2Kor. 3: 4-11, Matius 5:17-19

Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Sahabat pelita hati,

KEHADIRAN Yesus di tengah-tengah orang Yahudi pada memang membawa ajaran baru atau lebih tepatnya pemaknaan baru terhadap hukum Taurat yang menjadi pegangan dan tolok ukur hidup beragama kala itu. Karenanya beragam reaksi muncul bukan dari khalayak atau orang-orang banyak yang mendengar pewartaan Tuhan tetapi dari kalangan para ahli Taurat atau Farisi yang merasa menjadi pewaris hukum Musa dan lebih paham tentang hukum Taurat. Mereka mengabarkan bahwa Yesus ingin mengganti hukum Taurat. Sebuah tuduhan keji yang mau tidak mau harus diklarifikasi oleh Yesus. Dengan tegas Tuhan berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (ay. 17).  Tegas bahwa Yesus ingin menggenapinya. Apa yang digenapi atau disempurnakan?  Yang digenapi adalah cara memahami dan menghayati hukum Taurat itu. Yesus tidak ingin murid-murid-Nya menjalani hidup keagamaan hanya demi formalitas belaka atau demi aturan dan tuntutan. Menghayati iman dan liturgi harus bersumber pada hati dan memancar serta mewujud dalam hidup sehari-hari. Ketika orang begitu rajin membaca Sabda Suci bahkan rajin mengikuti ibadah setiap hari  tetapi tutup mata terhadap orang-orang yang sedang menderita sejatinya ibadah mereka kosong belaka atau hampa tak bermakna. 

Sahabat terkasih, 

Marilah kita belajar beriman secara benar alias menghayati iman dengan setia sekaligus mewujudkannya dalam perhatian kepada sesama terutama yang menderita. Jika demikian kita pun sedang menggenapi ajaran iman itu dengan ragam macam tindakan kebaikan. Janganlah menghayati iman karena aturan dan tuntutan tetapi karena kerinduan. Rindu mendengarkan Firman dan rindu mewujudnyatakan Firman dalam hidup keseharian.  Dari kawasan lereng Merbabu-Merapi di Sawangan-Magelang, saya mengucapkan semangat pagi dan semangat menggenapi hidup dengan perbuatan kasih di hari ini. 

Memandang jauh ke tengah lautan,
menanti sang pujaan hati.
Iman tanpa perbuatan,
adalah kosong dan mati.

dari Banyutemumpang, Sawangan, Magelang,

Berkah Dalem Rm.Istata

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here