Pelita Hati: 31.10.2021 – Hukum Kasih-Hukum Utama

0
728 views

Bacaan: Ul.6:2-6; Ibr.7:23-28; Markus 12:28-31 

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Mrk.12:28-34a)

Sahabat pelita hati, 

HUKUM Cinta Kasih adalah ringkasan ajaran pokok kristiani. Kita harus mengasihi Allah dengan segenap jiwa, hati dan budi serta mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Semangat dasar dari ajaran ini adala melaksanakan cinta kasih yang mengarah pada dua tujuan yakni kepada Tuhan dan kepada sesama. Dengan kata lain hukum cinta kasih ini mengajarkan bahwa cinta kita kepada Allah harus mewujud dalam tindakan kasih kepada sesama. Tak mungkin kita mengasihi Allah namun dalam hidup nyata kita membenci atau bahkan memusuhi sesama.

Sahabat terkasih, 

Faktanya, sering terjadi orang yang sungguh taat berdoa dan beribadah (mengasihi Allah) tetapi membenci dan tak peduli pada sesama? Mengapa ada orang yang rajin menjalankan ibadah agama tetapi bersikap semena-mena terhadap sesama? Inilah sebentuk contoh penghayatan iman yang tidak mewujud dalam tindakan iman. Inilah sebentuk contoh orang yang hidup dengan mulutnya tetapi tidak dengan hatinya. Dengan kata lain, iman tak cukup diungkapkan tetapi harus diwujudnyatakan. Iman tak cukup diucapkan dan dikalimatkan tetapi harus diaplikasikan dalam tindakan.

Sahabat terkasih, 

Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: apakah cinta kita kepada Allah juga mewujud dalam hidup bercinta kasih kepada sesama di dekat kita, di sekitar kita? Atau kah kita masih seperti orang-orang Farisi yang suka hidup berpura-pura dan berhenti pada upacara formal ibadah? Semoga kita mampu menjadikan cinta kasih sebagai jantung hati hidup kita dan menggerakkan hati kepada tindakan kebaikan di mana pun dan kapan pun. Mari kita mulai lagi menebarkan kasih dan perhatian kepada sesama, terutana yang menderita. Di situlah kita sedang menyatakan kasih kita kepada Tuhan.

Jika rajin meminum jamu, 
niscaya sehat sepanjang hari.
Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu,
kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.

dari Banyutemumpang, Sawangan, Magelang,

Berkah Dalem**Rm.Istata

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here