Pengurbanan Menjadikan Hidup Indah

0
381 views
Ilusttrasi: Pengorbanan seorang bapak untuk keluarganya. (Romo Suhud SX)

Rabu, 10 Agustus 2022

  • 2Kor. 9:6-10.
  • Mzm. 112:1-2,5-6,7-8,9.
  • Yoh. 12:24-26.

HIDUP itu sangat indah, jangan biarkan berlalu sia-sia. Keindahan hidup tidak melulu terkait dengan memenuhi apa yang menjadi keinginan kita, melainkan ketika kita kehilangan ambisi dan nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri.

Keindahan itu tampak ketika karena pengurbanan kita orang lain bahagia dan Tuhan dimuliakan.

Allah menghendaki agar hidup setiap manusia itu bermanfaat dan produktif, terutama bagi yang lain.

Hidup yang demikian tidak mungkin terwujud, tanpa orang berani menjalani proses dan ambil risiko terburuk sekalipun.

Karena dalam hidup ini sebenarnya entah besar atau pun kecil selalu ada risiko yang harus dibayar.

Orang bilang, “tidak ada cinta sejati tanpa ada pengurbanan”; “Tidak ada kesuksesan tanpa ada penderitaan”.

“Saya justru menemukan makna dari perjalanan hidupku ini pada saat saya mengalihkan tujuan hidupku,” syering seorang bapak.

“Jika sebelumnya saya mengejar kesenangan dan keinginan diri sendiri, lalu aku mulai memperjuangkan apa yang jadi harapan isteri dan anak-anakku,” lanjutnya.

“Kebahagiaan selalu memenuhi hatiku, manakala saya melihat senyum dan keceriaan isteri dan anak-anakku karena kehadiranku,” paparnya.

“Sebelumnya saya lebih banyak menggunakan waktu dengan hobiku, bersama kawan-kawan,” ujarnya.

“Kesenangan yang memerlukan banyak biaya, dan waktu hingga kadang saya melupakan isteri dan anak-anakku yang sangat merindukan kehadiranku,” katanya.

“Sejak saya mengikuti week-end rohani, saya diingatkan bahwa mengejar kesenangan hanya menumbuhkan satu cabang tentang keberadaan diri sendiri, namun saya mengerdilkan cabang dan ranting keluarga, isteri dan anak-anakku,” lanjutnya.

“Sejak saat itu, saya berupaya memberi perhatian supaya cabang dan ranting keluarga tumbuh lebih subur daripada diriku sendiri,” tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

Bagi Yesus, tiada kebangkitan tanpa kematian di salib.

Yesus tahu bahwa itulah kenyataan, kebenaran, dan kehendak Allah sendiri.

Piala yang seperti itu tidak akan berlalu, tetapi harus diminum oleh Yesus.

Dalam praktik hidup sering muncul adanya suatu pertentangan antara keakuan diri dan kehendak Allah.

Kadang kita terlalu mengutamakan keinginan dan hobi pribadi kita daripada kebahagian bersama.

Yesus bersedia menanggung segala penderitaan dengan mati di kayu salib yang hina, kemudian jatuh ke dalam tanah seperti biji gandum yang bersedia ditanam. Namun, kemudian tumbuh untuk menghasilkan gandum yang berkelimpahan dan manusia dapat menikmati dari panenan gandum yang berkelimpahan, yang tadinya hanya satu biji gandum.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku rela berkorban demi kebahagiaan sesama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here