Penyambung Lidah Tuhan

0
1,041 views

Bacaan 1: Yer 1:1. 4-10
Injil: Mat 13:1-9

DALAM dunia perpolitikan negara kita, pernah mendengar sebuah julukan yang disematkan kepada “Sang Proklamator” Ir. Soekarno yaitu “Penyambung lidah rakyat”.

Pada masanya, Soekarno termasuk orang yang istimewa. Ia memiliki visa besar Nusantara. Diplomasinya tingkat tinggi, orasinya mampu menghipnotis setiap orang yang mendengarnya.

“Bung Karno memiliki gagasan menjadikan Indonesia yang luar biasa, tetapi menyatukannya tidak mudah, ia sadar Indonesia adalah negara dan bangsa yang besar,” kata Permadi seorang pengagum Soekarno.

Karya kebangsaannya berlevel “Magnum Opus” (karya terbaik seniman).

Soekarno mendapatkan julukan sebagai “Penyambung lidah rakyat” karena ia mampu menampung aspirasi dan keinginan rakyat indonesia yang sebenarnya.

Nabi Yeremia dipanggil Allah untuk menjadi “Penyambung Lidah Tuhan”. Ia dipanggil menjadi nabi untuk menyuarakan firman-Nya kepada bangsa-bangsa. Padahal saat itu, Yeremia masih muda dan merasa tak pantas mendapat pengutusan itu.

“Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.”

Jika Tuhan sudah memulai maka Ia pula yang akan menyelesaikannya.

Yeremia yang merasa tak mampu diberinya enam kuasa dunia terhadap bangsa-bangsa, yaitu:

• Mencabut
• Merobohkan
• Membinasakan
• Meruntuhkan
• Membangun
• Menanam

Dalam perumpamaan “sang penabur”, Tuhan Yesus menceritakan kisah benih yang diharapkan tumbuh berkembang. Namun dari keempat jenis lahan yang diterimanya, benih hanya bisa tumbuh dan berkembang di tanah yang baik dan subur.

Benih adalah perumpamaan “sang penyambung lidah Tuhan”, ia diutus untuk menyebarkan firman-Nya agar bertumbuh dan berkembang sehingga berbuah banyak. Banyak orang semakin mengenal Allah, bertobat dan mendapat kasih karunia hidup kekal.

Pesan hari ini

Seorang Katolik diutus bermisi menjadi “penyambung lidah Tuhan”. Mewartakan kabar sukacita-Nya, agar bertumbuh, berkembang dan semakin banyak orang mengenal-Nya.

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here