Percaya, Meski Tidak Melihat

0
284 views
Ilustrasi: Percaya kepada Tuhan. (Ist)

Sabtu, 2 Juli 2022

Ef.2:19-22.

Mzm.117.1.2.

Yoh. 20: 24-29.

KEPERCAYAAN akan mampu mengatasi keraguan dan mengembalikan cinta yang memudar.

Kepercayaan akan selalu menghadirkan kemantapan langkah dalam menentukan arah hati.

Hal itu bisa terjadi karena kepercayaan itu tidak terjadi begitu saja atau tidak diberikan secara cuma-cuma, tetapi diperoleh melalui proses panjang dalam relasi kehidupan ini.

Sebagian besar orang akan lebih bahagia ketika seseorang memercayai mereka dengan mata yang sepenuhnya terbuka daripada mencintai secara membuta.

Kita akan merasa dihargai jika dipercaya karena keunikan diri, apalagi jika seseorang telah mengetahui sosok kita yang sebenarnya, bukan dari ekspektasi ideal persepsi dirinya sendiri.

Karena sejatinya kita ini tidak membutuhkan semua orang mencintai kita, tetapi cukuplah jika orang lain bisa percaya pada kejujuran hati kita.

Seorang bapak dan ibu mensyeringkan perjalanan rumah tangganya.

Sejak menikah, karena alasan pekerjaan harus hidup berjauhan.

Waktu-waktu yang tidak mudah itu bisa dilalui karena mereka punya komitmen yang kuat dan memberi kepercayaan penuh pada pasangannya.

Mereka sungguh menyadari kerapuhan yang masing-masing ada dalam pribadinya, maka mereka tidak mau gegabah dan sembrono dalam melangkah.

“Jauh dari pasangan itu tidak mudah, sepi dan banyak godaannya, jika tidak kuat dan hati tidak bersih maka kejatuhan akan mudah terjadi,” kata ibu itu yang amini oleh suaminya.

“Banyak orang yang sengaja memancing dan ingin menarik kita ke dalam permainan perasaan dengan mereka dan tindakan tidak setia,” lanjutnya.

“Jika tidak hati-hati, semuanya akan hancur,” lanjutnya lagi.

“Proses menjadi kuat dalam hati untuk menjaga diri dalam kesetiaan itu, bukan karena orang lain namun karena diri sendiri yang selalu menyadari betapa besar kepercayaan yang diberikan oleh pasangan saya,” sambung bapak itu.

“Dengan kepercayaan yang ada, saya bisa melangkah bebas dan benar tanpa dihantui oleh kecurigaan,”terusnya.

“Sesuatu yang sungguh kami alami yakni jika kita bisa bertanggungjawab dengan kepercayaan yang diberikan pada kita, kitapun jauh dari rasa curiga, cemburu dan rasa penasaran,” ujarnya

“Setia dan bisa dipercaya itu indah namun sungguh perlu perjuangan yang sangat berat,” ujarnya lagi.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian

Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Percaya akan sesuatu itu tidak perlu menuntut bukti karena kalau kita sudah melihat bukti berarti kita tidak perlu percaya.

Untuk mempercayai Tuhan Yesus yang bangkit, yang penting bukan bukti tetapi tanda yang mempengaruhi perubahan secara total: dari putus asa menjadi bersemangat, takut menjadi pemberani dan berani bersaksi.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan padaku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here