Pemberkatan Pastoran dan Gua Maria Stasi St. Paulus Sungai Lilin, Sumsel (2)

0
299 views
Mgr. Aloysius Sudarso SCJ dan para imam konselebran usai pemberkatan gedung pastoran dan gua Maria di Stasi St. Paulus di Sungai Lilin, Sumsel. (Ist)

RUMPUT hijau yang terhampar di halaman tampak masih basah. Air sisa hujan yang mengguyur pada malam sebelumnya juga masih tampak menggenang di beberapa tempat. Tak jauh dari situ puluhan tenda tampak berdiri kokoh di atas tanah yang juga tampak basah.

Kursi-kursi telah rapih tersusun.

Pagi itu, Minggu (26/1/20) merupakan hari yang istimewa bagi seluruh umat Katolik di Stasi St. Paulus Sungai Lilin, Paroki St. Stefanus Palembang.

Mereka bersukacita karena merayakan Pesta St. Paulus pelindung Stasi Sungai Lilin, pemberkatan gedung Pastoran dan Gua Maria yang baru.

Stasi ini berjarak sekitar 120 km dari pusat Paroki St. Stefanus yang berada di pinggiran Kota Palembang, Ibukota Provinsi Sumatera Selatan.

Teladani St. Paulus: Jaga persatuan

Perayaan syukur yang diawali dengan Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ. Dihadiri oleh sekitar 600-an umat Katolik dari berbagai Stasi yang ada di Paroki St. Stefanus Talang Betutu.

 Romo Makarius Samandi selaku Pastor Paroki dan sejumlah imam lainnya hadir menjadi konselebran.

Bapak Uskup Mgr. Aloysius Sudarso SCJ dan Pastor Paroki Romo Makarius Samandi Pr.

Mengawali homilinya pada Perayaan Ekaristi yang dipusatkan di Gereja Stasi St. Paulus Sungai Lilin ini Mgr. Aloysius Sudarso SCJ menyampaikan bahwa kerinduan akan hadirnya sebuah Pastoran sebagai rumah tinggal para imam di wilayah yang berada di antara Kota Palembang dan Kota Jambi ini telah cukup lama.

Kehadiran Pastoran ini diharapkan mampu menjadikan pelayanan pastoral para imam di tengah umat semakin efisien dan efektif, mengingat jarak pelayanan antar Stasi yang relatif berjauhan.

Selain itu, Bapak Uskup juga berharap agar teladan hidup St. Paulus yang militan dalam beriman, bersemangat dalam mewartakan Injil.

Juga terus-menerus menjaga persatuan jemaat, menyemangati seluruh umat untuk tekun mengembangkan iman di tengah arus zaman.

Lalu mampu menjaga persatuan dalam keberagaman yang ada dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat dengan menjadi sahabat bagi semua orang.

Setelah penerimaan Komuni Kudus selesai, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ kemudian memberkati gedung Pastoran dan Gua Maria yang terletak di belakang gedung Gereja.

Berawal dari keprihatinan

Yoseph Susar selaku Ketua Panitia Perayaan Syukur menuturkan bahwa pembangunan gedung Pastoran ini diawali dengan peletakan batu pertama oleh Romo Makarius Samandi Pr pada 15 Agustus 2018.

Semua berawal dari keprihatinan akan kebutuhan tempat tinggal bagi para imam yang melayani di Sungai Lilin dan sekitarnya.

Sejak Juni 2014, Stasi Sungai Lilin ditetapkan menjadi pos pelayanan pastoral bagi stasi-stasi yang ada di wilayah III Paroki St. Stefanus, yaitu:

  • Stasi Santo Paulus Sungai Lilin.
  • Stasi Santa Maria Ratu Rosario Karang Agung Ulu.
  • Stasi Santo Thomas Air Tanggulang.
  • Stasi Santa Maria Magdalena Sungai Jarum.
  • Stasi Santo Lukas Mukut.
  • Stasi Santo Petrus PTPN VII Bentayan.
Pastoran dan Gua Maria Stasi St. Paulus, Sungai Lilin di Sumsel, sekitar 120 km dari Ibukota Palembang.

Selain itu, dari tempat ini para imam juga melayani umat di stasi-stasi wilayah IV yang berada di Kecamatan Tungkal Jaya dan Kecamatan Bayung Lencir.

Dari pusat paroki, jarak ke Stasi terjauh di Kecamatan Bayung Lencir mencapai 230 km.

Sejak saat itu secara bergantian dalam rentang waktu tertentu imam akan tinggal di Sungai Lilin dan melayani umat di Wilayah III dan Wilayah IV.

Karena keterbatasan tempat, maka Romo Laurentius Rakidi, selaku Pastor Paroki bersama umat berinisiatif untuk memanfaatkan sebuah ruangan gudang berukuran 4 x 4 m yang ada di samping gereja untuk menjadi tempat tinggal Romo.

Uskup dan tokoh Umat dan tarian Ja’i khas NTT.
Uskup Keuskupan Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso dan para tokoh umat.

Ruangan tersebut selain sebagai tempat tinggal juga sebagai ruang kerja, ruang pelayanan administrasi umat, ruang masak, ruang makan dan ruang rekreasi. Satu ruangan untuk semua aktifitas layaknya “anak kos”.

Keprihatinan itulah yang menyemangati umat untuk bekerja sama mewujudkan hadirnya gedung Pastoran.

Aneka tarian wujud keberagaman

Usai pemberkatan, kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan pengguntingan pita oleh Bapka Uskup didampingi perwakilan pemerintah setempat dan Romo Makarius Samandi.

Selanjutnya, mengawali acara ramah-tamah para penari yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Flores (IKF) Kota Palembang menyambut kedatangan Bapa Uskup dan tamu undangan dengan Tarian Ja’i salah satu tarian khas dari daratan Flores Nusa Tenggara Timur.

Serba tarian untuk menunjukkan kemajemukan umat.
Tarian sambutan khas Sumsel dan tarian khas dari Flores.

Di antara tamu undangan tampak hadir dari unsur pemerintah setempat dan para pendeta mewakili sejumlah Gereja Kristen Protestan yang tergabung dalam Persekutuan Gereja-Gereja se-Kecamatan Sungai Lilin, seperti GKPI, GSJA dan GKSBS.

Acara ramah tamah diisi dengan beragam tarian, seperti Tari Sambut khas Musi Banyuasin, Tari Caci dan Ja’i Manggarai NTT, Tari Tor-tor Batak Toba, gerak dan lagu Laskar Kristus oleh anak-anak Sekami dan sejumlah persembahan tarian menarik lainnya.

Kutipan Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus menjadi penyemangat umat dalam menyelenggarakan kegiatan ini.

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2Kor 4:7).

Tarian persembahan anak-anak Sekami dan Umat Katolik dari Sumatera Utara dengan tarian Tor-tor.
Sukacita umat kini memiliki gedung pastoran dan gua Maria di persimpangan jalan rute Jambi-Palembang di Stasi St. Paulus Sungai Llilin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here