Percik Firman : Meski Tidak Sempurna

0
126 views

Jumat Pertama, 2 Juli 2021

Bacaan Injil: Mat. 9: 9-13

“Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: ‘Ikutlah Aku’”

Saudari/a ku ytk.,

ADA seorang bapak yang sharing tentang panggilan anaknya yang di seminari. Sampai sekarang sang bapak belum bisa memahami kehendak Tuhan kenapa anaknya dipanggil menjadi (calon) imam. Ia sadar keluarganya tidak sempurna. Masih banyak kekurangan dan kelemahan. 

Lalu saya meneguhkan: “Itulah misteri ilahi, pak. Panggilan itu misteri. Tuhan tidak menuntut yang sempurna. Dengan menjadi imam, anak bapak bisa menjadi berkat untuk keluarga”.

Hal ini mengingatkan saya akan pernyataan Paus Fransiskus. Paus Fransiskus dalam ajaran Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) mengungkapkan, “Tidak ada keluarga jatuh dari surga dalam bentuk sempurna. Keluarga perlu terus bertumbuh dan dewasa dalam kemampuan mencintai…semoga kita tidak patah semangat karena keterbatasan kita” (AL 325).

Pada kesempatan lain, Paus Fransiskus mengungkapkan dalam Sinode Keluarga, “Tidak ada keluarga yang sempurna. Kita tidak punya orang tua yang sempurna; kita tidak sempurna; tidak menikah dengan orang yang sempurna; kita juga tidak memiliki anak yang sempurna. Kita memiliki keluhan tentang satu sama lain. Kita kecewa dengan satu sama lain. Oleh karena itu, tidak ada pernikahan yang sehat atau keluarga yang sehat tanpa olah pengampunan. Pengampunan adalah penting untuk kesehatan emosional kita dan kelangsungan hidup spiritual”.

Bacaan Injil pada hari Jumat Pertama di bulan Juli hari ini mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus memanggil Matius seorang pendosa. Ia dipanggil menjadi rasul Yesus dan menulis Injil Matius. Ia seorang Yahudi yang bekerja sebagai pemungut cukai. Pada zaman itu pemungut cukai dibenci, dicap negatif, dan dianggap hina oleh masyarakat. Pemungut cukai sering dikelompokkan sebagai ‘orang berdosa’. 

Mengapa mereka dibenci atau dianggap hina? Karena mereka bekerja sebagai penagih pajak untuk pemerintah Romawi dan menjadi kaki tangan penjajah. Mereka memeras rakyat dengan cara menaikkan pajak dan mengkorupsi kelebihannya.

Yesus memanggil seorang pemungut cukai, yang adalah orang yang hina dan tidak sempurna. Kalau Anda adalah orang yang dianggap hina oleh masyarakat, janganlah takut untuk datang kepada Yesus! Jangan malu mendukung anak-anakmu menjawab panggilan Tuhan. Dan hai, teman-teman muda, jangan ragu untuk mempersembahkan dirimu untuk menjadi imam, suster atau bruder.  

Jangan malu untuk dilibatkan Tuhan dalam karyaNya. 

Jangan malah kita menjadi ‘sastra gedheg’ atau ‘prawira muntir’ atau ‘jaya endha’. Artinya, memilih menghindar dan mbulet dengan berbagai alasan untuk menolaknya…hehehehe…

Tuhan tidak menuntut kesempurnaan dari kita, tetapi meminta kesiapsediaan (disponibilitas) kita untuk dibimbingNya dan dilibatkan untuk pengembangan Gereja-Nya. Bisa dilibatkan menjadi prodiakon, ketua lingkungan, pengurus dewan paroki/stasi, lektor, misdinar, organis, imam, suster, bruder, tim caos dhahar rama, dsb.

Pertanyaan refleksinya, pernahkah Anda mengalami dicap negatif oleh orang-orang di sekitarmu? Bagaimana reaksi Anda atas penilaian orang lain itu? 

Marilah kita belajar dari Yesus yang berbelaskasih. Dia datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Hati Yesus yang Mahakudus, kasihanilah kami.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari MeSRA (Merto Spiritual Rest Area). # Y. Gunawan, Pr

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here