Pengaruh Besar Retret Ekologis di Pusat Ziarah Tana Toraja (8)

0
201 views
Memeluk erat batang pohon sebagai wujud mencintai dan melestarikan alam. Ini menjadi salah satu acara pokok program Retret Ekologis di Pusat Ziarah Keluarga Kudus Sapak Bayo-bay Tana Toraja. (Romo Ferry SW)

BERIKUT ini kami sampaikan ungkapan hati syering para peserta program Retret Ekologis di Pusat Ziarah Keluarga Kudus Nazaret Sapak Bayo-bayo di Sangalla, Tana Toraja, Sulsel.

Diselenggarakan untuk mengolah hidup rohani para anggota Credit Union (CU) Sauan Sabarrung. Inilah penuturan isi hati mereka.

Simon Tandigau’ (50): Makin paham akan iman Katolik

Guru di Sangalla’

  • Saya dibaptis pada saat bayi. Saya awalnya belum sama sekali memahami iman Katolik karena dibaptis bayi. Namun, saya berterimakasih kepada orangtua, karena sudah membaptis saya.
  • Iman Katolik baru bisa saya tahu sedikit, setelah masuk usia sekolah (SD). Didapatkan dari guru-guru; secara khusus guru agama Katolik saya, dan juga dari guru Sekolah Minggu saat itu. Pengetahuan boleh bertambah, saat saya beranjak ke SMP, SPG; terlebih setelah menjadi OMK dan Pembina OMK.
  • Setelah saya memahami iman Katolik, saya berupaya menalarkan kepada teman-teman saya, anak-anak di rumah, anak didik sekolah, masyarakat sekitar, dan kepada umat di mana sata domisili, karena saya sekarang Pengantar Gereja Pusat Paroki.

Ira Tangke Siang: Kurangi penggunaan pestisida

TP Rantetayo

  • Saya dibaptis secara Katolik, saat mau menikah dengan pasangan.
  • Pengalaman tentang materi yang saya dapatkan memotivasi saya mengintropeksi diri bahwa ternyata selama ini saya banyak melakukan kesalahan. Saya lakukan dengan mencemari lingkungan, masih mengkonsumsi makanan-makanan yang tidak sehat.
  • Harapan saya kedepan sebagai orang Katolik: “Ingin menjalani pola hidup baru, membangun kesadaran untuk hidup lebih baik dalam bergereja, menyayangi alam sekitar. Dengan tidak lagi menggunakan pestisida dan bahan-bahan kimia, melestarikan lingkungan.”

Yohana Patombe (53): Penggunaan pestisida merusak alam

IRT Palopo

Saya dibaptis sejak bayi, dan menjalani hidup secara Katolik. Sampai sekarang menjalani kehidupan; dengan aktif dalam kegiatan Gereja; dan kalau ada surga dan neraka serta Api Penyucian.

Hal baru yang saya dapatkan:

  • Ajaran-ajaran Bapa Paus.
  • Orang berbuat dosa bisa menyambut Tubuh Kristus.
  • Bisa mendapatkan sumber pengetahuan iman ajaran baru tentang iman Katolik lewat medsos, bisa membuka fitur-fitur baru tentang iman Katolik.
  • Orang non Katolik meninggal tetap bisa didoakan oleh mereka yang ingin mendoakan.
  • Tidak merawat bumi dengan baik adalah dosa ekologis.

Menggunakan pestisida untuk tanaman adalah perbuatan tidak bijak. Karena bisa merusak tanah, membunuh berbagai binatang di lahan sawah; secara perlahan merusak masa depan anak-cucu kita.

Menjadi umat orang Katolik lebih baik dengan percaya akan ajaran-ajaran baru, bertani bijak, merawat bumi dengan banyak menanam dan menggunakan pupuk organik.

Agustinus Medardus (58): Mari konsumsi beras organik

dari Makale

  • Dulu sebagai orang Katolik, saya percaya bahwa ada neraka (untuk yang tidak bisa bertobat). Sekarang saya paham, maksud Bapa Paus, jika ada dosa, maka kita akan masuk api penyucian untuk selanjutnya masuk surga.
  • Pertanian organik. Beras organik lebih murah daripada beras yang menggunakan racun.
  • Dulu saya masih biasa menggunakan insektisida, herbisida untuk mengatasi masalah. Ke  depan saya akan lebih serius lagi untuk menggunakan cara-cara organik.

Petrus (57): Menjadi baik tidak harus jadi pastor

Pengawas Sekolah Kabupaten Tana Toraja

Ketika saya mulai menyadari akan hakikat agama iman Katolik, bagi saya Katolik itu wadah buat saya membangun komunikasi dengan Tuhan. Juga bagaimana agar hidup lebih saleh. Maka saat saya di seminari, saya pernah ingin menjadi pastor.

Dengan berjalannya waktu, pemahaman saya tentang (iman) Katolik bukan sekedar hidup saleh, tetapi lebih pada bagaimana hidup menggereja tidak harus menjadi pastor. Ternyata awam juga bisa aktif menggereja.

Hari ini saya belajar di Sa’pak Bayo-bayo  dalam retret yang diberikan oleh Pastor Ferry, Katolik tidak sekadar liturgi, rajin ke gereja dan aktif di gereja. Menjadi Katolik berarti harus membuka diri dan melangkah ke jalan menemukan sesama dan lingkungan alam. Maka, ke depan saya akan menjadikan alam semesta sebagai wadah mengasihi Allah dan lingkungan.

Chatarina Tandiayuk (65): Jangan buang sampah sembarangan

Pensiunan dari Mengkendek

  • Saya menjadi Katolik awalnya karena dibaptis atas keinginan orangtua yang sudah Katolik dan  kemudian hidup di lingkungan yang mayoritas Katolik
  • Saya memahami iman Katolik lewat materi yang saya terima kemarin yaitu mencintai alam; lebih mengutamakan cinta kasih tidak mengadili sesame, karena Tuhan saja maha pengampun.
  • Selama ini saya melihat orang yang bercerai sama sekali tidak boleh terima komuni.
  • Saya lebih mau memelihara alam, menghindari pestisida dan tidak membuang sampah secara sembarangan.

Matius Pakonglean (52): Jadi Katolik bertanggungjawab kelestarian alam

Petani di Rembon

Bagi saya, (menjadi) Katolik itu istimewa. Maka, saya masuk Katolik dan dibaptis pada usia remaja. Nantinya, saya akan memperoleh keselamatan dari Allah.

Semakin meneguhkan bahwa apa yang saya lakukan selama ini adalah benar. Karena mengolah tanah tanpa pestisida itu menjaga kesuburan tanah agar hasilnya juga sehat.

Seorang katolik ikut bertanggungjawab menjaga lingkungan hidup dengan tekun menanam pohon dan mengajak orang lain.

Martinus Pasa’ti (46), Menjadi petani ramah lingkungan

Petani Mengkendek

Saya menjadi Katolik sejak kecil karena baptis dari kecil. Menjadi Katolik merupakan suatu kebahagiaan bagi saya dan keluarga. Karena “Gereja Katolik” adalah satu-satunya gereja yang didirikan langsung oleh Yesus.

Saya mau mengikuti semua aturan Gereja katolik; terutama dalam hal mengampuni, mengasihi termasuk merawat dan memelihara alam semesta dengan bijaksana.

Dan saya sebagai petani akan lebih semangat dalam bertani secara ramah lingkungan.

Kristofol Rudi (50), Pentingnya Pertobatan Ekologis

Wiraswasta dari Palopo

Saya dibaptis sejak bayi dalam keluarga Katolik. Sejak kecil saya aktif di gereja menjadi misdinar, Orang Muda Katolik; menikah dan menjadi pengurus gereja dan pelatih koor.

Setelah mengikuti retret di sini, saya menjadi sadar bahwa menjadi aktivis Gereja saja tidak cukup. Tapi saya harus lebih aktif melakukan pertobatan ekologis dan memperbaiki lingkungan menjadi lebih baik. Setelah pulang dari retret ini, saya akan lebih fokus untuk bertani bagi keluarga dan diri sendiri agar saya menjadi lebih sehat dan dapat membagikan ilmu pertanian yang saya miliki kepada masyarakat luas.

Regina Saung (53), pentingnya lingkungan hijau

Ibu Rumahtangga dari Rembon

Saya dibaptis bayi karena orangtua Katolik dan dididik dalam keluarga yang beriman Katolik sampai dewasa. Saya menikah dengan seorang pemuda Katolik; punya anak dua puteri yang saya didik juga dalam iman katolik.

Yang saya pahami selama ini tentang ajaran Katolik itu baik di mana kita harus rajin berdoa, rajin ke gereja, membantu yang miskin, memelihara lingkungan, tidak membuang sampah plastic sembarangan, tidak menebang pohon kalau tidak menanam.

Sekarang saya menjadi sadar pentingnya memelihara lingkungan sekitar, hidup lebih baik dan sehat untuk anggota keluarga dengan menanam sayur-mayur yang organik, beras organik.

Jadi disamping keluarga sehat, hemat pengeluaran, simpanan bertambah dan dapat ditiru orang-orang sekitar tempat tinggal.

Jadi, sekarang saya juga tidak hanya aktif di gereja stasi, tapi saya harus keluar jalan-jalan bersama orang lain untuk menjaga, memelihara lingkungan yang bersih dan sehat.

Damianus Pasangka (38), Jadi Katolik berbelas kasih

Wiraswasta di Palopo

  • Bagi saya menjadi Katolik sejak baptis bayi merupakan hal yang baru. Beranjak dewasa mempelajari dan mengetahui banyak hal tentang kekatolikan dari berbagai sumber.
  • Hal yang baru dari Paus Fransiskus yang saya dapat adalah Jika Allah maha rahim, maka tidak ada satu pun kuasa yang dapat menghakimi seorang yang berdosa.
  • Menjadi seorang katolik dengan keterbukaan terhadap sesama, lebih berbelas kasih.

Lusiana Barung (32): Jangan lagi suka tebang pohon

Petani, ibu rumahtangga dari Mengkendek

  • Saya menjadi katolik karena saya dimotivasi oleh orang lain yang sudah Katolik. Pendapat saya tentang Katolik selama ini sangat luar biasa; karena di agama Katolik ada 7 sakramen yang tidak dimiliki lain.
  • Dari materi yang saya pelajari tadi malam tentang Katolik, semoga saya dapat memahami bagaimana cara mencintai alam semesta.
  • Ada beberapa hal yang saya harus lakukan dalam mencintai alam semesta secara iman katolik, yaitu saya harus mengajak orang-orang di sekitar saya untuk tidak menebang pohon sembarangan, membuang sampah pada tempatnya, membakar sampah-sampah plastik, dan mengkonsumsi makanan bebas dari pestisida; dengan cara menanam sayur-sayuran sendiri dengan memakai pupuk organik.

Marianus R (59): Mari peduli alam sekitar dan kurangi penggunaan pestisida

Dari Rembon

  • Saya menjadi Katolik karena keinginan orangtua; saya dibaptis sejak masih bayi. Namun demikian saya selalu bangga menjadi orang Katolik; dengan iman katolik banyak sarana yang dapat membantu saya untuk berdoa dan menjalin hubungan dengan Tuhan.
  • Sejak kemarin dalam retret, saya mendapat banyak ilmu yang sangat bermanfaat untuk pembentukan karakter saya menjadi orang yang lebih bisa bersyukur dengan apa yang saya miliki dan membagi belas kasih dengan semua orang yang saya temui sehari-hari.
  • Ke depannya harus menjadi orang yang selalu dekat dengan alam dan peduli dengan alam sekitar dan mengurangi penggunaan pestisida.

Yulpi Barrang (53): Jangan lagi cermai lingkungan sekitar

Ibu rumahtangga dari Rantetiku

  • Saya menjadi Katolik karena orangtua beragama katolik dan sampai sekarang bangga menjadi Katolik. Karena setiap doa-doa dan permohonan saya dikabulkan oleh Tuhan lewat perantaraan Bunda Maria.
  • Pendapat saya tentang Katolik adalah mencemari lingkungan adalah merupakan dosa dan menyadari adalah bahwa neraka adalah buatan manusia.
  • Setelah ini saya tidak akan membuang sampah dengan sembarangan dan memisahkan sampah organik dan plastik.
Proses diskusi dalam program Retret Ekologis di Tana Toraja. (Romo Ferry SW)

Yuliana Ka’pan (49)

Bidan, ASN di Pare-pare

  • Yang saya pahami menjadi orang Katolik dari lahir sampai sekarang, karena dari kedua orangtua sudah beragama katolik dan mendidik, membesarkan anak-anaknya secara Katolik.
  • Pemahaman menjadi katolik sekarang ini yaitu semakin di teguhkan dalam iman dan cinta Tuhan dan membangun kesadaran dan pertobatan ekologis.
  • Menjadi orang katolik yaitu ingin mengampuni sesama, berbelas kasih menolong sesama yang membutuhkan pertolongan.

Yohana Birana (61): Ajakan berbuat baik

Pensiunan, Komite Palopo

Saya dibaptis masih bayi. Agama Katolik bagi saya adalah baik dan agama warisan orangtua.

Agama Katolik bagi saya untuk ke depannya ialah ingin membuka diri berbuat baik bagi sesama dan bagi lingkungan hidup dan mengajak orang untuk berbuat baik.

Diana Baso’ Salinding (26): Stop mengadili orang lain

Guru di Rantetayo

Saya baptis Katolik saat bayi. Saya belum tahu apa-apa, tetapi karena didikan dan arahan orangtua bertumbuh dalam iman Katolik. Seiring berjalannya waktu saya mulai aktif disekami, misdinar, dan sampai sekarang aktif di OMK dan menjalankan apa yang saya dapatkan dalam iman Katolik.

Hal baru yang saya terima adalah bahwa kita manusia sering kali menjadi orang yang suka mengadili sesama, karena perilaku dan tindakan mereka. Contoh kongkrit dalam kehidupan, sebagai guru sekolah dasar kerap kali saya mengadili siswa. Hanya karena hal-hal yang mereka lakukan tidak sesuai dengan yang saya harapkan, melakukan hal-hal yang tidak mencerminkan kebaikan.

Saya sering berfikir bahwa saya harus mengadili mereka agar mereka mengetahui kesalahan mereka dan menjadi lebih baik. Namun yang saya dapatkan lagi pagi ini, janganlah kita menghakimi, mengadili sesama kita, karena Allah saja Maha Pengasih.

Harapan saya ke depannya saya mau kembali menjadi baik dan mengubah tindakan dan perbuatan yang selama ini mungkin saja membawa dampak buruk bagi kehidupan saya dan sesama. Memanfaatkan lingkungan dengan baik.

Diskusi untuk saling memperkaya hidup dan niat baik di masa depan. Inilah yang terjadi di dalam program Retret Ekologis di Tana Toraja. (Romo Ferry SW)

Margaretha Saribunga’ (52): Mari konsumsi sayuran sehat

Petani, ibu rumahtangga di Sangalla’

  • Saya baptis anak-anak, menjadi orang Katolik yang belum memahami tentang ajaran agama Katolik itu sendiri.
  • Harapan saya menjadi orang Katolik adalah mencintai alam semesta dengan mengelolah dengan baik, berbuat baik kepada sesama lewat tindakan atau perbuatan, lebih bersemangat menjalani hidup sebagai orang Katolik.
  • Pengalaman: waktu yang lalu sering membeli sayuran yang tidak sehat, tetapi setelah ada sosialisasi tentang makanan yang sehat, maka saya sendiri mau menanam yang jauh lebih sehat, dengan menggunakan pupuk organik.

Hery Mellolo (52): Bertobat dengan tidak tebang pohon

Guru di Makale

Katolik bagi saya, dibaptis dewasa. Sejak itu, saya mendalami dan memahami bahwa ternyata kaya dengan ragam ibadahnya; berupa beberapa sakramen yang tidak dilaksanakannya di gereja yang lain.

Hal baru yang saya temukan di mana keadaan iklim yang sudah mulai ekstrim yang kita rasakan, dengan iklim yang panas yang mempengaruhi kehidupan dan hasil bumi dengan adanya penggunaan bahan kimia yang menyebabkan lingkungan hidup berubah. Ini adalah ketidaksadaran setiap manusia yang mau serba instan dan pola hidup yang modern. Namun ternyata kita tidak sadari bahwa ini akan berdampak terhadap anak cucu kita 7-8 tahun ke depan.

Ini sangat mengerikan bagi kita manakala kita membayangkan bagaimana jadinya ke depan. Pertobatan saya dengan hal ini adalah mengajak keluarga untuk mencintai alam, tidak menebang pohon atau  berusaha menanam pohon dan kerusakan dan tidak menggunakan bahan kimia untuk memusnakan hal yang dianggap hama bagi kita.

Niko Salea (48): Ke depan semakin teguh

Dari Makale

Saya katolik dari kecil dan seiring dengan waktu sampai saat ini masih menjadi Katolik. Semoga ke depan kekatolikan saya bisa dipegang dengan teguh.

Joni Rupang (44): Menjadi pengampun

Wirausaha dagang dari Sangalla’

  • Dibaptis dewasa, bangga menjadi orang Katolik.
  • Arti menjadi katolik adalah menjadi seorang katolik yang mau mengampuni.

Alce Ma’tan (59): Tanam banyak sayuran

Ibu rumahtangga dari Bone-bone

Saya baptis bayi di gereja lain dan masuk Katolik saat menikah, karena pasangan (suami) adalah Katolik. Jadi perkawinan kami adalah perkawinan atolik.

Saya bangga menjadi Katolik karena sederhana, tidak banyak  yang membatasimu  dan dapat relasi dari kaum awam dan kaum religius (tidak ada perbedaan); semua sama jadi tidak ada keraguan.

Melalui pencerahan materi mengikuti dari sesi pertama meyakinkan saya untuk lebih banyak berbuat, maka saya dalam melaksanakan kerja di rumah wajib mengarahkan anak-anak untuk dapat memelihara dan merawat tanaman sayur-sayuran dipekarangan rumah dan menata kebersihan di rumah; juga belanja berhemat misalkan mengatur waktu lebih efektif, mengatur belanja rumahtangga.

Harapan bisa hidup bahagia, karena menurut ajaran Paus bahwa cara kita harus melayani, bergembira, dan dapat meyakinkan orang lain untuk menjadi mentor atau penggerak demi terwujudnya kehidupan yang sejahtera.

Merasakan dan mengalami pengaruh besar Retret Ekologis di Pusat Ziarah Keluarga Nazaret Tana Toraja. (Romo Ferry SW)

Rosdiana (50)

Ibu rumahtangga di Padang Sappa

  • Saya bangga di Katolik ada persaudaraan sejati. Terpelihara nyata, ketiksa ada kegiatan di paroki, tidak ada pengelompokan yang kaya dan miskin.
  • saya bangga jadi katolik dan percaya adanya api penyucian.
  • Saya ingin jadi Katolik yang punya belas kasih.
  • Saya ingin jadi contoh jaga ramah lingkungan dan jadi petani organik.
  • Saya akan selalu mengampuni saat kita mengalami kekecewaan hidup.

Ester Alla’ Batan (43)

Ibu rumahtangga di Rantepao

  • Saya masih kecil dibaptis jadi Katolik. Jadi saya mendalami Katolik dan mulai saya pergi ikut kegiatan Sekolah Minggu, OMK. Saya menikah dengan orang Katolik.
  • Hal yang saya temukan tadi malam adalah bercerita sama teman-teman tentang pengalaman dan tang kita buat selama ini. Tadi pagi kita ketemu dengan cerita Romo yang begitu betul-betul mengerti dengan orang katolik.

Deci Adil Paonganan (51): Menanam untuk lingkungan lebih hijau

Ibu rumahtangga di Rantepao

Saya baptis  bayi, bersyukur menjadi orang katolik yang ajarannya dan didikannya sendiri oleh Tuhan Yesus. Saya bangga walaupun kita orang berdos,a masih ada doa atau pertobatan yang selalu mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki diri. Juga memahami ajaran Paus yang sungguh mencintai umatnya dengan kembali selalu mengajarkan umat manusia untuk memaknai ajaran Kristus yang Maharahim dan selalu mengampuni.

Maka untuk ke depannya, saya akan mempraktikkan sendiri, ke depannya akan merubah diri. Semoga menjadi contoh bagi orang lain. Dulunya rajin menanam bayam, sekarang akan rajin menanam tumbuhan yang berfungsi untuk ramah lingkungan dan terutama untuk kesehatan.

Yulius Ruruk (57): Menjadi influencer ekologi

ASN di Palopo

  • Saya baptis bayi,  mulai memahami iman Katolik  setelah menginjak bangku sekolah, semakin menghayati iman katolik setelah dewasa, hidup berkeluarga dan berkarya sebagai ASN dan terlibat di CU.
  • Dalam nilai-nilai inti CU, sudah tertulis tentang Ramah Lingkungan yang saya pahami  sama dengan ekologis. Pertemuan sejak hari kemarin sampai hari ini, saya semakin diteguhkan dengan diskusi-diskusi ekologis dan berharap setelah retret ini sedapat mungkin bisa mempengaruhi orang lain untuk mulai ramah lingkungan.
  • Kembali meningkatkan usaha-usaha penggunaan pupuk-pupuk organik untuk tanaman-tanaman sayur-mayur di sekitar rumah semisal pekarangan.

Baca juga: Retret Ekologis dengan Prosesi Jalan Salib yang Tidak Biasa di Tana Toraja (7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here