Percik Firman: Kesiapsediaan untuk Mengasihi

0
126 views

Jumat, 29 Mei 2020

Novena Roh Kudus Hari ke-8

Bacaan Injil: Yoh 21:15-19

“Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: ‘Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? ” (Yoh 21:17)

Sdri/a yang terkasih,

MERENUNGKAN bacaan Injil pada Novena Roh Kudus hari ke-8 hari ini, saya teringat akan sebuah lagu yang berjudul, “MELAYANI, MELAYANI LEBIH SUNGGUH”: 

“Melayani, melayani lebih sungguh/ Melayani, melayani lebih sungguh/ Tuhan lebih dulu melayani kepadaku/ Melayani, melayani lebih sungguh.

Mengasihi, mengasihi lebih sungguh/ Mengasihi, mengasihi lebih sungguh/ Tuhan lebih dulu mengasihi kepadaku/ Mengasihi, mengasihi lebih sungguh.

Mengampuni, mengampuni lebih sungguh/ Mengampuni, mengampuni lebih sungguh/ Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaku/ Mengampuni, mengampuni lebih sungguh”.

Melayani, mengasihi dan mengampuni adalah tiga hal yang penting dalam hidup beriman Kristiani. Tuhan Yesus menghendaki kita agar melakukan tiga hal tersebut. Dia sendiri sudah memberikan contoh kepada kita terlebih dahulu secara total dengan perkataan, tindakan dan hidupnya sendiri.

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menantang komitmen Simon Petrus dalam mengikuti-Nya. Sampai tiga kali Tuhan Yesus menyampaikan pertanyaan kepada Petrus. Tentu hal ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? ”

Untuk mengikuti Yesus dan menjalankan tugas perutusanNya, pertama-tama para murid dituntut untuk punya kesiapsediaan mengasihi-Nya. Bukan pertama-tama kemampuan yang luar biasa, bukan kehebatan, bukan pula prestasi. Tetapi sekali lagi disponibilitas atau kesiap sediaan untuk mengasihiNya. Untuk bisa melayani, dibutuhkan kasih yang tulus. Untuk bisa mengampuni, juga dibutuhkan kasih yang tulus. 

Karena apa? Karena Allah Bapa kita adalah Allah yang penuh kasih. Allah adalah kasih. Deus caritas est. God is love. Hal ini ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI. Pada tanggal 25 Desember 2005, Paus Benediktus XVI mengeluarkan ensikliknya yang pertama, yang berjudul “Allah adalah Kasih” (=Deus Caritas Est). 

Paus ingin menempatkan semua yang ia pikirkan, lakukan, putuskan – seluruh karya penggembalaannya – dalam rangka mewartakan bahwa Allah adalah Kasih. Mengapa ini begitu penting? Ditegaskan Bapa Suci, “Dalam dunia, di mana nama Allah kadang-kadang dikaitkan dengan balas dendam atau bahkan kewajiban akan kebencian dan kekerasan, pesan ini amat aktual dan mengena”.

Keyakinan iman bahwa Allah adalah Kasih, merupakan buah dari kontemplasi Santo Yohanes yang dinyatakan dalam suratnya yang pertama : “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh 4:8.16). Allah inilah yang “lebih dahulu mengasihi kita”. Pengalaman akan kasih Allah itu menjadikan banyak orang sebagai pribadi-pribadi yang utuh, matang, dan kudus. 

Pertanyaan refleksinya, Apakah Anda pernah merasakan pengalaman dikasihi Allah? Bersediakah Anda dilibatkan Tuhan dalam karya kasihNya di dunia dewasa ini? 

Mohon doanya agar test masuk ke Seminari Menengah Mertoyudan gelombang ke-2 tanggal 28-30 Mei 2020 ini berjalan dengan baik dan lancar. Test dilakukan secara online, baik test potensi akademik maupun test wawancara. Ini pertama kali dalam sejarah Seminari. Karena adanya wabah virus Covid-19, terobosan baru dilakukan untuk menjaring para calon imam. 

Formasi panggilan menjadi imam harus tetap berjalan terus. Covid-19 jangan sampai menghalangi tumbuhnya benih-benih panggilan dalam Gereja.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here