Pelita Hati: 17.02.2021 – Koyakkanlah Hatimu

0
1,491 views

Bacaan: Yoel 2:12-18, 2 Korintus 5:20-6:2, Matius 6:1-6.16-18

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”  Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. (Yoel 2:12-13)

Sahabat pelita hati,

HARI ini kita memulai masa prapaskah yang ditandai dengan ibadah penerimaan abu di kepala kita. Mulai hari ini kita juga memasuki masa pantang dan puasa,  masa untuk olah rohani dan masa tobat. Selama empat puluh (40) hari kita akan mengolah hati dan rohani melalui aneka kegiatan: puasa, pantang, doa Jalan Salib, katekese/pendalaman iman, mengumpulkan derma yang kita kenal dengan APP (Aksi Puasa Pembangunan). Sebagai penanda pertobatan, dalam ibadah Rabu Abu kepala kita ditaburi dengan abu. Inilah saatnya kita menyadari dan mengakui bahwa kita adalah makhluk lemah tak berdaya dan tak berguna di hadapan Tuhan. 

Sahabat terkasih,

Kita akan belajar dari pewartaan Kitab Yoel (bacaan I) dan Injil Matius (Bacaan Injil).

Pertama, dari pewartaan Kitab Yoel kita dibantu untuk memahami, mamaknai dan menghayati pertobatan. Singkatnya, bertobat  itu “mengoyakkan hati” bukan pakaian. Artinya, berpuasa berarti mengolah dan mengendalikan hati, bukan sekedar mengekang dan mengurangi makanan. Pertobatan sejati adalah mengubah sikap hati, dari hati yang suka mencela menjadi hati yang suka membela, dari yang membenci menjadi mencintai, dari congkak hati menjadi rendah hati.

Kedua, injil Matius mengajarkan kita bagaimana sikap berderma atau memberi sedekah yang benar. “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat.6:3-4).

Tuhan mengajarkan kita agar memiliki sikap hati yang tulus dalam melakukan kebaikan, bahkan dengan tangan tersembunyi. Jangan menjadi pribadi yang haus pujian dan mengejar penghormatan. Ajaran Yesus menegaskan hendaknya karya kebaikan itu dilakukan dalam senyap, tak dipertontonkan apalagi dipamerkan. Selamat memasuki masa prapaskah. Selamat berpantang dan berpuasa. Mari kita mengoyakkan hati agar kesombongan dapat berganti dengan rendah hati tulus hati.

Ini kisah para manula,
menikmati indahnya kampung di desa.
Menabur abu di kepala,
tanda tobat di awal puasa.

dari Banyutemumpang, Sawangan, Magelang,

Berkah Dalem Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here