Pelita Hati: 23.04.2018 – Cinta Mati pada Tuhan

0
782 views

Bacaan Yohanes 20:11-18

Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:11-14,16,18)

Sahabat pelita hati,

SALAH satu tanda nyata bahwa orang sungguh mencintai dan mengasihi Tuhan adalah ingin selalu dekat dengan-Nya. Tak sedikit pun memiliki keinginan untuk jauh dari Tuhan. Itulah kurang lebih gambaran hati Maria Magdalena yang sungguh ‘cinta mati’ kepada-Nya. Karenanya ketika orang lain hanya meratapi kisah tragis  penyaliban Tuhan, Maria Magdalena datang ke kubur pagi-pagi benar. Ia ingin selalu dekat dengan-Nya. Walau pun nyatanya ia justru kecewa dan menangis karena jenazah Yesus tidak ada dan ia meyakini dicuri orang. Namun ketulusan cinta dan hatinya  berbuah berkah. Tuhan yang telah bangkit menampakkan diri untuk pertama kalinya kepadanya. Awalnya ia tidak sadar bahwa yang ada di depannya adalah Tuhan, tetapi setelah mendengar Ia memanggil nama “Maria” ia langsung sadar bahwa yang sedang berbicara adalah Tuhan Yesus, Guru yang selama ini ia kagumi sekaligus ia cintai. Sebuah perjumpaan yang mengharukan sekaligus menimbulkan rasa gembira dalam diri Maria Magdalena.

Sahabat terkasih,

Selanjutnya Tuhan melarang Maria untuk memeluk-Nya alias mengungkapkan eforia bahagia dan cinta terdalam-Nya. Tuhan menyuruh Maria agar segera membagikan warta gembira itu kepada orang lain. Artinya, pengalaman iman itu tak boleh hanya dimiliki pribadi, harus diwartakan kepada sesama. Kini perayaan paskah sudah usai, saatnya bagi kita untuk “pergi” dan mewartakan kabar sukacita itu kepada sesama. Kita semua (tanpa kecuali) memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama: mewartakan kebaikan Tuhan ke mana pun dan di mana pun. Mari kita berlomba untuk membawa kebaikan itu kepada sesama.

Wajah manis dan keibuan,
kan slalu jadi idaman.
Mampukan kami ya Tuhan,
pegang teguh kesetiaan iman.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, rm.istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here